Resensi Film Milea : Suara dari Dilan, Babak Akhir Kisah Romansa

0
67
Cuplikan film Milea : Suara dari Dilan, yang merupakan film terakhir dari trilogi Dilan 1991 (sumber : id.bookmyshow.com)

Judul: Milea: Suara dari Dilan
Sutradara: Pidi Baiq, Fajar Bustomi
Skenario: Pidi Baiq, Titien Wattimena
Durasi: 1 jam 42 Menit
Studio: Max Pictures

Film dari adaptasi novel trilogi Pidi Baiq yang telah ditunggu-tunggu kembali menyajikan kisah cintanya di bulan Febuari lalu, bulan yang identik dengan kata ‘cinta’. Milea: Suara dari Dilan merupakan film ketiga sekaligus penutup dari kisah cinta Milea (Vanesha Prescilla) dan Dilan (Iqbaal Ramadhan). Film ini membahas mengenai bagaimana naik dan turunnya hubungan yang dijalani dua sejoli itu di Bandung dalam perspektif Dilan, cukup unik mengingat dua film sebelumnya mengambil perspektif dari bagaimana Milea memandang Dilan dalam hidupnya.

Milea: Suara dari Dilan dimulai dengan alur mundur, menceritakan Dilan sebagai dirinya yang konyol dan unik sebelum akhirnya bertemu dengan Milea. Alur mundur yang disajikan dalam film membantu para penonton untuk kembali mengingat kejadian-kejadian penting yang terjadi dalam dua serial film sebelumnya, sekaligus menjadi twist kepada penonton karena melihat bagaimana dunia berputar dalam sepatu Dilan yang sebelumnya tidak dijelaskan di film sebelumnya. Film ini juga meneruskan potongan kisah lanjutan kehidupan Dilan dan Milea, di masa setelah mereka lulus dari SMA yang sempat terpotong di film sebelumnya.

Trilogi film ini menyajikan campuran emosi yang manis di awal serial dan perlahan turun ke pahit di akhir serial. Pengemasan film Milea: Suara dari Dilan sangatlah lembut, namun tetap memberi sesak tak nyata di hati penonton, seakan turut merasakan apa yang Dilan alami di hidupnya.

Alur yang diceritakan tidak begitu terburu-buru, dan tak ada kunci cerita yang tertinggal. Hal ini membuat semua orang mampu menikmati cerita sepasang kekasih berlatar Bandung di masa lalu itu, baik yang sudah selesai membaca novelnya, ataupun yang baru mengenal nama Dilan dan Milea lewat film yang disajikan Max Productions ini.

Walau tentu cerita yang ditulis oleh Pidi Baiq berjudul sama pasti lebih detail dalam novelnya, namun film mampu berbicara lebih secara visual. Pengambilan gambar yang dilakukan dalam film Milea: Suara dari Dilan sangat lembut dan tidak kaku, mampu melukis setting tahun 1991 dan 2000 awal dalam mata penonton.

Film yang juga dibintangi oleh Happy Salma (Ibu Milea), Ira Wibowo (Ibu Dilan), Adhisty Zara (Disi), dan Bucek Depp (Ayah Dilan) sukses meraih lebih dari 400 ribu penonton di penayangan perdananya, menempatkan Milea: Suara dari Dilan sebagai film Indonesia dengan jumlah penonton hari pertama tertinggi. Mengalahkan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (Falcon Pictures) yang berada di urutan ketiga, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (Falcon Pictures) yang berada di urutan keempat, dan Danur 3: Sunyaruri (MD Pictures) yang berada di peringkat kelima. Hal ini cukup membuktikan bahwa film Milea: Suara dari Dilan memang benar ditunggu fansnya di seputar Indonesia karena sudah rindu, dan benar kata Dilan, rindu itu berat.

Walaupun film ini menjadi penutup kisah cinta Dilan dan Milea, sutradara Fajar Bustomi mempertimbangkan untuk kembali membuat sekuel berisi cerita pacar Dilan yang baru setelah Milea. Tentunya hal itu akan makin melengkapi cerita trilogi yang telah disajikan, dan memanjakan fans. Beritanya masih simpang siur, namun para fans tentunya akan sangat menantikan kelanjutan kisah dari novel best seller karya Pidi Baiq itu.

Penulis: Malika Ade Arintya
Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here