Di Tanah Lada: Tempat Kebahagiaan Berada

0
509
Foto (Goodreads)

Judul                         : Di Tanah Lada

Penulis                      : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit               : 2015

Jumlah Halaman         : 244 Halaman

 

“Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut.”

Setelah Kakek Kia meninggal, keluarga Salva (Ava) mendapatkan uang warisan sangat banyak, namun bukannya semakin bahagia, kehidupan Ava justru semakin buruk. Ava dan Ibunya dipaksa pindah oleh Papanya ke Rusun Nero, rusun kumuh di tengah kota. Uang warisan dari Kakek Kia pun digunakan Papa Ava untuk berjudi. Di hari pertama mereka tinggal di Rusun Nero, Papa Ava sudah pergi berjudi dan membawa ibunya. Mereka meninggalkan Ava yang masih enam tahun sendirian.

Saat membeli ayam goreng, Ava bertemu dengan anak laki-laki pengamen bernama P. Ya, namanya hanya satu huruf. P yang melihat Ava kesulitan untuk makan membantunya memakan ayam goreng. Di situlah persahabatan Ava dan P dimulai. Ava juga membuat nama pasang untuknya dan P. Salt dan Pepper, garam dan lada, Salva dan P. Persahabatan mereka tambah kuat saat mereka tahu mereka memiliki beberapa kesamaan, yaitu tinggal di Rusun Nero dan punya Papa yang jahat.

Hari-hari Ava selanjutnya semakin buruk. Papanya selalu mengamuk sampai Ava mengunci dirinya dan tidur di kamar mandi. Papa Ava juga mengamuk karena melihat Ava tidur di koper, di tumpukan pakaian-pakaiannya. Ia berusaha menjepit Ava dengan koper, namun hal itu dicegah dengan bantuan tetangga-tetangganya. Setelah kejadian itu, Ava dan ibunya pergi dari Rusun Nero dan tinggal sementara di hotel bersama paman dan tantenya.

Ava yang ingin mengambil kamus hadiah dari Kakek Kia kembali lagi ke rusun dan bermain dengan Pepper setelah itu ia juga berkunjung ke rumah Pepper dan kamar kardus tempat Pepper tidur untuk bersembunyi dari Papanya. Papa Pepper yang ada di rumah mulai marah saat melihat Pepper dan membakar tangan Pepper dengan setrika, sontak melihat kejadian tersebut Ava menolongnya dengan memukulkan gitar yang ada didekatnya ke kepala Papa Pepper. Setelah kejadian tersebut Pepper segera dibawa ke UGD setelah mereka meminta bantuan Kak Suri tetangga dekat kediamannya dan penghuni Rusun Nero lainnya.

Setelah kejadian itu, Ava dan P memikirkan kehidupan mereka. Papa mereka yang jahat, Ibu Ava yang terkadang lupa pada Ava. Semua hal yang terjadi pada mereka. Mereka sedih dan memutuskan untuk pergi ke rumah Nenek Isma, nenek Ava, karena ingin tinggal di tanah lada, tempat yang mereka pikir akan membuat mereka bahagia. Perjalanan Ava dan Pepper inilah yang memberi banyak kejutan.

Ada banyak hal yang menarik dari novel ini. Walaupun narator dalam novel ini adalah seorang anak kecil berusia enam tahun, tapi Di Tanah Lada berhasil menyajikan konsep-konsep dan pemikiran yang dalam tentang kehidupan dan kasih sayang. Salah satunya adalah reinkarnasi yang sering dibicarakan Ava dan Pepper. Dengan kepolosan khas anak-anak, Ava dan Pepper sering membicarakan kehidupan mereka selanjutnya yang ingin menjadi penguin, bahkan badak bercula satu.

“Mas,” panggilku… “Penguin, tuh, hidupnya lama, nggak, sih?”

“Nggak tahu,” gumam Mas Alri. “Kayaknya, sih, lumayan. Kenapa memangnya?”

“Nggak apa-apa,” balasku, murung. “Soalnya, tadinya, kalau penguin hidupnya lama, aku mau reinkarnasi jadi penguin sama Pepper.” (Hal 186-187)

Di Tanah Lada juga menyajikan cerita yang ironis. Isu sosial seperti kekerasan terhadap anak-anak, kekerasan dalam rumah tangga, dan kecenderungan bunuh diri tersaji apa adanya dari mata anak kecil yang masih polos dan tidak mengerti apapun yang terjadi kepadanya. Ava hanya tahu jika ia punya papa yang jahat, begitu juga Pepper. Kedua tokoh tersebut juga memandang semua papa di dunia ini jahat dan bingung jika ada papa-papa yang baik pada mereka.

“Mungkin karena nanti aku juga akan jadi papa. Kalau aku jadi papa, kan, aku juga jadi jahat. Tapi, kalau sudah jadi papa, nggak ada yang bisa menghukum aku. Makannya, Papa menghukum aku dari sekarang. Mumpung masih bisa” (Hal 160).

Walaupun tema yang diangkat novel ini gelap, tetapi pembaca masih bisa tertawa (walupun pakai getir) dengan kepolosan-kepolosan Ava dan Pepper tentang banyak hal. Kekesalan pada orang-orang dewasa di sekitar Ava dan Pepper juga bukanlah hal yang bisa dihindari. Di akhir cerita Ava dan Pepper merasa bahagia, bukan hanya karena mereka ada di tanah lada, di tempat kebahagiaan ditanam, tetapi karena mereka bersama-sama. Walaupun bahagia, tetap saja novel ini diakhiri dengan sesuatu yang mengejutkan.

Di Tanah Lada merupakan salah satu karya Ziggy yang memenangkan tempat kedua di Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014. Ziggy juga dikenal dengan novel Semua Ikan di Langit-nya yang menjadi juara pertama kompetisi menulis yang sama pada 2016. Karya lainnya seperti Jakarta Sebelum Pagi juga dipilih menjadi karya fiksi terbaik Indonesia 2016 versi majalah Rolling Stone. Karya terbarunya, Continuum juga sudah dapat dinikmati pembaca.

 

(Dina J)

Editor: Rini Ria Agustiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here