Larang Antagonis Gunakan Produknya, Sikap Apple Berlebihan?

0
82

Salah satu produk dari merek kenamaan Apple yang kerap kali dijumpai di masyarakat. (sumber : lookchup.com)

Di era teknologi yang kian canggih ini, siapa sih yang tak kenal dengan Apple? Bukan bahas Inggris dari buah apel loh ya melainkan perusahaan teknologi kenamaan asal California, Amerika Serikat. Seperti yang kita ketahui, produk gawai ini memiliki banyak penggemar di berbagai penjuru dunia. Mahasiswa Unpad pun banyak yang menggunakan produk mereka untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Bicara tentang Apple, ada isu menarik yang baru-baru ini terkuak terkait kebijakan yang diberlakukan perusahaan yang berdiri pada 1 April 1976 ini.

Digunakannya suatu produk dari brand tertentu tanpa terikat sponsorship sudah menjadi hal lumrah dalam aktivitas kreasi sinema. Biasanya, pihak produser cukup membayar sejumlah royalti kepada pihak brand yang produknya akan ditampilkan dalam filmnya. Mungkin kamu juga sering menjumpai nama-nama brand  yang sering kali wara-wiri dalam sebuah film seperti gawai Samsung, mobil Audi, Google, Instagram, dan masih banyak lagi. Nah, apa jadinya bila ada brand yang melarang tokoh antagonis dalam sebuah film memakai produknya?.

Entah kekhawatiran macam apa yang menyelimuti pihak Apple. Baru-baru ini, terungkap fakta bahwa Apple melarang para sineas menggunakan produk mereka dalam adegan kejahatan di filmnya. Hal ini diamini oleh salah satu sineas tersohor dunia yang banyak menyutradarai film-film Hollywood, Rian Johnson lewat wawancara dengan Vanity Fair yang tayang di platform Youtube pada video ‘Director Rian Johnson Breaks Down a Scene from ‘Knives Out’. Ia menyebut kebijakan yang diberlakukan Apple ini bisa jadi menjadi rintangan tersendiri dalam membuat kreasi film.

Sebelumnya, memang banyak berhembus desas-desus tentang kontrol Apple terkait bagaimana produknya ditampilkan dalam TV maupun film. Menurut laporan MacRumors, Apple mengatakan bahwa produk-produknya hanya boleh digunakan dengan cara terbaik. Maksud cara terbaik di sini adalah mencerminkan sisi positif pada produk Apple atau perusahaan secara menyeluruh. Hal ini akan sulit untuk ditolak bilamana Apple ikut serta membiayai produksi film.

Film dengan genre misteri boleh jadi bakal terkena imbasnya. Akan menjadi lebih mudah mengetahui siapa penjahatnya hanya dengan melihat perangkat apa yang digunakan para tokohnya. Nyatanya, kasus seperti ini bukanlah hal baru yang dilakukan oleh Apple karena menurut laporan Wired yang rilis pada tahun 2002, semua tokoh protagonis dalam film layar lebar dengan judul ‘24’ menggunakan perangkat Mac sementara tokoh antagonisnya menggunakan Windows. Tapi tentu saja masalah ini bisa dengan mudah teratasi karena sineas hanya perlu membuat aktor dan aktris mereka menggunakan produk selain Apple sepanjang film.

            Tingkat paranoid Apple terhadap produknya terkesan berlebihan kali ini mengingat perusahaan ini sudah punya nama besar secara global dan sudah dipercaya jutaan konsumennya. Produk-produk keluarannya  memiliki prestisi yang tinggi sehingga banyak menjadi idaman masyarakat. Tentu aneh kelihatannya jika Apple mau ambil pusing dengan hal sepele semacam ini. Rasanya para penonton pun akan mengerti bahwa produk Apple yang digunakan dalam suatu karya sinema hanyalah properti belaka. Lagipula, citra Apple yang sudah dibangun selama beberapa dekade tidak akan kandas hanya karena para tokoh antagonis dalam film-film menggunakan produk mereka dalam menjalankan aksi jahat.

Untungnya, sejauh ini hanya Apple yang membuat kebijakan semacam ini terhadap produknya. Coba bayangkan kalau semua brand gawai juga menerapkan hal serupa, bisa jadi para sineas harus merakit gawai mereka sendiri untuk dijadikan properti dalam film. Atau mungkin cara yang lebih sederhana, para sineas bisa mengandalkan teknologi CGI untuk memanipulasi visual film sehingga para tokohnya bisa terlihat menggenggam dan mengoperasikan sebuah gawai.

Walau bagaimana pun, sudah menjadi hak Apple untuk mengontrol eksistensi produknya. Semoga saja para sineas bisa berdamai dengan kebijakan ini karena memang secara hukum, sikap Apple ini sah-sah saja dilakukan mengingat produknya digunakan tanpa hubungan sponsorship.

Penulis : Mohammad Hatta

Editor : Karina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here