Asosiasi BEM Soshum Unpad Gelar Aksi Kamisan: Perjuangan Belum Usai

0
154
(Foto: Amel)

JATINANGOR, Warta Kema – Asosiasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) rumpun Sosial dan Humaniora (Soshum) menggelar Aksi Kamisan yang bertajuk ‘Dewan Perwakilan Siapa?’ pada Kamis (26/9) di Booklyn Barat, Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Sumedang. Aksi yang diinisiasi oleh BEM FISIP, BEM FIB, BEM FH, BEM FIKOM, dan BEM FEB ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa Unpad terkait kondisi demokrasi Indonesia saat ini.

Sebelumnya, lebih dari 800 mahasiswa Unpad telah menggelar Aksi Nasional Indonesia Berduka di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pada Selasa (24/9) guna mengkritisi sikap pemerintah yang dianggap telah mencederai demokrasi. Hal ini terjadi setelah pemerintah mengesahkan Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menyusun Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) dengan banyak pasal karet. Tuntutan ini terus berlanjut dengan diselenggarakannya Aksi Kamisan kali ini, namun disampaikan dengan konsep yang berbeda.

“Secara tujuan itu berbeda ya. Kalau ke DPR, kita menuntut supaya suara kita didengar. Kalau di sini targetnya bukan untuk menekan, tapi untuk mencetuskan kepada KEMA Unpad mengenai permasalahan yang terjadi dan mengajak teman-teman untuk menyuarakan aksinya lewat mimbar bebas,” ujar Riezal Ilham Pratama, Ketua BEM FISIP Unpad 2019.

Pertunjukkan lakon seseorang yang terkurung di dalam kandang ayam sebagai ilustrasi pelemahan KPK. (Foto: Amel)

Sementara itu, Muhamad Alim, Ketua BEM FIB Unpad 2019 menambahkan, Aksi Kamisan ditujukan supaya isu-isu terkait revisi undang-undang dan melemahnya demokrasi tidak menjadi isu yang selewat. “Alangkah baiknya kita sama-sama menggalang solidaritas untuk menjaga kewarasan bahwa reformasi di negara ini sedang digerogoti,” ujar Alim.

Aksi Kamisan dimulai pada pukul 16.00 WIB. Beberapa peserta aksi mulai melakukan orasi lewat mimbar bebas. Aksi Kamisan juga diikuti dengan pertunjukkan lakon seseorang yang terkurung di dalam kandang ayam. Lakon ini merupakan simbol hilangnya kemerdekaan KPK atas disahkannya Revisi Undang-Undang KPK sebagai salah satu tuntutan yang dibawa dalam Aksi Kamisan. Rangkaian aksi berakhir pada pukul 17.30 WIB dengan dikumpulkannya tanda tangan petisi.

 

Melalui Aksi Kamisan ini, diharapkan masyarakat Unpad dapat lebih kritis terhadap kebijakan pemerintah dan lebih menyadari arti penting demokrasi. “Di dalam demokrasi, kedaulatan itu milik kita bersama. Kalau suara kita sudah tidak didengarkan lagi oleh pemerintah, berarti kedaultan kita sudah dicederai,” jelas Riezal. “Jangan sampai kita lewatkan momentum besar ini untuk melakukan perubahan,” pungkas Alim.

 

Penulis: Allisa Salsabilla Waskita & Chantika Auliana

Editor: Hayfa Rosyadah/Lia Elita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here