MEMPERINGATI HARI PUISI: KUMPULAN PUISI ‘SUARA WONG CILIK’

0
64
(Illustrasi: nytimes.com)

Dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional, Warta Kema melakukan penerimaan terbuka karya puisi untuk berbagai tema. Berikut adalah kumpulan puisi yang telah Warta Kema himpun dari Sobat Warta dalam tajuk ‘Suara Wong Cilik’.

Untuk Apa?

Oleh: Bismoko Nizaar Astarya, Universitas Padjadjaran

Untuk apa adanya sebuah negara?

Apabila rakyatnya malah sengsara

Untuk apa berpegang pada demokrasi?

Apabila tak bisa menyampaikan aspirasi

Wahai anggota Dewan Perwakilan yang terhormat

Nampaknya investasi adalah nomor satu

Kacamata kuda terhadap rakyat yang melarat

Merupakan ciri terkental darimu

Wahai mentri yang terhormat

Bebaskanlah napi koruptor sesuai hasratmu

Lain cerita dengan pencuri baut

Yang kau bui tanpa rasa dari kalbu

Untuk apa adanya sebuah negara?

Apabila kita malah saling tusuk sana-sini

Untuk apa berpegang pada demokrasi?

Apabila mengkritik diganjar bui

***

Asa Singkong Keju

Oleh: Aldy Nofansya, Universitas Padjadjaran

Gaduh hati ini merasa dua rasa di dalam satu asa

Terpaksa ku rasakan apa yang tak ingin ku rasa

Namun aku tidak bisa menolak

Sebagai pemegang asa aku harus merasa

Hentakan jiwa memaksa aku berkata

Kata-kata yang tak mampu ku ucap karena perbedaan rasa

Namun aku tidak bisa menolak

Kujelaskan dua perbedaan rasa pada orang yang harus merasa

Rasa pertama untuk orang yang harus merasa

Aku Merasa…

Dengan singkong mereka tak makan dawai

Dengan singkong mereka tak makan jangat

Dengan singkong mereka bisa menyosoh makan

Wahai pemakan singkong, buatlah seenak mungkin singkongnya

Mereka ada dimana-dimana

Rasa kedua untuk orang yang harus merasa

Aku Merasa….

Dengan keju mereka taburkan

Dengan keju mereka kuasakan

Dengan keju mereka segalakan

Wahai tukang keju jual pulalah keju kalian pada orang yang membutuhkan

Mereka ingin merasakan asinnya keju

Banyak langkah yang mereka pijakan

Banyak tamparan yang mereka rasakan

Banyak  suara yang tidak didengarkan

Wahai pemegang tongkat keseimbangan,

seimbangkanlah, seimbangkanlah gula pasir dan gula jawa di belakang

Mereka sama-sama manis

Tuhan, maaf, izinkan aku maju selangkah

Untuk merasa apa yang sebenarnya tak ingin ku rasa

Karena hati memaksa, memaksa untuk lebih merasa

Sampai hati dan mulut ini paham dua rasa yang dirasa

Dilema betanya-tanya

Kenapa dua rasa hidup pada satu asa dalam satu bangsa?

Lantas, siapa aku? Dan ternyata aku hanya seorang perasa

Keingan kuat namun lemah tak berdaya

Hanya tulisan pada pena ini ku sampaikan rasa.

Sudahlah aku hanya berandai rasa

Rasa memanusiakan manusia

Oh ya, bagaimana rasa singkong keju?

***

Anda untuk Anda

Oleh: Agung Muhammad Iqbal, Universitas Padjadjaran

Hai Kamu,

Iya Kamu,

Di mana dirimu berdiri

Aku sudah penat dan linglung

Iya Kamu,

Yang sedang duduk di sana,

Apakah kamu mendengarkanku

Aku sudah letih dan dan lelah dengan semua

Apakah Kamu Dengar?

Aku di bawah sini,

Di mana?

Tepat di bawah pijakanmu

Seperti apa bentukmu?

Aku sendiri pun tak tau bagaimana rupaku

Ada apa gerangan?

Sampaikan pada anak cucumu, jaga diriku yang di bawah sini

Aku sudah tua dan tenagaku sudah mulai lemah

***

Bayang-Bayang Dewi Keadilan

Oleh: Raka Putra, Universitas Padjadjaran

Bus….. Bus macam apalagi itu?

Telingaku rutin mendengar Omnibus itu

Tikus-tikus itu pengendali bus, memberi makan si buta serakah

Tikus-tikus yang melingkar sebagai dewa negara, memberi ruang bagi si buta

Apa tikus-tikus itu si buta juga?

Suatu hal mengalihkan pandanganku

Si robot kota yang mencari nafkah, dimainkan oleh si bus itu

Semakin kaku, teralienasi, dan terisolasi

Robot kota yang mencari nafkah memanggil dewi keadilan

Tak kunjung turun, di manakah bayang-bayang dewi keadilan?

Alamnya yang indah dan asri terganti oleh polusi

Polusi-polusi hasil investasi, menganeksasi ekologi

Nampaknya dewi keadilan enggan turun ke Ibu Pertiwi

Ibu Pertiwi telah diperkosa oleh rezim oligarki

Penyunting: Allisa Salsabilla Waskita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here