MEMPERINGATI HARI PUISI: KUMPULAN PUISI ‘NALAR DALAM RUANG’

0
56
(Illustrasi: dribble.com)

Dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional, Warta Kema melakukan penerimaan terbuka karya puisi untuk berbagai tema. Berikut adalah kumpulan puisi yang telah Warta Kema himpun dari Sobat Warta dalam tajuk ‘Nalar Dalam Ruang’.

Ramadan Tanpa Petasan

Oleh: Ananda Bintang, Universitas Padjadjaran

Ingar bingar tak terdengar

Di masjid, atau pekarangan

Tuhan hendak mampir dalam sujud sunyi  

Dalam sepi, dalam doa, sendiri-sendiri.

Sendal berdiam diri di pojok rumah

Tak lagi hangat, tak lagi dipijak.

Keramaian menderu di tangan,

Segenggam petasan meledak di gawai-gawai.

Meski kematian nunggu di balik pintu,

rindu hadir di kasur kamar.

***

Kematian sebelum Kiamat, Sebelum Tidur

Oleh: Ananda Bintang, Universitas Padjadjaran

Hilang, jadi keinginan sekarang.

Kabar buruk menderu di pintu kamar.

Macu-memacu saling masuk.

Diam, ada yang ngatur! Nanti tersinggung.

Situasi makin kacau—penujum muncul.

Ku bilah pematang kasur, sebab akhir kian dekat, mempercepat kiamat.

Tinggal doa ku panjat, dosa teringat.

Hidup, setelah ini jadi dongeng pengantar tidur yang tak melelap.

Bismika Allahumma Ahya Wa Bismika Amuut

***

Kota Di Sore Hari

Oleh: Muhammad Faizal Kamil, Universitas Padjadjaran

Kudengar keluh kota di sore itu dimana hanya ada suara stagnan mesin kendaraan dan debu yang bepergian.
Semua instrumen bermain syahdu meski hanya berisi kebisingan tanpa harmoni.
Seperti menggeliatnya tanah yang terkena air, atau kelebatan bendera yang diterpa angin.
Sayup pilu perkotaan dimana hanya ada yang berlalu tanpa pernah ada yang singgah.

Hangat, tenang, renda
Cahaya di bawah pohon mahoni.
Bersama alam dan hari yang mulai petang,
aku bersyair tentang hidup dalam harmoni
Sang awan yang ramah tak diam memberi saran sembari meneduhi kami di bawahnya, mahluk pejalan

Lamunan tak sampai berujung kita sudah sampai tujuan,
Semua lelah dan jenuh segera teralihkan.
Namun siapa yang mengingat si kota maupun tuan jalan? Semuanya hanya berlalu, berpijak, lalu meninggalkan.

***

Asal Kata Asal

Oleh: Muhammad Dzaky Abdullah, Universitas Padjadjaran

Dewasa ini orang-orang enggan ber-commit

yang ada rajalela omong kosong dan commat-commit

Tak lagi bisa dipegang para pesumpah

sebab mereka sibuk ber-“cuh!” dan ber-“sampah!”

Lalu saat kita mulai berpaling dari lisan

dikibuli ‘juga’ kita dengan too-lisan.

“Jangan mau tanya arti puisi ke pembualnya,

adanya kamu dibohongi, didustai, dan dikelabuhi”, kata seorang eyang

sambil ngopi di atas jalan layang.

Kalau masih tak percaya,

coba saja kau tanya

Akankah klinik 24 jam masih buka

saat dokternya sedang bersimpuh di rumah duka?

***

Magis

Oleh: Raeehan Hasya, Universitas Padjadjaran

Lepas pasang corong suara,

Empat trampolin menari-nari hingga pagi,

Pemilik dibisiki, “jangan tutup dulu harinya!”,

Taplak harum belum juga membentang berani,

Menunggu panggilan magis memang paling magis,

Napas terlentang terpalang landasan,

Adakalanya gitar bersayap bisa hadir,

Apalagi Lorenzo di Maguwoharjo,

Ini dilema bagi sang napas,

Badan tak waras direpetisi,

Kerasukan Einsten tak akan henti,

Pemilik pasti menuntun kami.


– 10 April 2020, 22.50

Penyunting: Allisa Salsabilla Waskita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here