Sektor Informal di Jatinangor ‘Lawan’ Corona

0
58

‘Kesepian’ kembali menghampiri Jatinangor. Baru menginjak satu bulan sejak mahasiswa Universitas Padjadjaran kembali menjalani perkuliahan di pertengahan Februari, pihak universitas memutuskan meniadakan kegiatan belajar mengajar di pertengahan Maret akibat ancaman virus corona yang terus merebak. Sejumlah mahasiswa pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.

Bagai efek domino, hal tersebut rupanya memengaruhi sektor informal terutama para penjual makanan di sekitar Jatinangor yang mengaku mengalami penurunan pendapatan. Bukan hal yang aneh, karena sebagian besar pendapatan mereka berasal dari mahasiswa rantau yang datang dari berbagai daerah ke Jatinangor.

Sebut saja Ibu Sederhana, seorang pemilik Warung Nasi Sederhana di daerah Sayang yang enggan disebutkan namanya kini tengah mengalami keresahan terhadap warung nasi miliknya sebagai dampak dari wabah corona. Warung nasi yang sudah dikelolanya sejak 10 tahun lalu mengalami penurunan omzet hampir 75%, sedangkan untuk omzet harian ia hanya mampu meraup 25%.

“Dampaknya sangat memberatkan, karena biasanya harapan ibu satu-satunya dari warung nasi ini kalau anak-anaknya (mahasiswa) pada datang.” Ujarnya, ketika ditemui tengah menjaga warungnya yang sangat sepi.

Ia mengaku, selama 10 tahun mendirikan usaha tersebut, kejadian ini adalah adalah yang paling parah karena tidak ada persiapan sama sekali, berbeda dengan ketika libur akhir semester. Bahkan, ia terpaksa harus memulangkan para pegawai yang bekerja dan mengurus warung nasinya hanya bersama sang suami.

Saat ini, beliau hanya mampu pasrah dan menghormati apapun keputusan pemerintah demi kebaikan bersama. Beliau harap peristiwa ini cepat berlalu agar keadaan kembali seperti sediakala.

“Saya sih harapannya semoga semua ini (pandemi) cepat beres saja, biar semuanya stabil lagi seperti sebelumnya.” Harapnya.

Kondisi serupa juga dialami oleh Ibu Nunung, pemilik toko camilan di Ciseke. Tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh beliau akan terjadi seperti ini. Sepanjang beliau berjualan, baru pertama kali peristiwa ini membuat usahanya ketar-ketir. Barang dagangan yang baru saja dibeli untuk keperluan stok, akhirnya harus ia simpan. Pendapatan yang menurun drastis tentu menjadi titik masalah bagi sektor informal atas pandemi ini.

“Pendapatan saya seharinya menurun sekitar 50-75% neng, tapi saya juga bingung harus bagaimana. Jadi ya jalani saja dulu. Apalagi kan itu anjuran dari pemerintah ya (social distancing).” Terangnya sembari membungkus camilan dalam plastik kecil.

Namun, ia memilih untuk tetap membuka tokonya dengan jam buka dan jam tutup yang ditetapkan seperti biasanya. Ia juga meyakini bahwa masih ada sebagian mahasiswa yang tetap tinggal di Jatinangor dan tentunya tetap ingin membeli camilan.

Pak Suyatno, seorang penjual bakso di daerah GKPN pun turut merasakan ‘sepi’ pada bakso yang ia jajakan. Berkeliling mendorong gerobak bakso miliknya dengan kondisi Jatinangor yang tak seramai biasanya tentu membuat pendapatannya berkurang.

Jika dalam sehari ia mampu menghabiskan bakso dari daging yang ia giling seberat 5 kg, kini ia harus memangkas sebagian agar tak mengalami kerugian. Ia bersyukur, meskipun jauh dibanding keadaan seperti biasa, beberapa pelanggan tetap datang membeli baksonya.

“Meski pendapatan berkurang, yang penting saya masih bisa berjualan dan ada yang beli, saya bersyukur.” Tuturnya sembari membuat semangkuk bakso panas.

Sektor informal yang menggantungkan hidupnya pada hasil penjualan sehari-hari membuat beberapa dari mereka harus menyiasati ketidakpastian ini. Kondisi tersebut tentu dirasakan oleh semua sektor informal di Indonesia, tak terkecuali di Jatinangor. Penghasilan yang mereka dapat dari pembeli yang mayoritas mahasiswa, anjlok secara drastis. Besar harapan, musibah ini dapat segera berakhir dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Penulis : Helfrida Mahendraputri

Penyunting : Karina Rahma Wati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here