Yang (mungkin) Kamu Belum Tahu tentang Perawat

0
147
lustrasi Perawat (sumber : blogs.insanmedika.co.id)

Setiap tahunnya, tanggal 17 Maret selalu diperingati sebagai Hari Perawat Nasional. Bermulai dari dibentuknya organisasi profesi perawat yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada 1974 silam. Hal ini ditengarai oleh bulatnya tekad dan semangat yang dimiliki oleh para perawat pada saat itu, selain itu organisasi ini dimaksudkan untuk menjadi wadah organisasi bagi perawat itu sendiri. PPNI berkomitmen untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat dan profesi keperawatan, salah satunya dengan menyusun RUU Keperawatan yang hingga saat ini terus diperjuangkan untuk disahkan menjadi Undang-Undang.

Disaat dunia tengah dilanda wabah virus Covid-19 seperti ini, peranan seorang perawat sangatlah penting untuk merawat para pasien yang didiagnosis positif virus Covid-19. Perawat diharuskan untuk bisa stand by selama 24 jam demi merawat pasien yang kian lama kian banyak. Meskipun perawat menjadi salah satu elemen penting dari tenaga kesehatan, masih banyak stigma mengenai profesi ini yang dianggap tak lebih dari sekadar Doctor’s  Sidekick, atau tak lebih penting dari dokter itu sendiri.

Bukan berarti pembantu dokter

Hal ini dikuatkan oleh argumen seorang mahasiswa Fakultas Keperawatan yang tak ingin disebutkan namanya. Menurutnya, masih banyak orang-orang yang melihat bahwa pekerjaan seorang perawat hanya sebataa menunggu perintah yang diberikan oleh dokter. Padahal konsep tersebut tidaklah tepat, karena dalam dunia kesehatan perawat berkolaborasi dengan dokter. Peran perawat di rumah sakit sangatlah vital, karena yang selalu mengontrol keadaan pasien ialah perawat tersebut.

Tak hanya itu, malang masih menimpa perawat. Selain kerap kali dianggap sebelah mata, perawat juga sering mengalami tindakan pelecehan fisik maupun psikis oleh pasien ataupun keluarga pasien. Bahkan, keberadaan perawat seringkali tidak diinginkan oleh pasien karena dianggap ‘mengekang kebebasan’ pasien. Pada kenyataannya, pekerjaan seorang perawat tidak kalah pentingnya dengan dokter karena sama-sama berjibaku dalam penanganan pasien.

Siapa lebih tahu kondisi pasien? Perawat atau Dokter?

Pada faktanya di lapangan, perawat bisa dibilang lebih mengetahui kondisi pasien dibandingkan dengan dokter. Hal ini dikarenakan perawat merupakan tenaga medis yang selama 24 jam mendampingi dan mengikuti perkembangan pasien. Perawat juga tentunya mengetahui kondisi pasien sebelum sakit, saat sakit, dan rencana kelanjutannya. Selain itu, perawat juga menjadi jembatan perantara dokter dan pasien.

Di rumah sakit, dokter tidak mempunyai waktu untuk berkomunikasi perlahan-lahan mengenai kondisi pasien. Perawat merupakan orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan pasien, bahkan bisa dibilang bahwa merekalah yang melakukan kontak paling banyak dengan pasien di rumah sakit.

Profesi Perawat merupakan profesi paling dipercaya di dunia

Dilansir dari laman Business Insider Australia, pada 2017 silam perawat menempati posisi paling utama atas survei mengenai profesi paling dipercaya. Tak hanya di Australia, perawat juga menempati posisi yang sama di negeri sakura. Dengan presentase 96% dan 90%, membawa perawat naik ke podium paling atas. Diikuti oleh dokter (94%), tenaga paramedis (94%) dan apoteker (93%).

Berjalan ke belahan dunia lainnya, survey serupa yang dilakukan di Inggris menghasilkan hasil yang sama. Ya, lagi-lagi tingkat kepercayaan masyarakat pada perawat menjadikan perawat sebagai pekerjaan yang paling dipercaya. Setidaknya sebanyak 93% dari 1019 partisipan warga Inggris mengatakan bahwa perawat akan selalu mengatakan hal yang benar. Kemudian, diikuti oleh dokter dan guru dengan persentase 91% dan 88%, secara berurutan.

Hal yang mencengangkan terjadi pula di Amerika, survey tahunan tersebut memiliki jawaban yang sama untuk pekerjaan paling dipercaya oleh masyarakat negeri Paman Sam selama 14 tahun berturut-turut. Masyarakat menaruh kepercayaan yang besar pada profesi ini, mereka menjadikan perawat sebagai salah satu elemen yang penting dalam dunia kesehatan.

Sayangnya, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Indonesia. Stigma masyarakat yang masih mendarah daging kerap kali memandang sebelah mata pekerjaan mulia yang dipikul oleh perawat. Melihat dedikasi yang telah diberikan, sudah seharusnya kita memberikan afeksi lebih bagi para perawat di Indonesia yang sudah rela berkorban waktu dan tenaga demi mengabdi pada masyarakat.

Penulis : Muhamad Diaz Afdal Prasetya

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here