Ilustrasi mengenai kegiatan The Butterfly Project, yang kian gencar dilakukan untuk mencegah terjadinya kegiatan self harm. (sumber : Deviantart.com)

Tak dapat dipungkiri, masalah akan terus menghantui manusia sampai kapanpun. Masalah bisa datang darimana saja dan tak mengenal waktu kapan ia akan menyapa. Perihal masalah, hal ini bisa menimpa siapa saja dan menghancurkan apa saja. Memang tidak semua masalah berakhir buruk, namun tidak ada orang yang senang ketika dihampiri masalah, bukan?

Faktanya, banyak orang menganggap masalah yang datang merupakan cobaan yang tak berujung. Kebanyakan orang terlalu memikirkan dan menyalahkan diri mereka terhadap masalah yang mereka hadapi. Sayangnya, bukan cahaya di ujung lorong yang mereka temui, mereka malah terperosok semakin dalam di jurang kegelisahan yang kian gelap.  Tak jarang, manusia mencari pelampiasan ketika masalah tengah menyapa, alasannya untuk melampiaskan apa yang ia rasakan.

Bukan rahasia lagi, jika self harm menjadi salah satu cara yang acap kali dianggap sebagai jalan pintas. Alasannya sederhana, karena melukai diri sendiri dengan benda tajam dirasa dapat mengurangi rasa sakit yang dimiliki. Nyatanya tindakan ini  sangat berbahaya dan bisa saja merenggut kehidupan yang mereka miliki. Oleh karena itu, banyak orang yang memutuskan untuk mulai menanamkan kepedulian dan turut serta mengambil sikap agar permasalahan ini tak kian carut marut.

Salah satunya dengan The Butterfly Project. Kegiatan ini merupakan salah satu aksi kepedulian terhadap tindakan self harm, dengan cara menggambar kupu-kupu di tangan. Harapannya, kegiatan ini mampu memotivasi dan mendukung individu yang ingin melakukan self harm agar berhenti melukai dirinya sendiri.

 Kegiatan yang digalakan oleh Demick dan kawan-kawannya dari badan amal N-compas yang bermarkas di Lancashire, Inggris ini telah terbentuk sejak lima tahun silam. Alasannya sederhana, rasa prihatin akibat hasil identifikasinya bahwa terdapat banyak remaja yang tumbuh dengan melukai dirinya sendiri. Demick dan kawan-kawannya menyuarakan kampanye ini dengan memberikan sesi konselingke berbagai sekolah maupun perguruan tinggi.

“Kami telah melihat peningkatan yang sangat besar, dan Inggris memiliki masalah yang jauh lebih besar daripada tempat lain seperti di Eropa. Masalah yang mendasarinya sangat berbeda untuk tiap individu. Bisa masalah keluarga, kehilangan dan berkabung, pelecehan, ataupun intimidasi, ” Terang Demick.

“Tapi hasilnya sama, orang-orang muda menemukan diri mereka tidak mampu mengatasi, kewalahan dan kehilangan semua harga diri dan kepercayaan diri mereka dan merasa terisolasi dan sendirian. Ini bisa menjadi dunia yang sulit bagi orang-orang muda saat ini. Melukai diri sendiri menjadi cara untuk meringankan tekanan, walau hanya sebentar. ” lanjutnya.

Ilustrasi kegiatan The Butterfly Project (sumber : pinterest.com)

Bagaimana aturan mainnya?

Ketika dorongan untuk menyakiti diri sendiri semakin kuat, maka ambil spidol atau alat gambar lainnya dibandingkan mengambil benda yang tajam. Sesuai dengan namanya The Butterfly Project ini mengharuskan kita menggambar kupu-kupu di lengan, tak lupa beri nama kupu-kupu tersebut dengan nama orang yang disayangi.

Apakah setelahnya kupu-kupu tersebut harus dihapus? Tentu saja tidak. Hal terpenting yang selanjutnya harus dilakukan adalah membiarkan kupu-kupu tersebut pudar seiring berjalannya waktu. Biarkan kupu-kupu hilang dengan sendirinya, jika sudah melewati fase ini berarti anda berhasil mempertahankan kupu-kupu dan membiarkannya tetap hidup. Apabila telah melewati fase ini, tandanya anda telah berhasil untuk memotivasi diri sendiri dan menganggap masalah yang anda hadapi telah terbang layaknya kupu-kupu.

Lalu mengapa harus kupu-kupu?

Kupu-kupu diibaratkan sebagai simbol transformasi, berawal dari kepompong ia  bermetamorfosis dan berubah menjadi bentuk yang sangat indah. Dari sini kita dapat menganalogikan  kupu-kupu  sebagai suatu masalah, dimana apabila kita sabar dan dapat belajar untuk menerima keadaan, masalah akan hilang dengan sendirinya.

The Butterfly Project jelas telah mebantu banyak orang yang menderita akibat self harm, terutama anak muda yang biasanya menderita dalam kesunyian. The Butterfly Project bersifat universal dan sangat mudah untuk dilakukan, kampanye ini dapat menjangkau siapa saja,dimana saja, dan kapan saja . Kampanye ini membuat perbedaan yang bersifat nyata bagi kehidupan.

Penulis : Echa Carissima
Penyunting : Karina
Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here