Menguak Naskah Pangeran Wangsakerta Lewat Filologi

0
662
Undang Ahmad Darsa menjelaskan mengenai Naskah Pangeran Wangsakerta pada acara bertajuk seminar Membuka Kembali Eksistensi Naskah Pangeran Wangsakerta, Jumat (16/3). (Lily Fajriyanti/Warta Kema)

Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (PAMASS) menggelar seminar bertajuk Membuka Kembali Eksistensi Naskah Pangeran Wangsakerta, pada Jumat, 16 Maret 2018, di Aula Gedung D Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Padjadjaran (Unpad). Seminar itu menghadirkan narasumber Dr. Undang Ahmad Darsa, Koordinator Program Studi Sastra Sunda sekaligus seorang filolog.

Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (PAMASS) membawakan pentas kecapi dan suling sebelum presentasi Naskah Wangsakerta dimulai, Jumat (16/3). (Lily Fajriyanti/Warta Kema)

Dipersilakan oleh Erlambang, moderator seminar, Undang memulai bahasan dengan menampilkan salindia materi. “Karena pesertanya mahasiswa, jadi saya bicaranya (tentang naskah) dari bobot akademis,“ ujarnya mengawali bahasan. Peserta yang hadir saat itu bukan hanya mahasiswa Sastra Sunda, tapi juga alumni dan mahasiswa dari jurusan lain.

Undang menjelaskan istilah filologi terlebih dahulu karena naskah Pangeran Wangsakerta merupakan objek penelitian para filolog. Filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Naskah Pangeran Wangsakerta merupakan salah satu bahan tertulis yang diteliti oleh filolog, salah satunya oleh Prof. Edi S. Ekadjati yang disusun dalam buku Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta.

Selanjutnya, Undang memperkenalkan anatomi naskah dan jenis kertas yang dipakai untuk menulis naskah pada zaman dulu. Seperti kertas Cina yang teksturnya halus dan agak lembek karena bercampur serat sutra, dan kertas Daluwang atau kertas Arab yang berbahan kulit pohon “saeh.“

Naskah Pangeran Wangsakerta dianggap sebagai polemik karena terlalu modern pada zamannya dan terlalu berbau sejarah. Undang mengatakan, naskah Pangeran Wangsakerta ini menyebutkan sumber atau rujukan. Ada rumor yang menuduh naskah Pangeran Wangsakerta dibuat oleh orang yang telah membaca semua tulisan sejarah ilmuwan masa kini.

“Ada tiga sikap pandang yang muncul. Pertama, keberadaan naskah-naskah itu dianggap palsu dan bukan karangan Pangeran Wangsakerta pada akhir abad ke-17 Masehi. Kedua, naskah-naskah tersebut benar disusun Pangeran Wangsakerta. Ketiga, keberadaan naskah-naskah tersebut tergantung, tidak ditemukan jalan penyelesaiannya,“ jelas Undang.

Namun, menurutnya, hal itu belum tentu benar karena tidak dikenal adanya naskah palsu, melainkan naskah asli dan naskah salinan. Selain itu, Undang juga mengungkapkan kemungkinan mengenai bahan dan naskah. “Kan ada bahan baru, tapi teks lama,“ tambahnya.

Berkenaan dengan naskah Pangeran Wangsakerta yang di dalamnya terdapat sistem rujukan atau citation, Undang berpendapat Pangeran Wangsakerta adalah seorang yang berpikiran maju pada zamannya. Selain itu, adanya kemungkinan Pangeran Wangsakerta meniru sistem rawi hadits yang didapat dari pedagang-pedagang Arab yang datang, mengingat saat itu Cirebon merupakan puseur bumi (pusat ilmu pengetahuan dan pusat ilmu Islam).

Dalam sesi tanya jawab, Ai Hayati, alumnus Universitas Pendidikan Indonesia bertanya tentang kedudukan naskah Pangeran Wangsakerta sekarang. “Naskah Pangeran Wangsakerta kanggo sumber primer tiasa dianggo atanapi heunteu? (Naskah Pangeran Wangsakerta untuk sumber primer bisa dipakai atau tidak?)“ tanyanya memakai bahasa Sunda halus. Merujuk penjelasannya tentang tiga sikap terhadap naskah-naskah Pangeran Wangsakerta sebelumnya, Undang mengatakan hal itu terserah pada pandangan penanya. Undang juga menambahkan pentingnya pandangan sejarah.

Salah seorang peserta bertanya mengenai Naskah Pangeran Wangsakerta pada acara bertajuk seminar Membuka kembali eksistensi Naskah Pangeran Wangsakerta, Jumat (16/3). (Lily Fajriyanti/Warta Kema)

Mochamad Luqman, mahasiswa Sastra Rusia FIB Unpad, bertanya terkait kepentingan naskah dan struktur teks yang ditulis Pangeran Wangsakerta. “Terlepas dari palsu atau tidaknya naskah tersebut, kepentingan politik budaya apa yang dibawa (Pangeran Wangsakerta) dengan menulis (naskah) di abad itu (abad ke-17)? Karena kan teks itu selalu beroperasi dengan politik budaya. Nah, apa sih kepentingannya?” tanya Luqman.

Undang menjelaskan naskah biasa dipakai sebagai alat propaganda dan alat adu domba. Saat itu, Pangeran Wangsakerta menulis naskah itu untuk menulis sejarah mengenai situasi geopolitik sistem kerajaan yang bergeser menuju kesultanan. “Wangsakerta ingin menulis sejarah leluhurnya yang tidak subjektif,“ jawab Undang.

Selain di Unpad, naskah Pangeran Wangsakerta juga pernah didiskusikan di tiga forum diskusi di Universitas Tarumanegara (1988), Universitas Padjadjaran (1989), dan Universitas Pasundan (1989). Kali ini, PAMASS berupaya memperkenalkan kebudayaan Sunda, perjuangan nenek moyang di zaman dulu, dan polemik naskah Pangeran Wangsakerta melalui seminar dari kacamata filologi.

 

Reporter: Dina Juwita

Editor : Rini Ria Agustiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here