Hidup di Pukul Dua Pagi

0
280
Ilustrasi: style.tribunnews.com

Pukul dua pagi
Orang-orang berbicara, tertawa, beberapa berteriak kencang seperti cambuk kusir yang kudanya tak pernah mau berlari
Suara kerumunan memenuhi setiap ruang di telingaku.

Aku tidak ingat lagi suara hening malam dan jangkrik-jangkrik
Panas, gerah, peluh meluruhi tubuh yang terduduk di tengah-tengah pembaringan

Pukul dua pagi
Sorot mata berpasang-pasang memandang aku yang masih terduduk bungkuk
Tajam, kejam, berapi-api.
Tidak bisakah mereka menunggu sebentar?
Sialan!

Pukul dua pagi
Kupejamkan mata di kerumunan mereka

Pukul dua pagi
Orang-orang semakin banyak berbicara, tertawa, beberapa berteriak kencang seperti cambuk kusir yang kudanya tak pernah mau berlari
Suara kerumunan memenuhi setiap ruang di telingaku.

Aku tidak ingat lagi suara hening malam dan jangkrik-jangkrik
Panas, gerah, peluh meluruhi tubuh yang terduduk di tengah-tengah pembaringan

Pukul dua pagi
Sorot mata berpasang-pasang memandang aku yang masih terduduk bungkuk
Tajam, kejam, berapi-api.
Tidak bisakah mereka menunggu sebentar?
Bajingan!

Pukul dua pagi
Memejamkan mata selalu lebih sulit dari sebelumnya

Pukul dua pagi
Orang-orang terlalu banyak berbicara, tertawa, beberapa berteriak kencang seperti cambuk kusir yang kudanya tak pernah mau berlari
Suara kerumunan memenuhi setiap ruang di telingaku.

Aku tidak ingat lagi suara hening malam dan jangkrik-jangkrik
Panas, gerah, peluh meluruhi tubuh yang terduduk di tengah-tengah pembaringan
Anjing!

Pukul dua pagi lebih dua puluh menit
tidak tuntas
 

Oleh: Nara, (Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran)

 

Editor: Lia Elita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here