The Satanic Verses: Penistaan, Surat Cinta, Pengkhianatan, dan Kebebasan Berpendapat dari Salman Ruhdie

0
464

Judul                  : The Satanic Verses

Penulis                : Salman Rushdie

Penerbit              : Vintage

Tahun Terbit         : 1988

Jumlah Halaman   : 547 halaman

 

Language is courage: the ability to conceive a thought, to speak it, and by doing so to make it true.”

Setelah pesawat tujuan London yang ditumpangi Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha dibajak teroris dan meledak di udara, Gibreel Farishta, seorang aktor terkenal Bollywood, mengalami banyak hal baru dalam hidupnya. Pertama, kedatangannya ke London untuk mengejar Aleluia Cone dan pengalamannya di kota Jahilia.

Setelah jatuh dari udara, Gibreel menemukan dirinya mendarat di gunung Cone dan bertemu dengan Mahound yang sedang menanti malaikat Jibril untuk bertanya apakah Lat, Manat, dan Uzza adalah malaikat atau anak-anak Tuhan. Gibreel yang sedang kebingungan dengan jati dirinya bingung dan memutuskan mengaku menjadi penyampai wahyu Tuhan, malaikat Jibril. Di bagian-bagian selanjutnya, Gibreel selau muncul di dua tempat: London dan Jahilia.

Berbeda dengan Gibreel Farishta, Saladin Chamca, bintang dubbing, yang berada dalam pesawat yang sama jatuh di tempat lain, di pesisir pantai Inggris dalam keadaan selamat. Namun, lama kelamaan ia mempunyai ekor, tanduk, dan berbulu. Chamcha berubah menjadi makhluk menyeramkan dan dianggap berbahaya. Saat bertemu dengan Gibreel, Chamcha meminta bantuan namun Gibreel tidak membantunya agar kembali normal. Tidak hanya berubah menjadi makhluk menyeramkan, sekembalinya dari India, ia menemukan istrinya berselingkuh dengan teman baiknya.

The Satanic Verses, novel keempat Salman Rushdie ini menuai banyak kecaman karena “mengganggu” kepercayaan agama Islam dengan merepresentasikan sosok nabi Muhammad melalui karakter bernama Mahound, seorang pedagang yang menjadi nabi dan membawa agama baru bernama submission. The Satanic Verses juga menyajikan keraguan mengenai validitas ayat Alquran berdasarkan kemampuan Mahound mengidentifikasi suara asli malaikat penyampai wahyu.

Novel realisme magis ini menyajikan keraguan akan kebenaran Alquran dan nabi Muhammad ini dengan teknik parodi dan satir. Dengan pilihan teknik tersebut, The Satanic Verse dianggap sebagai novel yang menistakan kepercayaan Islam. Salman Rushdie sebagai penulis The Satanic Verses pun mendapat banyak kritik dan kecaman hingga fatwa mati dari Ayatullah Khomeini. Hingga saat ini, kematian Rushdie dihargai 600.000 USD oleh Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC). The Satanic Verses juga dilarang beredar di berbagai negara.

The Satanic Verses menganggap sebagian ayat Alquran yang dipercaya umat Muslim sebagai kebenaran dari Tuhan, sebagai kumpulan ayat yang datang dari setan karena nabi Muhammad salah mengidentifikasi suara setan sebagai suara malaikat Jibril. Narator dalam The Satanic Verses merujuk pada “the incident of satanic verses in the early career of the Prophet, and the politics of Prophet Muhammad’s harem after his return to Mecca in triumph.

Kendati banyak orang menganggap The Satanic Verses menistakan ajaran agama Islam, beberapa orang melihat The Satanic Verses dalam perspektif lain. Salah satunya Feroza Jussawalan yang dalam penelitiannya menyebutkan bahwa The Satanic Verses adalah dashtan-e-dilruba atau surat cinta dari Rushdie. Dashtan-e-dilruba sendiri, dalam sastra Urdu dan Persia, merujuk pada cerita yang dibuat untuk yang tercinta yang menceritakan mengenai apa yang tidak bisa ia dapatkan dari yang tercinta itu. Hal itu mengingat Salman Rushdie yang mempunyai latar belakang Islam secular begitulah Islam dipraktikkan di India. Dalam kata lain, Rushdie merupakan korban dari kondisi di zaman post-modern.

“it [The Satanic Verses] was a story he [Rushdie] created for a beloved, his religion, which he could not “have,” because of both his ambivalent postcolonial relationship and his Indianized secular Muslim attitudes, a beloved who was going to be disappointed by the tale and yet for whom and out of his love for whom he creates the particular dastan.”

M.M. Slaughter dalam “The Salman Rushdie Affair: Apostasy, Honor, and Freedom of Speech” juga berpendapat bahwa The Satanic Verses merupakan bentuk kebebasan berpendapat dari Salman Rushdie untuk mengkritik kepercayaan Islam yang sangat tidak disetujuinya. Salah satu contohnya adalah kritik terhadap ajaran Islam yang tetap “memuja” nabi Ibrahim, padahal ia meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat tanpa air. Rushdie berpendapat jika harusnya Hajar-lah yang harus dipuji karena Hajar berjuang untuk hidup dan untuk Ismail.

Selain itu, The Satanic Verses juga dianggap sebagai pengkhianatan pada kepercayaan oleh Mazrui dalam artikel jurnalnya yang berjudul The Satanic Verses or a Satanic Novel? Moral Dilemmas of the Rushdie Affair. Ia juga berpendapat bahwa The Satanic Verses bukan menyoal pada penistaan, akan tetapi mengenai perbedaan kebudayaan dan ideologi di masyarakat Barat dan masyarakat Muslim. Ketika tradisi liberal di Barat menempatkan prioritas individu, tradisi Islam menyajikan pandangan komunitarian yang konsep individunya diwujudkan secara kolektif dalam komunitas Islam dan didefinisikan melalui tradisi dan konsep kehormatan.

The Satanic Verses, walaupun dalam aspek keagamaan sangat meresahkan dan membuat banyak pengikut Islam marah, namun beberapa ornag melihatnya dengan perspektif berbeda surat cinta dan pengkhianatan serta perspektif yang sudah biasa dibahas seperti poskolonialisme. Namun yang pasti, The Satanic Verses merupakan satu bentuk keraguan dan kritik Rushdie pada sebagian ajaran Islam, agama, Tuhan, dan dunia.

“Question: what is the opposite of faith?

Not disbelief. Too final, certain, closed. Itself a kind of belief.

Doubt.” (hal. 92)

 

(Dina J)

Editor: Rini Ria Agustiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here