PANIC BUYING : Panik Global Kerusuhan Mental

0
54
sumber: mediaindonesia.com

“Musuh terbesar kita sekarang bukanlah virus (Corona) itu sendiri. Tetapi ketakutan, rumor, kabar bohong, dan prasangka. Sementara modal terbesar kita adalah fakta, akal, dan solidaritas.”

Pernyataan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom, tersebut agaknya sangat tepat untuk merespon “kepanikan global” saat ini yang terjadi karena mewabahnya virus COVID-19 atau sering disebut sebagai virus Corona.

Panic buying merupakan suatu fenomena yang  terjadi sebagai tanda respon manusia untuk tetap bertahan hidup dari kegelisahan atas kondisi yang ada. Fenomena ini didasari adanya suatu kondisi serba tidak pasti yang terjadi di lingkungan, misalnya wabah Covid-19 dan lockdown yang sedang merambah di Indonesia.

Sejak pertama kali dideteksi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tingkok pada bulan Desember tahun lalu, virus Corona memang sudah menginfeksi puluhan ribu orang dan sudah menyebar ke lebih dari 60 negara. Pemerintah Indonesia dari awal kemunculan virus corona ini sempat mengklaim bebas dari virus corona. Namun pada hari Senin, 2 Maret 2020 dalam jumpa pers, Presiden Joko Widodo menyebut ada dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang positif terinfeksi virus Corona.

Sampai saat ini Kamis (19/03), juru bicara pemerintah khusus penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di Jakarta. Menyatakan “Jumlah pasien positif Virus Corona, bertambah menjadi 309 orang, dengan 25 orang di anataranya meninggal dunia”.

Pasca pengumuman resmi yang dikeluarkan pemerintah, sebagian masyarakat Indonesia langsung melakukan punic buying. Banyak masyarakat yang berbelanja keperluan medis dan bahan makanan pokok. Kita bisa melihat berbagai toko ritel dan apotek diserbu oleh konsumen yang memburu produk seperti hand sanitizer, obat-obatan, multivitamin, dan tidak terlewat masker yang ludes diborong masyarakat. Setelah fenomena panic buying ini pada akhirnya membuat stok barang berkurang secara drastis.

Sesuai dengan teori permintaan, harga barang akan relatif naik apabila permintaan naik. Kesempatan seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, seperti kasus penimbunan masker yang marak terjadi dibeberapa tempat di Indonesia. Hal ini sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri, Kombes Asep Adisaputra, menyebut sejauh ini ada 12 kasus penimbunan masker yang ditetapkan kepolisiaan pada Kamis (5/3). Dari kasus penimbunan tersebut, tentunya akan membuat harga masker dan hand sanitizer melambung tinggi, sebagai contoh harga masker yang biasanya hanya dijual Rp30.000, saat ini bisa terjual dengan harga Rp300.000 setiap boksnya.

Imbas Panic Buying Akibat Corona Terhadap Ekonomi Indonesia

Fenomana Panic buying dapat menimbulkan sisi buruk ekonomi baik secara persolan maupun dalam ruang lingkup luas yakni negara. Sebagaimana nilai tukar rupiah terhadap dollar berikut ini,

Perlemahan nilai tukar Rupiah per tanggal 20 Maret 2020 terhadap Dollar Amerika Serikat, yang mana pada akhirnya menembus angka 15.000 per dolar AS merupakan imbas dari penurunan suku bunga The Fed (bank sentral AS). Hal ini ikut menyebabkan pasar/ market panic dengan diikuti oleh melonjaknya permintaan di pasar.

Diikuti dengan wacana lockdown terkait antisipasi virus corona dan pembatasan akses ikut berdampak pada memburuknya ekonomi indonesia. Kondisi surplus perdagangan dinilai semu. Impor bahan baku per bulan Februari turun tajam dikarenakan pengurangan Negara yang memproduksi. Dalam sepekan terakhir net sell di bursa efek menembus 780 Miliar, hal ini menimbulkan bayang – bayang akan terjadinya resesi ekonomi global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I ditutup pada angka 5,33% yang menandakan penurunan secara signifikan terhadap harga saham. Hal ini diakibatkan oleh wabah virus Corona yang menimbulkan panic buying secara global setidaknya mengakibatkan anjlok pada angka 34,93%. Selain itu, penurunan ini ikut diakibatkan oleh pemerintah AS yang menganggarkan dana hingga $1 trilluan untuk mengatasi dampak virus corona. Hal ini dapat menimbulkna ekonomi global ke arah resesi atau inflasi luar biasa di indonesia.

Isu Sosial Akibat Panic Buying

  1. panic buying yang diakibatkan oleh merebaknya COVID-19 dan memengaruhi kehidupan sosial secara signifikan. Dalam melakukan kegiatan jual beli, demanding melonjak drastis untuk barang-barang tertentu seperti contohnya peralatan sanitasi. Kebutuhan pokok makanan juga cenderung meningkat drastis, beberapa konsumen tidak akan segan untuk membeli dalam jumlah banyak atau melebihi kebutuhan. Masyarakat yang berperan sebagai konsumen kemudian berlomba-lomba untuk membeli barang barang tersebut dan cukup rentan mengakibatkan perselisihan.
  2. Orang-orang yang melakukan panic buying didorong oleh rasa ketakutan dan keinginan untuk memadamkan rasa takut itu. Hal ini membuat mereka berpikir bahwa dengan melakukannya dapat mengontrol situasi yang sedang terjadi. Penggunaan barang yang tidak tepat sasarannya merugikan mereka yang lebih membutuhkannya.Kepanikan yang didaulat sebagai bentuk antisipasi ini kurang lebih dapat dikatakan irasional.
  3. Orang-orang yang tidak melakukan panic buying tentu memilki dampak yang cukup positif di tengah situasi yang semakin memburuk ini. Setidaknya, mengurangi tingkat perselisihan dan membantu kehidupan sekitar menjadi cukup damai. Biasanya orang-orang yang termasuk dalam kategori ini adalah orang yang sudah cukup mengerti dengan situasi yang terjadi. Kepanikan yang dilakukan dapat terlihat irasional bagi orang-orang dalam kategori ini.
  4. Dampak yang diakibatkan oleh panic buying ini adalah dibatasinya pembelian bahan pokok. Hal tersebut cukup baik untuk memeratakan target sasaran barang tersebut.

Fenomena Panic Buying di Dunia

Panic buying telah dikenal sebelum wabah Corona seperti;

1922-1923 : Peristiwa hiper-inflasi di Jerman akibat kekalahan pada Perang Dunia II. Jerman mengambil langkah untuk meminjam uang pada pihak lain demi membayar denda PD II hingga berakibat perekonomian hancur dan harga kebutuhan pokok meroket

2000      : Terjadi fenomena Year 2000 Problem akibat ketakutan karena kolaps dari komputer yang tak bisa menghitung kalender diatas 1999.

Penulis dan Penyunting: Tim Litbang

Referensi:

Wardhani V. Redaksi merdeka.com. 2020. Gejala Sosial Panic Buying. Diakses pada 18 Maret 2020 dari laman   https://www.merdeka.com/jatim/gejala-sosial-panic-buying-apa-penyebabnya-dan-bagaimana-mengatasinya-kln.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here