New Normal di Kampus, Apa Bisa?

0
14
Keadaan Universitas Padjadjaran menjadi sepi saat pandemi Covid-19 tengah melanda. (sumber : dok Warta Kema/Anastasia Gabrielle)

Pandemi virus Covid-19 yang belum menemui titik rendah di Indonesia secara keseluruhan ini membuat banyak pihak memutuskan untuk memperpanjang masa PSBB-nya. PSBB, atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, merupakan salah satu solusi kebijakan yang diterapkan pemerintahan Indonesia untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 yang rentan sekali menular. Kebijakan ini mempengaruhi banyak sekali aspek, seperti pusat bisnis, rekreasi, tempat makan, sektor pekerja, juga instansi pendidikan.

Universitas Padjadjaran sendiri turut mengambil alih memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan memberhentikan perkuliahan secara tatap muka dan menggantinya menjadi daring sejak bulan maret lalu, juga memperpanjang masa perkuliahan daring dari rencana awal yang hanya selama dua minggu, menjadi satu semester penuh.

Keputusan ini mendapat respon campur-aduk dari mahasiswa Universitas Padjadjaran. Pasalnya, tidak hanya perkuliahan saja yang berganti menjadi daring, hal-hal seperti sidang skripsi, seminar usulan penelitian, juga wisuda pun harus berubah sistemnya, hal baru semacam ini memerlukan waktu yang cukup panjang hingga mahasiswa dapat beradaptasi dengan kenyataan yang ada.

Perkuliahan daring pun menjadi banyak meninggalkan aspek-aspek penting dalam kelasnya, seperti praktikum atau penelitian lapangan yang harus melibatkan pertemuan secara tatap muka, hal itu terpaksa tidak dilaksanakan demi menjaga kesehatan para civitas akademik.

Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan Universitas Pendidikan Indonesia di kampus Cibiru. Mahasiswa kurang menyambut pembelajaran daring dengan baik, sebesar 53,7% mahasiswa tidak setuju pembelajaran daring sebagai altenatif kegiatan akademik di masa pandemi, dan hanya 40,3% yang setuju.

Mahasiswa menyatakan bahwa mengalami kesulitan pembelajaran daring karena ketersediaan kuota yang terbatas, jaringan internet yang sulit, ketersediaan perangkat belajar, dan suasana rumah yang tidak mendukung.

Pembelajaran yang tiba-tiba berubah menjadi daring memang cukup mengejutkan, terlebih lagi mahasiswa diminta harus segera beradaptasi dengan kondisi tersebut agar perkuliahan tetap berjalan. Melihat hal ini, banyak instansi pendidikan yang kemudian mengkaji ulang bagaimana sebaiknya sistem perkuliahan di semester ganjil berikutnya dilakukan. Pasalnya, pemerintah Indonesia sedang dalam masa mentransisi kehidupan negaranya menjadi new normal setelah masa PSBB berakhir.

Apa itu New Normal?

Kondisi new normal adalah tatanan baru untuk beradaptasi dengan virus Covid-19. Intinya, menjalani kehidupan dengan normal lagi, namun ‘normal’ yang ada memiliki standar baru, seperti dibiasakannya bangku diberi peringatan jarak, penggunaan masker secara rutin ketika berpergian, pengecekan suhu tiap memasuki bangunan atau ruangan, mencuci tangan tiap saat, dan lain sebagainya.

Kondisi new normal ini pun mendapat sambutan pro dan kontra dari banyak orang, walau begitu banyak para ahli kesehatan yang setuju dengan implementasi new normal di Indonesia, salah satunya adalah juru bicara Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto.

Mengutip dari liputan6.com, ia menyatakan bahwa di masa-masa ini, masyarakat sebaiknya tidak menyerah dengan keadaan, melainkan menjaga produktivitas agar tetap terhindar dari Covid-19, namun untuk hal itu maka diperlukan tatanan baru. Hal ini juga menjadi solusi negara untuk kembali menyalakan roda perekonomian negri yang sempat diterjang habis-habisan oleh Covid-19.

Karenanya, banyak pusat bisnis dan sektor baik formal maupun informal yang mulai beroperasi dengan menjalankan new normal. Walau begitu keputusan pengaplikasian new normal ini menjadi sebuah pertanyaan besar untuk sektor pendidikan, terutama universitas. Umumnya kegiatan belajar mengajar dalam kelas tentunya dilaksanakan tatap muka, dan tidak jarang jumlah kapasitas mahasiswa dalam satu kelas dapat mencapai seratus orang lebih.

Apakah New Normal dapat diaplikasikan di Kampus?

Beberapa kampus di Indonesia sudah mulai menyiapkan penyelenggaraan new normal di kampusnya pada semester berikutnya, diantaranya adalah skenario mengenai bagaimana hal tersebut dapat diterapkan. Dilansir dari web resmi Unpad (5/6), Unpad sendiri sudah menyiapkan skenario tatanan baru penyelenggaraan kegiatan kampus.

Skenario tersebut dibagi berdasarkan tiga tahap, dengan tahap awal berupa penutupan kampus dan hanya membuka akses untuk kebersihan, keamanan, dan lab deteksi Covid-19. Tahap kedua berfokus pembukaan akses berbatas di kampus untuk mahasiswa profesi dan pascarasarjana, sebelum ke tahap ketiga berupa pembukaan kampus dengan pengaplikasian new normal dan layanan pendidikan blended learning.

Kunci dari keberhasilan penerapan new normal pada perkuliahan adalah kepatuhan seluruh masyarakat universitas dan sarana-prasarana kebersihan yang disediakan oleh pihak Universitas. Pada saat kampus mulai dibuka dengan bertahap, tentunya akan banyak protokol kesehatan yang ketat untuk menjaga agar produktifitas berlangsung dengan memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan para civitas.

Di sisi lain, para staff pun juga harus patuh dalam menjalankan protokol tersebut. Tidak jarang adanya kejadian dimana semakin lama peraturan ketat yang awalnya diaplikasikan mulai longgar seiring berjalannya waktu, hal ini sangat perlu dihindari, kelonggaran kepatuhan pada protokol yang telah ditetapkan hanya akan memberikan celah masuk yang besar untuk terjadinya penularan virus.

Selain kepatuhan juga, pihak universitas harus dapat mendukung penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung protokol kebersihannya dalam menerapkan new normal.

Sarana dan prasarana tersebut mencakup penyediaan tempat mencuci tangan di tiap sudut lingkungan kampus, pembatasan jarak dalam angkutan kampus atau pusat ATM, pengecekan suhu, sosialisasi lewat banner atau lainnya mengenai perlengkapan yang harus dimiliki tiap orang seperti masker, dan lain sebagainya. Hal ini diperlukan sebagai wujud nyata dari pengaplikasian protokol kesehatan baru untuk new normal dapat berlangsung.

Pandangan Mahasiswa

Banyak mahasiswa yang cemas dengan bagaimana kejelasan pengaplikasian sistem kegiatan belajar-mengajar di semester berikutnya yang akan segera dilaksanakan pada perkiraan bulan agustus. Berdasarkan hasil wawancara singkat dengan beberapa mahasiswa aktif dari lintas universitas, terdapat pro dan kontra mengenai bagaimana sistem yang nantinya dipilih oleh Unpad.

“Kalau kuliahnya online, materi jadi lebih sulit untuk dimengerti.” Ujar Kheista, mahasiswi Unpad angkatan 2018 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad berdasarkan wawancara singkat Selasa (9/6).

“Waktu pelaksanaan kelas daring pun, kita di awal dominan menggunakan aplikasi yang waktu pertemuannya dibatasi per 40 menit. Penggunaan waktu 40 menit itu pun juga gak maksimal, karena biasa kepotong untuk nunggu dosen atau mahasiswa lain masuk dulu, akhirnya berujung materi yang disampaikan juga lumayan terburu-buru untuk mengejar efisiensi waktu.” Lanjutnya.

Hal yang sama dirasakan pula oleh seorang mahasiswa Universitas Indonesia dari Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2017, Naufal Nesta. Menurutnya pembelajaran menggunakan metode daring terasa sangat sulit, karena tenaga kependidikan masih ada yang kurang memahami teknologi yang digunakan.

“Dosen-dosen di jurusan saya kebanyakan kurang update dengan teknologi yang ada, bahkan masih sering bingung cara mengakses link youtube. Saya kurang tau di tempat lain, namun kelas saya sudah terbiasa dengan pembelajaran tatap muka sehingga pembelajaran daring menjadi sangat sulit, terlebih lagi gak semua orang punya buku kan selama belajar di rumah. Menurut saya, situasi ini lebih ke ‘pemberian tugas secara daring’ dibandingkan belajar secara daring. Kurang baik juga untuk kesehatan mental, ataupun kesehatan mata karena dibuat menatap layar terus.” Jelasnya ketika diwawancarai via applikasi pesan singkat.

Harapannya perkuliahan di universitas dapat kembali menjadi secara tatap muka, melihat bagaimana pembelajaran daring justru tidak menjadi alternatif yang baik bagi mahasiswa, walau begitu tentunya hal tersebut tidak dapat dilakukan serta-merta melihat bagaimana kondisi pandemi ini di Indonesia belum kunjung membaik.

Mengutip dari halaman media sosial twitter @DraftAnakUnpad, banyak mahasiswa yang mengirimkan pesan mengeluhkan pilihan kampus semisal menjadikan pembelajaran semester dengan menjadi tatap muka. Diantara keluhan tersebut, mahasiswa menyatakan kontra bahwa pembelajaran daring justru memiliki resiko mempercepat penyebaran Covid-19.

Mereka juga mempertanyakan tingkat kepatuhan mahasiswa dalam menjalani protokol kesehatan yang ada. “Memangnya kalau kuliah balik jadi tatap muka, kalian bisa nggak nongkrong/kumpul dalam satu tempat yang sama?” Kutip penulis dari salah satu postingan akun twitter tersebut.

Efektivitas penerapan new normal dalam kampus Universitas Padjadjaran berpegang erat dengan bagaimana hal tersebut dapat diaplikasikan secara patuh atau tidak oleh seluruh civitas akademik, dan adanya dukungan sarana-prasarana dari pihak universitas untuk pengaplikasian protokol kesehatan tersebut.

Harapannya, bagaimana sistem belajar mengajar yang akan diterapkan Unpad kedepannya dapat membantu pembelajaran perkuliahan menjadi lebih efektif lagi, tentunya dengan memperhatikan penuh kesehatan para civitas akademik untuk kedepannya.

Reporter : Malika Ade Arintya

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here