Goodbye, Things : Hidup Minimalis bagi Mahasiswa

0
48
Ilustrasi gaya hidup minimalis (sumber : gypsysoul.co.uk)

Gaya hidup minimalis merupakan gaya hidup yang dipopulerkan oleh Fumio Sasaki seorang penulis buku kelahiran Jepang, 35 tahun silam.Lewat bukunya yang berjudul ‘Goodbye,Things : Hidup Minimalis Ala Orang Jepang’. Fumio Sasaki berbagi tentang pengalaman hidup minimalisnya. 

Gaya hidup ini dapat diartikan sebagai upaya mengurangi sifat konsumtif dengan cara hidup yang lebih sederhana. Dimana pola hidup ini dapat diterapkan dengan membatasi diri dari perilaku konsumtif dan mengganti mindset dengan “less is more” yang berarti tidak apa-apa jika tidak memiliki banyak harta benda, karena kebahagiaan hiduplah yang terpenting.

Gaya hidup minimalis juga dipengaruhi oleh filosofi Zen, yakni suatu ajaran Buddha yang menekankan pentingnya kesederhanaan demi pikiran yang lebih tenang dan hidup yang lebih bahagia. Ajaran ini juga menekankan kehidupan manusia untuk dapat meminimalisasi atau bahkan menghilangkan keterikatan terhadap hal-hal yang berbau duniawi.

Gaya hidup minimalis pun sudah banyak diterapkan oleh masyarakat Jepang, penerapan gaya hidup ini di Negari Sakura tersebut tentunya juga sangat masuk akal mengingat Jepang sering dilanda gempa bumi,sehingga kepemilikan barang  secara berlebihan bisa saja merugikan atau mungkin mencelakakan pemiliknya.

Selain di Jepang, gaya hidup minimalis pun belakangan juga menjadi tren di kalangan masyarakat Indonesia. Karena gaya hidup ini ternyata memiliki banyak sekali manfaat, dan manfaatnya pun dapat dirasakan oleh seluruh aspek masyarakat tak terkecuali mahasiwa,seperti mengatasi masalah keuangan yang acap kali dihadapi.

Lantas bagaimana cara memulai gaya hidup minimalis bagi mahasiswa?

Berpikir sebelum membeli, pastikan pengeluaran hanya untuk yang terbaik

Ilustrasi Belanja (sumber : expedia.uk)

Jika berbicara tentang berbelanja, mahasiswa sering kali tergiur dengan hal-hal berbau diskon, hal ini sering kali berdampak kepada niat berhemat. Oleh karena itu, sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan kembali pada diri sendiri apakah kita benar-benar membutuhkannya dan kembali pada tujuan awal dari berbelanja.

Hal ini tentunya dapat membantu meminimalisir pengeluaran untuk hal yang tidak diperlukan. Oleh karena itu, sisa uang dapat digunakan untuk hal yang lebih dibutuhkan. Sehingga, mahasiswa pun dapat menghemat uang sakunya.

Kurangi ikatan sentimental, tidak ada  satu barang pun yang akan membuat kita menyesal setelah kita melepasnya

Ilustrasi gaya hidup minimalis (sumber : idntimes.com)

Gaya hidup minimalis,tidak bisa lepas dari meminimalisir segala hal yang kita miliki, termasuk barang-barang di sekitar kita. Sering kali, kita terlalu terikat dengan barang yang kita miliki sehingga kita terus menyimpannya, meski barang tersebut sudah tidak terpakai lagi.

Untuk mengatasinya, kita bisa menerapkan metode bebenah dari Marie Kondo, seorang minimalist asal Jepang yang juga penulis buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing, salah satu metodenya adalah Sparks Joy, yaitu memprioritaskan barang yang membawa kebahagiaan, atau barang yang memiliki memori yang berkaitan. Sehingga, barang-barang yang tidak membawa kebahagian maupun memori di dalamnya dapat dibuang, didaur ulang, dijual,maupun disumbangkan. Cara ini, tentunya dapat membantu mahasiswa mendapatkan penghasilan lebih dari barang-barang yang dijual.

Buka tabungan untuk menyisihkan pendapatan

Ilustrasi tabungan (sumber : lifepal.co)

Menerapkan gaya hidup minimalis, otomatis pengeluaran pun akan berkurang drastis. Sehingga uang saku pun dapat tersimpan dengan baik. Agar uang tersebut dapat bermanfaat, mahasiswa dapat mulai membuka rekening baru yang ditujukan khusus untuk menabung.

Dengan menggunakan rekening baru yang dikhususkan untuk menabung ini, uang bisa disisihkan untuk membeli sesuatu yang bisa menjadi investasi jangka panjang.

Dari Maximalist Menjadi Minimalist,membiasakan diri sebagai minimalist

Salah satu penerapan gaya hidup minimalis (sumber : medium.com)

Mahasiwa harus dapat memulai gaya hidup minimalis dengan penuh keyakinan dan kesadaran. Bukan sekedar ikut-ikutan, tetapi memang berniat untuk menjadi lebih sederhana dalam segala hal.

Gaya hidup minimalis harus diterapkan dalam semua aspek, mulai dari barang-barang di sekitar, pakaian yang dikenakan, barang yang akan dibawa saat bepergian, sampai makanan yang akan dikonsumsi. Di sisi lain, pastinya akan ada rasa yang tak biasa saat pertama kali menjalani gaya hidup ini. Namun, perlahan pasti kita akan mulai terbiasa.

Walau terasa sulit, gaya hidup minimalis tentunya memiliki begitu banyak manfaat, terutama bagi mahasiswa. Diantaranya bagi mahasiswa yang juga anak kos, gaya hidup minimalis secara efektif membuat mahasiswa tidak perlu mengkhawatirkan dan merawat barang–barang yang dimilikinya. Sehingga, mahasiswa akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan yang disukai.

Selain itu, mahasiswa juga dapat menjadi lebih bahagia karena terhindar dari stress dan perasaan negatif lainnya karena terus mengejar kepuasan materi. Kamar kos yang mungil juga akan terasa lebih lega dan lapang, tentunya akan memberikan dampak pada perasaan dan pikiran.

Terakhir, menerapkan gaya hidup minimalis tentunya juga bisa membantu mahasiswa untuk menghemat pengeluaran untuk sesuatu yang lebih krusial,terlebih sebagai mahasiswa yang akan memiliki lebih banyak kebutuhan di masa depan nantinya.

Jadi, apakah kamu berani mencoba gaya hidup minimalis mulai dai sekarang, Sobat Warta?

Reporter : Echa Carissima

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here