Fenomena Golput dalam Pesta Demokrasi

0
258
Ilustrasi. (Foto: ed)

Debat Calon Presiden 2019 yang berlangsung pada 30 Maret lalu merupakan debat keempat yang jadi salah satu bagian dari perhelatan pesta demokrasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Debat ini membahas topik tentang ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional. Namun, nampaknya semakin banyak pula pihak-pihak yang tak hirau mengenai dinamika Pilpres 2019 ini, bahkan menurut survey dari Indikator Politik Indonesia, potensi jumlah pemilih golput saat ini mencapai 20 persen.

Secara umum, dapat ditarik garis besar bahwa golput merujuk kepada mereka yang mempunyai hak pilih, tetapi secara sadar memilih untuk tak menggunakannya. Alasan terjadinya golput pun beragam. Mulai dari rasa kecewa terhadap kinerja kandidat-kandidat terpilih sebelumya, ketidakpuasan terhadap tindakan politik para pasangan calon (paslon) yang saling sindir, beredarnya hoaks, ketidakcocokan ideologi, hingga kekecewaan dengan sistem politik Indonesia secara keseluruhan. Ironi demokrasi Indonesia yang terus berkembang ini dapat kita lihat dari beberapa tagar ajakan golput di media sosial hingga munculnya fenomena Nurhadi-Aldo.

Lalu apakah mahawasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) termasuk bagian dari masyarakat yang memilih golput?

Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang tidak ingin disebutkan namanya, menganggap dirinya adalah salah satu dari potensi pemilih golput dari hasil survey Indikator Politik Indonesia. Ia mengatakan, kedua paslon sama-sama baik sehingga ia berencana untuk mencoblos kedua paslon saat di Tempat Pemungutan Suara (TPS) nanti. Ia juga menambahkan, fenomena golput ini dilatarbelakangi oleh terlalu banyaknya hoaks atau berita bohong yang tersebar sehingga membuat pemilih semakin tidak yakin dengan paslon Presiden dan Wakil Presiden.

Mahasiswa FIB lainnya yang juga tidak ingin disebutkan namanya, berencana untuk golput namun dengan alasan yang berbeda. Ia berpendapat, paslon pertama memanfaatkan wakilnya untuk menggaet massa dan paslon kedua hanya membanding-bandingkan serta menjatuhkan kinerja paslon pertama. Hal itu menunjukkan kampanye Pilpres 2019 ini tidak berlangsung sehat dan membuatnya tidak tahu siapa yang lebih baik untuk dipilih. Narasumber juga menyinggung tentang visi dan misi kedua paslon yang seharusnya lebih ada pengaruhnya bagi generasi milenial, agar mereka sebagai penyumbang persentase suara paling besar bisa lebih berpartisipasi dalam memilih.

Begitu pula dengan AA (inisial), mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang juga memilih untuk golput. AA menganggap kedua paslon memiliki kekurangan signifikannya masing-masing, seperti Jokowi yang tidak mampu menyelesaikan janji politiknya ketika Pilpres 2014 silam dan Sandiaga Uno yang ia percayai hanya mencari ketenaran dan uang semata. “Lagi pula, kedua pasangan calon memiliki visi yang tidak jauh berbeda, misi dan program yang juga mirip-mirip, lalu apa yang harus saya dipilih dari keduanya?” ujar AA.

Lain halnya dengan Safana, mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi. Ia sangat menyayangkan orang-orang yang golput untuk Pilpres karena kesempatan memilih hanya ada sekali dalam 5 tahun. Safana mengatakan, partisipasi dalam memilih calon Presiden merupakan keharusan dan kewajiban bagi warga negara Indonesia. Safana juga menambahkan, ada negara yang diambil alih kekuasaannya oleh negara asing dan memproyeksikan hal tersebut dapat terjadi pada Indonesia, jika masih ada tipe masyarakat apatis dan tidak peduli dengan politik di Indonesia.

Secara hukum, golput dapat dikatakan sah karena dilindungi Pasal 28 UUD dan Pasal 23 UU tentang HAM . Meski begitu, Dosen Ilmu Politik Idil Akbar, S.IP., M.IP. menilai tindakan golput mahasiswa tetap tidak dapat dibenarkan dan sangat disayangkan. “Mahasiswa yang bersikap cuek dengan keadaan politik dan realitas hari ini, akan menyulitkan diri mereka sendiri. Cepat atau lambat mereka akan menjadi pemimpin dan akan lebih sulit dalam melakukan advokasi-advokasi politik,” paparnya.

Menurutnya, mahasiswa seharusnya memanfaatkan teknologi dan berupaya berpikir dengan kritis. Jika visi misi dan program paslon tidak jauh berbeda, maka cobalah menggunakan metode SWOT pada setiap rencana program kerja yang dipaparkan kedua paslon untuk melihat mana program yang lebih masuk akal dan mana yang tidak. Mereka yang golput dianggap telah melepaskan tanggung jawabnya dalam menentukan nasib negara selama lima tahun ke depan. “Mahasiswa jangan malas mencari profil kedua paslon serta perbanyak diskusi dengan orang-orang yang lebih mengerti,” pungkasnya.

Reporter: Jihan Fadhila/Alifia Nur Z

Editor: Hayfa Rosyadah/Lia Elita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here