Ras, Selamat Tinggal di Era Modern Ini!

0
57
Ilustrasi Ras ( sumber : explore.coverfx.com )

Setiap tanggal 21 Maret, dunia memperingati Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang begitu mengetahui hari penuh sejarah yang memajukan langkah penyetaraan HAM ini.

Tanggal ini dipilih oleh negara-negara anggota Majelis Umum PBB, dilatar belakangi peristiwa buruk di tahun 1960 yang terjadi di Sharpeville, Afrika Selatan. Pada saat itu polisi Afrika Selatan menembak para peserta aksi demonstrasi damai penolakan hukum apartheid, hukum pemisahan berdasarkan warna kulit. Di tahun 1979, Majelis Umum PBB meminta seluruh dunia untuk merayakan hari ini dalam rangka mengenang jasa para pejuang kesetaraan HAM.

Sebagaimana maksud dan tujuan yang ingin disampaikan lewat hari ini, pada dasarnya manusia memiliki hak yang sama untuk hidup. Perbedaan yang dimiliki tiap individu merupakan hal unik yang seharusnya bukan menjadi alasan terciptanya sekat-sekat, melainkan menjadi hal yang makin menguatkan tali persaudaraan antarmanusia.

Akan tetapi, sangat disayangkan bagaimana sikap diskriminasi masih kerap terjadi di era modern ini. Berita mengenai perbedaan perilaku, pelayanan, dan sikap yang ditunjukan kepada satu orang ke orang lain yang ia anggap berbeda masih kerap berkeliaran di media sosial, tak mengenal jenis kelamin dan umur.

Ras seakan menjadi faktor penting untuk menentukan sifat orang tersebut dan bagaimana kita harus bersikap di hadapannya, menciptakan stereotip yang tidak relevan dan berujung menjadi diskriminasi. Tapi sebenarnya, ras itu penting tidak sih, di era modern yang sudah menghapuskan diskriminasi dan isu rasial?

Apa sih Ras itu?

Kasus diskriminasi antarmanusia tak pernah lekat dari perbedaan ras. Akan tetapi, konsep ras sebenarnya sudah tidak begitu relevan di era modern ini. Mengutip perkataan dari dosen Antropologi FISIP Unpad Dr. Dra. Selly Riawanti, M.A., ras di modern ini hanyalah konsep sosial.

Dulunya konsep ras tercipta merujuk pada keadaan biologis manusia, dimana mereka memiliki kondisi fisik yang menciri khas; warna kulit, bentuk rambut, mata, hidung, dan lainnya. Namun hal itu sudah tidak relevan dengan semakin berkembangnya ilmu biologi.

“Dalam Antropologi, kondisi ini (perbedaan kondisi fisik) disebut fenotip, bukan ras. Tetapi, dulu tuh dianggap biologis, (kalau konsep Ras) membedakan satu manusia dengan yang lainnya.” Ujar Selly.

Karena persepsi bahwa kondisi ini biologis, terciptalah istilah-istilah seperti kaukasoid, negroid, mongoloid, dan banyak lainnya. Semuanya pupus ketika ahli biologi mulai meneliti DNA yang dimiliki golongan-golongan tersebut, dan menemukan terobosan bahwa di tiap golongan terdapat variasi DNA yang tinggi. Contohnya, mongoloid di era ini tidak benar-benar ‘murni’ mongoloid, terdapat percampuran DNA yang bahkan berasal dari golongan lain. Hal ini menjadikan ras sebagai konsep penggolongan manusia berdasarkan acuan fisik tertentu sudah tidak relevan lagi.

Selly Riawanti tak ragu lagi bahwa perilaku diskriminasi tak luput dari adanya pemikiran yang begitu memperhatikan perbedaan manusia berdasarkan ciri-ciri fisiknya.

“(Sikap ini) tidak hanya harus terjadi antargolongan yang berbeda bangsa atau asal geografis. Bisa juga di satu masyarakat di lingkungan geografis yang sama itu ada peristilahan rasis (yang tercipta).” Lanjutnya.

Kok Bisa Ada Diskriminasi Ras?

Diskriminasi tercipta ketika suatu individu merasa lebih istimewa dibanding individu lainnya, dalam kasus ini golongan manusia berdasarkan ciri fisik. Sikap yang seperti itu seakan tak membiarkan kolonialisme mati.

Kolonialisme menciptakan hierarki dalam warna kulit, dimana orang yang kulitnya cerah mendapatkan perlakuan yang lebih spesial dibanding warna yang lebih gelap. Sikap yang seperti ini banyak digunakan dalam standar kecantikan negara yang dahulunya terkolonialisasi atau berkontak dengan bangsa barat yang mayoritas berkulit putih.

Lalu, Bagaimana Cara Menghentikannya?

Untuk menghentikan sikap diskriminasi seperti ini, sudah sebaiknya kita memandang ras bukan sebagai konsep biologis faktual yang memang menggolong-golongkan manusia. Ras memang ada, ia hadir untuk menggolongkan manusia berdasarkan ciri fisik, dan beberapa negara membutuhkan konsep seperti itu untuk mengurus sistem kependudukannya, namun ras tidaklah faktual secara biologis.

Tiap individu memiliki DNA yang bercampur, tak ada ‘keaslian’ yang pasti, yang menjadi tanda bahwa ia memang termasuk “golongan A” dan lainnya. Dengan menghapus segala bentuk pandangan kita mengenai perbedaan ras, kita dapat menghapus diskriminasi sehingga sikap xenophobia (ketakutan manusia terhadap manusia di negara lain yang dianggap asing) tidak lagi dipraktikkan dalam era globalisasi modern ini. Selain itu kita juga dapat hidup berdampingan bersama-sama secara harmonis, menjadikan perbedaan ini sebagai kekuatan untuk menghadapi dunia dari berbagai perspektif manusia.

Penulis : Malika Ade Arintya
Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here