MEMPERINGATI HARI PUISI: KUMPULAN PUISI ‘RINDU DI SEPUCUK SURAT’

0
39
(Illustrasi: notefolio.net)

Dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional, Warta Kema melakukan penerimaan terbuka karya puisi untuk berbagai tema. Berikut adalah kumpulan puisi yang telah Warta Kema himpun dari Sobat Warta dalam tajuk ‘Rindu di Sepucuk Surat’.

Mari Pulang

Oleh: Dwiarian Noor Patria, Universitas Padjadjaran

Tak pernah terpikir olehku tentang kata-kata puitis nan romantis untukmu wahai gadisku.

Namun aku senantiasa menjawab semua tantangan yang kuberikan oleh diriku sendiri.

Saya tahu, aku mampu melakukannya.

Namun diri sadar akan keburaman akhir dari apa yang dilakukannya.

Lalu saya terdiam ketika melihat aku berdiri di depan diri yang tengah memasukan baju kedalam koper milikNya.

Diri berkata, “Maafkan aku yang telah membuat saya lupa terhadap diri yang sedang kehilangan, sekarang ikutlah aku untuk mencarinya di puncak gunung tertinggi, tempat di mana bintang-bintang mudah untuk digapai. Kita akan merangkai kembali bintang-bintang yang sempat kita beraikan pada malam Ahad itu.”

Perjalanan dimulai.

Aku pamit.

Saya selamat.

Diri menemukan kehilangannya.

***

Mencari dan Menemukan

Oleh: Allisa Salsabilla Waskita, Universitas Padjadjaran

Rusuh aku mencari pergelangan tangan yang biasa menemaniku ketika hujan

Angin bergemuruh dan aku tak bisa lagi mendengar suara indahmu

Tak ada lampu barang satu pun untuk membantuku mencari

Baumu nun jauh di sana wanginya tak sampai empat puluh kilometer kemari

Susul-menyusul air jatuh di depan mataku

Tapi aku masih belum jua menemukan jemari itu

Nafasku terisak pada setiap air bertemu langit, sepatu bertemu tanah, dan petir bertemu bumi

Laut mengganas menghapus kenangan indah kita tetangnya di pagi hari

Perlahan ku menutup mata dan mencari jalanku kembali

Tangan itu akhirnya meraih tanganku dan mempertemukan kerinduan ini

Tak ada yang bisa mengalahkan hangatnya tanganmu

Ketakutanku mengalir menyururi bumi dan membenamkan diri pada senyum di wajahmu

Kita bertahan untuk beberapa saat, dan perlahan detak jantungku berkurang

Jika ada satu yang aku butuhkan untuk menerjang badai,

itu adalah kamu

Bandung, 15 Maret 2020

***

Antologi Rasa

Oleh: Rafly Muhammad Pasha, Universitas Padjadjaran

Lembaran foto berhias warna warni

Hiasan warna seakan berseri

Alunan melodi musik turut bernyanyi

Menutupi sendu dalam goresan puisi

Hati fana berbisik dengan kecang

Seakan rindu tuk memandang

Kebohongan perlahan bergocang

Suara rindu yang tak bisa hilang

Dan Denpasar

Sebuah cerita dalam sebuah nama

Dan Denpasar

Awal kisah sebuah rasa yang ada

Seharusnya aku tak berpisah dengamu

Bila tak ada kegelapan yang menganggu

Catatan hati yang kutulis dengan makna

Makna dalam antologi sebuah rasa

***

Kencan

Oleh: Ismi Indriani, Universitas Padjadjaran

Di dalam lubuk hati, reranting rindu jatuh meluruh,

sejak cetoleh antara kamu dan aku menjadi riuh

mendadak aku tak mau jauh-jauh darimu.

Aku mengoceh, “jangan sekali-kali mengajakku berziarah pada yang temaram”

akhirnya kamu membawaku tetirah pada yang tenteram.

Malam kian matang dan pisang rebus tinggal sebatang,

sementara kita masih sibuk merampungkan bincang.

Kita membayangkan rumah lebih luas dari jenggala,

percik air dari keran wastafel menyerupai gemercik curug

di bawah pepohonan aku menjahit gaun yang rumpang

sedangkan kamu berlarian memburu kunang-kunang

sampai tubuh payah dan kita merebah di haribaan ilalang.

Selamat!

Kamu berhasil memelihara senyumanku

dari ancaman si pemburu yang meluluk lewat mimipi,

tamu dari masa silam.

Sukabumi, 20 April 2020

***

Aku Penyelam, dan Kau Sang Pulang

Oleh: Annisa Aurecia W., DKI Jakarta

Rintik rintik memang kadang menyedihkan

Ia selalu berjuang

Jatuh tanpa dipedulikan

Atau bahkan digenggam

Aku sang penyelam

Merasuki palungmu yang terdalam

Terdengar, sangat menyeramkan

Kacaunya hatiku merasa senang

Kemudian, jatuh sangat dalam

Aku menggemakan namamu di seluruh ruangan

Dengar! Dengarlah sayang!

Cinta kita menyedihkan!

Bagai burung yang terkekang

Aman, namun menyakitkan

Aku telah menyerahkan abuku

Lalu kau sebarkan di lautan

Tanpa perpisahan

Beginikah nasib lukaku, sayang?

Lilin-lilin pun perlahan padam

Ia tak rela melihatku meredam

Terpuruk dan membusuk

Mengandaikan cintamu dari rusuk

Yang tak pernah akan membesuk

Penyunting: Allisa Salsabilla Waskita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here