Apa Kabar Jatinangor?

0
40
Setelah dikeluarkan himbauan untuk melaksanakan kegiatan kuliah daring beberapa bulan lalu, mahasiswa yang biasa memenuhi Jatinangor mulai kembali ke kampung halaman. Lalu, apa kabar dengan Jatinangor yang ditinggal penghuninya? (foto : Dzikri Ahmad Fauzy)

Hampir dua bulan kuliah daring berlangsung, hampir dua bulan juga kampus Unpad Jatinangor ditutup. Banyak mahasiswa perantauan memilih untuk pulang ke rumah masing-masing, lebih dekat dengan keluarga, dan menjalankan kuliah daring dari rumah. Kini Jatinangor seakan kehilangan penghuninya.

Sepi adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan Jatinangor semenjak adanya pandemi mengerikan bernama COVID-19. Kemacetan yang tiap pagi dan petang terjadi di sepanjang Jalan Raya Jatinangor, kendaraan roda dua yang tak sabaran melintasi Gerlam, odong-odong yang penuh sesak, juga kantin-kantin fakultas yang bising kini hilang.

Tidak terasa sekarang telah memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan suci Ramadhan di Jatinangor biasanya diwarnai dengan padatnya jadwal buka bersama mahasiswa, ngabuburit bersama teman-teman, berburu takjil di Balé Pabukon, dan ritual lain khas mahasiswa Jatinangor lainnya. Namun, apakah keramaian tersebut masih bertahan di musim wabah seperti ini? Ternyata, masih ada beberapa mahasiswa Unpad yang bertahan dan menjalankan ibadah puasanya di Jatinangor.  

Beberapa mahasiswa berkenan menjadi narasumber untuk menceritakan kehidupannya di Jatinangor saat bulan Ramadhan dan musim wabah ini. Beberapa dari mereka masih tinggal di asrama Unpad dan kosan.

Contohnya Yoga, mahasiswa Fakultas Pertanian itu tinggal di Bale Wilasa 3 selama masa pandemi ini. Berbeda dengan Yoga, Putri tinggal di indekos yang berada di daerah Sayang. Karena terdapat pasien positif corona di wilayahnya membuat mereka tidak ingin menjadi carrier virus, dan ditambah larangan pemerintah daerah untuk pulang kampung menjadi alasan mereka untuk tetap tinggal di Jatinangor.

Banyaknya mahasiswa yang bernasib serupa seperti Yoga dan Putri, membuat Unpad memberikan berbagai bantuan kepada mahasiswanya untuk menjalankan kehidupan di perantauan. Mulai dari bantuan WiFi, bahan pangan, hingga handsanitizer seluruhnya diberi oleh pihak kampus. Tak hanya bagi mahasiswa yang tinggal di asrama, tetapi untuk mahasiswa yang menetap di indekos juga.

“Di sini gausah ngeluarin uang buat kuota internet karena ada WiFi, terus di sini juga ada teman sejurusan jadi kalau ada tugas bisa bareng ngerjain dan bisa sama-sama belajar bareng. Kalau makan Alhamdulillah juga disuplai sama pihak Unpadnya, jadi gausah khawatir sama makan. Dikasih masker, handsanitizer, sama obat imun juga,” jelas Yoga, mahasiswa yang tinggal di asrama (3/5).

Tak hanya itu, Unpad juga menyediakan fasilitas kepulangan mahasiswa yang masih berada di Jatinangor tepatnya di asrama dan hendak pulang ke rumahnya yang berdomisili sekitar Jawa Barat, Jabodetabek, dan Banten. Transportasi yang digunakan untuk kepulangan tersebut adalah bus Unpad.

“Tadinya itu ada 3 tanggal kepulangan, tanggal 28 April, 5 Mei sama 13 Mei, tadinya saya tuh mau ikut yang tanggal 13 Mei tapi karena ada PSBB serentak di Jawa Barat tanggal 6 Mei jadi yang tgl 13 Mei itu ga jadi, bisanya tanggal 5 Mei.” ucap Yoga.(3/5)

Yoga merasakan keanehan terhadap keadaan Jatinangor yang biasanya dihinggapi kemacetan kini menjadi sepi. Tidak hanya Yoga, mahasiswa lain juga turut merasakannya. Hal tersebut diamini oleh Putri, mahasiswa angkatan 2016 tersebut sependapat dengan Yoga. “Sepi banget, bahkan lebih sepi dari hari raya lebaran,” ujarnya.

Kabar mengenai Jatinangor yang tidak bisa didatangi merupakan kabar yang tidak benar. Namun, Putri Besttari, mahasiswa yang masih tinggal di Jatinangor menuturkan bahwa memang ada pemeriksaan untuk memasuki kawasan Jatinangor. “Kalau misal datangnya ramean dari luar kota nanti bakalan diberhentikan kayaknya. Tapi kalau sendirian, masih diperbolehkan, paling dicek aja mau ke mana dan ngapain,” jelasnya.

Euforia bulan Ramadhan kurang terasa bagi mahasiswa Unpad yang masih tinggal di Jatinangor. Hal tersebut dibuktikan dengan jawaban mereka saat ditanya bagaimana perasaan mereka menjalankan ibadah di bulan Ramadhan saat ini. “Biasa aja, malah kayak hari biasa kurang terasa Ramadhannya” terang Putri Besttari (3/5).

Hal yang serupa disampaikan Yoga, “Ya yang pastinya perasaannya beda lah sama ramadhan sebelumnya, euforia menyambut bulan ramadhan itu jadi kurang. Ramadhan sekarang jadi gabisa kemana-mana, gabisa cari takjil bareng sama teman-teman, gabisa solat di mesjid. Tetapi, meskipun puasa di tengah pandemi ini ibadah ga boleh kendor dong.” ungkapnya.

Terakhir, Yoga menyampaikan pesannya untuk mahasiswa Unpad, “Untuk mahasiswa yang masih di Jatinangor tetap jaga kesehatan sama kebersihan, jaga pola makan karena gaada yang merhatiin yaitu orang tua dan jangan keluar kalau ga penting-penting banget, dan untuk mahasiswa yang udah di rumahnya masing-masing tetap jaga kesehatan, tetap di rumah aja ya biar pandemi ini bisa cepat selasai biar semester depan bisa kuliah lagi seperti biasa.” harapnya.

Reporter : Disma Alfinisa

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here