Salah satu adegan dalam film Dua Garis Biru,
sumber id.mybookshow.com

Dunia saat ini tengah dilanda pandemi virus corona, tak terkecuali Indonesia. Hal ini berdampak pada ditutupnya tempat-tempat yang dapat memicu keramaian demi mencegah penularan Covid-19, salah satunya adalah bioskop. Informasi mengenai berbagai bioskop kenamaan tanah air seperti Cinema XXI dan CGV yang mulai menutup sejumlah jaringan bioskop mereka cukup banyak ditemui di media-media nasional. Dampaknya, hingar bingar perfilman di negeri ini akan mengalami ‘mati suri’ dalam beberapa waktu ke depan. Padahal tanggal 30 Maret ini merupakan peringatan Hari Film Nasional.

Walau begitu, semangat dan rasa bangga akan film lokal harus tetap dijaga. Terlebih setahun belakangan ini film-film indonesia bisa dibilang tengah berada dalam tren positif yang patut untuk diapresiasi. Sejumlah film tidak hanya mampu menampilkan kualitas karya sinema yang apik, tapi juga bisa mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Salah satu gebrakan perfilman Indonesia setahun belakangan ini dilakukan oleh film Gundala, yang merupakan film pembuka dari “Jagat Sinema Bumilangit”. Film yang didalangi oleh Joko Anwar ini menyita perhatian publik karena diyakini merupakan film superhero yang punya kualitas jauh lebih baik dibanding film-film dengan tema superhero sebelumnya dari Indonesia.

Gundala sukses memperoleh respon yang positif dari para penonnton. Tidak heran memang mengingat film ini sempat menembus Toronto International Film Festival di kategori  Midnight Madness. Dalam ajang itu Gundala bersanding dengan film-film terbaik lainnya . Salah satunya adalah Joker, film nominator Best Picture pada ajang Academy Awards.

Selain Gundala, film 27 Steps of May juga mampu unjuk gigi di ajang Internasional. Adalah Malaysia Golden Global Awards (MGGA 2019) tempat film arahan Ravi Bharwani ini mengepakkan sayapnya. 27 Steps of May meraih penghargaan pada nominasi New Hope dan Best Actor. Film ini mengambil sudut pandang dari seorang penyintas kekerasan seksual yang mengalami trauma berat selama bertahun-tahun, dan harus hidup dalam baying-bayang traumatis. Akting menawan  diperlihatkan Raihaanun  yang mampu menampilkan betapa beratnya trauma psikologis yang ia perankan hanya dari gestur dan tatapan mata yang ditampilkan.

Lalu ada  film Dua Garis Biru  yang disambut hangat pecinta sinema tanah air pada Juli 2019. Film besutan Gina S. Noer ini mengangkat tema mengenai kehamilan diluar pernikahan. Isu yang diangkatnya ini terbilang cukup nekat. Bahkan sebelum perilisannya, sempat muncul petisi yang menolak penayangan Dua Garis Biru ini, karena dianggap akan menjerumuskan remaja kepada hal yang negatif. Namun pada praktiknya Dua Garis Biru berhasil menyajikan kreasi sinema yang unggul. Pembawaan film yang  mengaduk emosi disertai adegan-adegan yang filosofis membuat film ini banjir pujian. Dua Garis Biru pun sanggup menduduki peringkat ketiga film indonesia terlaris tahun 2019.

Lalu yang awal tahun kemarin menarik perhatian masyarakat yaitu Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Film yang diadaptasi dari buku best seller karya Marchella FP berjudul sama ini menampilkan dinamika konflik keluarga dengan sajian slice of life yang membuat penonton hanyut dalam cerita yang diusung. Tema keluarga yang diambil Film NKCTHI membuat penontonnya related dengan penceritaan yang dibawanya. Film ini pun terbilang sukses dari secara komersial karna mampu menggaet 2,2 juta penonton hingga akhir penayangannya.

Sebenarnya masih ada film-film yang kualitasnya pun tak kalah baik setahun belakangan ini. semacam Imperfect, Love for Sale 2, dan Susi Susanti: Love All. Perfilman tanah air saat sini tengah  menapaki tangga menuju arah yang lebih baik. Masa kelam belasan tahun lalu ketika bioskop di indonesia masih didominasi oleh film-film horror murahan kini sudah jauh berkurang.

Para pelaku sineas saat ini sudah tidak malas menghasilkan film-film berkualitas. Semoga di masa yang akan datang para produsen film bisa menghasilkan lebih banyak lagi film-film bermutu agar industri perfilman indonesia semakin berkembang. Selamat Hari Film Nasional!.

Penulis : M. Hatta Muarabagja
Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here