Mengenang Kedigdayaan Inter Milan 10 Tahun Silam

0
113
Squad Inter Milan Mengangkat Trofi Champion 2009/2010 (sumber: goal.com)

Pertandingan telah memasuki menit ke-3 injury time. Setelah beberapa kali melirik jam tangan, wasit Howard Webb akhirnya meniup peluit tanda laga usai. Sontak, seisi Stadion Santiago Bernabeu bergemuruh. Sejarah besar telah tercipta.

Campione d’Europa! Campione d’Europa! Inter Campione d’Europa!”

Begitulah teriakan sumringah salah seorang komentator Italia, bereaksi atas apa yang dilihatnya malam itu di Madrid, Spanyol.

Tepat hari ini (22/5) sepuluh tahun lalu, Inter Milan menjadi klub Italia pertama dan satu-satunya hingga saat ini yang mampu meraih treble winners. Torehan itu mencakup trofi Coppa Italia, Liga Italia, serta Liga Champions yang baru mereka raih malam itu.

Nah, yang membuat prestasi ini terasa sangat istimewa adalah karena sepanjang sejarah sepakbola Eropa, hanya 7 klub saja yang mampu mengawinkan dua gelar tertinggi tingkat domestik dengan gelar Liga Champions, lho.  

Bahkan, untuk klub seperti Real Madrid yang sudah tiga belas kali duduk di tahta juara Liga Champions, ataupun Juventus yang sudah menjuarai Liga Italia sebanyak 35 kali pun belum pernah mencicipi raihan tersebut.

Perjalanan yang Tak Mudah

Capaian Inter musim itu tidak diraih dengan mudah, lho. Pada ajang Coppa Italia, Inter harus bersusah payah menangani perlawanan Livorno, Juventus, dan Fiorentina untuk kemudian bisa unjuk gigi di partai puncak.

Pada laga final, Inter berhadapan AS Roma yang juga merupakan saingan mereka dalam memperebutkan titel Liga Italia. Laga yang digelar pada 5 Mei 2010 itu menjadi langkah awal Inter dalam mengecapkan tinta emas sebagai peraih treble winners. Gol semata wayang Diego Milito pada menit ke-39 mampu dipertahankan hingga akhir laga.

Squad Inter Milan Mengangkat Trofi Coppa Italia 2009/2010 (sumber: Tuttomercato)

Pada kompetisi Liga Italia musim itu, Inter tampak tidak sedominan musim-musim sebelumnya. Penampilan cemerlang AS Roma menjadi alasannya. Walau sempat tampil trengginas dengan mengantongi 11 kemenangan dari 14 laga pertama, Inter sempat terseok-seok di pertengahan musim imbas dari rentetan hasil imbang yang menghampiri mereka.

Sementara itu, sejumlah kemenangan yang diraih AS Roma membuat mereka menempel ketat Inter di klasemen. AS Roma bahkan sempat ‘mengkudeta’ Inter di puncak klasemen pada pekan ke-33. Beruntung, Inter berhasil tampil gemilang di 5 laga tersisa dan berhasil menyalip kembali AS Roma dari puncak klasemen.

Ketika laga penentuan di akhir kompetisi pada 16 Mei 2010, Inter dituntut mengalahkan Siena jika ingin menjadi juara. Sebab pada hari yang sama, AS Roma sudah unggul 2-0 atas Chievo. Inter akhirnya berhasil menyabet gelar juara Liga Italia kelima secara berturut-turut usai menang atas Siena dengan skor 1-0. Diego Milito kembali jadi sosok penting kemenangan Inter lewat sepakan terarahnya ke ujung kanan gawang Siena.

Kapten Inter Milan, Javier Zanetti mengangkat trofi Liga Italia 2009/2010 (sumber: twitter.com/javierzanetti)

Ujian sebenarnya bagi Inter datang di ajang Liga Champions. Inter tidak terlalu diunggulkan saat itu. Pada fase grup, Inter sempat tampil melempem setelah menjalani tiga laga awal tanpa kemenangan.

Pada tiga laga berikutnya, walau harus kalah dari Barcelona dengan skor 2-0, Inter berhasil menyapu dua laga melawan Dynamo Kyiv dan Rubin Kazan dengan kemenangan. Inter pun berhasil lolos ke fase gugur menemani Barcelona yang menjadi juara grup. Pada fase gugur, Inter sukses melenggang lebih jauh setelah melewati hadangan Chelsea dan CSKA Moscow. Pada semifinal, Inter bertemu kembali dengan Barcelona.

Dua laga kontra Barcelona menjadi salah satu momen ikonik dalam perjalanan Inter merengkuh treble winners, terutama pada laga terakhir. Kemenangan Inter 3-1 pada leg pertama membuat Barcelona mesti menang minimal 2-0 di leg selanjutnya untuk bisa melaju ke final. Tak pelak, Barcelona pun secara membabi-buta menggempur pertahanan Inter.

Bencana datang menghampiri Inter setelah salah satu pemain mereka, Thiago Motta mendapatkan kartu merah Pada menit ke-28 secara kontroversial setelah dianggap menyikut wajah Sergio Busquets.

Dengan serangan terus-menerus dari Barcelona ditambah harus melanjutkan laga dengan 10 pemain, Membuat Jose Mourinho, pelatih Inter saat itu harus memutar otak. Alhasil, Mourinho menerapkan strategi yang memorable di mata para penikmat sepakbola: strategi Parkir Bus!.

Dalam strategi tersebut, Mourinho mengarahkan para pemainnya untuk melakukan permainan ultra-defensive. Seolah-olah, ada sebuah bus diparkir di depan gawang Inter. Tidak tanggung-tanggung, 9 pemain Inter memenuhi sepertiga lapangan di daerah mereka. Taktik ini sukses bikin pemain Barcelona frustasi.

Terhitung dari 15 tembakan yang mana 4 diantaranya mengarah ke gawang, Barcelona hanya mencetak satu angka lewat tendangan Gerard Pique pada menit ke-84. Penguasaan bola mencapai 84% menggambarkan betapa ekstremnya dominasi Barca di laga ini.

Meski unggul dalam statistik pertandingan, hal tersebut tak cukup membawa Barcelona ke partai puncak. Skor 1-0 bertahan hingga akhir laga membuat agregat menjadi 3-2 untuk keunggulan Inter.

Kemenangan Inter atas Barcelona saat itu menjadi sensasi tersendiri bagi para penikmat sepakbola mengingat Barca saat itu merupakan salah satu klub terbaik dunia yang baru saja meraih 6 gelar sekaligus pada musim lalu. Inter pun melaju ke final Liga Champions setelah 38 tahun lamanya.

Pada pertandingan final yang jatuh tanggal 22 Mei 2010, Inter bersua dengan Bayern Munchen, wakil dari Jerman. Dalam laga tersebut, Inter mengamankan trofi Liga Champions setelah menyudahi perlawanan Bayern dengan skor 2-0. Diego Milito lagi-lagi menjadi penentu kemenangan Inter dengan memborong semua gol.

Tangis haru salah seorang fans Inter ketika klub idolanya berhasil mengalahkan Bayern Munchen di final Liga Champions 2009/2010 (sumber: UEFA)

Para pemain serta staf Inter pun berhamburan ke lapangan merayakan kemenangan. Malam itu, Inter tidak hanya merajai Italia, tetapi juga Eropa. 2010 menjadi tahunnya Inter.

Raihan ini menjadi yang paling istimewa karena selain melengkapi capaian treble winners, Inter akhirnya bisa merasakan kembali gelar jawara Liga Champions setelah terakhir kali melakukannya 45 tahun yang lalu. Wah kebayang nggak tuh seberapa senengnya fans Inter.

Seretnya Prestasi Pasca Treble

Setelah segala raihan manis yang diraih pada musim 2009/2010, hal tersebut justru menjadi awal mandeknya prestasi Inter. Hengkangnya Jose Mourinho menjadi salah satu faktor utamanya.

Walau masih bisa mempertahankan trofi Coppa Italia serta memenangkan Piala Dunia Antarklub di musim berikutnya, sepak terjang Inter selama beberapa tahun kedepan terasa hambar. Belum ada lagi koleksi trofi baru yang mampir ke lemari Inter. Pada musim 2012/2013 saja Inter bahkan hanya sanggup bertengger di peringkat 9 klasemen Liga Italia.

Inter juga semakin jarang ikut serta dalam ajang Liga Champions. Tercatat Inter pernah absen 6 musim berturut-turut dari kompetisi tertinggi antarklub Eropa itu. Jangankan tampil di Liga Champions, untuk bisa dapat jatah slot di Liga Europa yang satu kasta di bawah Liga Champions saja rasanya Inter mesti bersusah payah.

Kini Inter perlahan-lahan mulai bangkit, Hal itu mulai tercium sejak Inter sudah bisa konsisten nangkring di lima besar Liga Italia dalam 3 tahun terakhir. Inter juga sukses nongkrong di dua edisi terakhir Liga Champions. Pada musim ini, Inter bahkan sempat menguasai puncak klasemen sementara Liga Italia selama beberapa pekan yang sayangnya kini harus ikhlas disalip Juventus dan Lazio.

Sudah sepuluh tahun lamanya sejak kedigdayaan klub asal Milan itu. Banyak pihak terutama Interisti rindu akan kejayaan Inter. Jika bisa terus konsisten menaikkan peforma dalam menjalani kompetisi, bukan tidak mungkin lemari trofi Inter yang sudah lama berdebu bisa kembali sesak.

Reporter : Mohammad Hatta

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here