Desa Adat Bukan Sekadar Destinasi Wisata

0
60
Desa Adat Suku Baduy yang kerap kali menjadi destinasi wisata baik turis mancanegara maupun turis lokal (sumber : JaringanPenulis.com)

Indonesia, seperti yang sudah kita ketahui merupakan negara yang memiliki ribuan budaya dan adat yang berbeda di tiap jenjang pulaunya. Perbedaan ini merupakan suatu harta kekayaan yang selalu dibangga-banggakan oleh penduduknya. Dengan slogan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda tapi tetap satu, warga negara Indonesia hidup saling berdampingan dan gotong-royong tanpa membedakan seseorang dari suku dan rasnya.

Masyarakatnya pun, disisi lain turut berbangga pada identitas budaya yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Meskipun Indonesia sudah memasuki era industrial 4.0, hal itu tidak sekalipun melunturkan kearifan lokal yang dipegang oleh masyarakatnya, melainkan turut hidup dan berkembang bersamaan dengan majunya zaman.

Para pemangku adat sudah lama hidup dalam normanya masing-masing. Walau begitu hal tersebut tidak membuat mereka memutuskan diri dengan koneksi di luar kelompoknya.

Dari tahun ke tahun, para kelompok masyarakat adat dengan tangan terbuka menyambut kedatangan orang-orang yang ingin mempelajari kebudayaannya lebih lanjut ke dalam desa adat mereka. Mulai dari para penjelajah barat hingga masyarakat Indonesia sendiri di era modern ini.

Akses ini selain dimanfaatkan untuk keperluan akademik, banyak pula dimanfaatkan untuk destinasi wisata. Banyak masyarakat adat yang memanfaatkan hal ini untuk membuat tur mengelilingi desanya dan mempromosikan hasil kerajinan lokal.

Akan tetapi, dari tindakan wisata ini banyak sekali kasus yang justru merugikan kondisi desa adat yang ada. Turis-turis yang datang seakan tidak mengerti bahwasanya tempat yang mereka datangi bukanlah sekedar lokasi wisata tanpa adanya aturan-aturan yang harus dipatuhi. Hal ini membuat banyak sekali berita-berita yang keluar mengenai tingkah laku turis yang menyebalkan dari portal berita lokal.

Akan tetapi, dari tindakan wisata ini banyak sekali kasus yang justru merugikan kondisi desa adat yang ada. Turis-turis yang datang seakan tidak mengerti bahwasanya tempat yang mereka datangi bukanlah sekedar lokasi wisata tanpa adanya aturan-aturan yang harus dipatuhi. Hal ini membuat banyak sekali berita-berita yang keluar mengenai tingkah laku turis yang menyebalkan dari portal berita lokal.

Bahkan, di tahun 2020 ini Indonesia sempat diguncang berita mengenai masyarakat adat Baduy yang mengirimkan surat permohonan kepada pemerintahan untuk menghapus desanya dari destinasi wisata. Melansir dari Tempo.co, hal itu dilatarbelakangi oleh turis yang berdatangan kerap mencemari lingkungan desanya.

Pada dasarnya desa adat tidak jauh dari desa biasa tempat orang-orang berkumpul dan menetap, namun hal itu tidak seharusnya membuat seorang pendatang dapat bertingkah seenaknya saja.

Berdasarkan hasil berbincang dengan Siti Fatimah Al Kautsar yang akrab dipanggil Sifa. Mahasiswi Antropologi FISIP Unpad yang sekaligus menjabat sebagai Kepala Departemen Keilmuan di himpunannya, sikap semena-mena yang biasa ditunjukan oleh turis terjadi karena masih adanya mindset yang menempatkan para masyarakat adat sebagai ‘objek’.

“Ketika kita menjadi pengunjung, menghadirkan diri dalam lingkungan baru. Sebenarnya (dalam cara bersikap di lingkungan desa adat) bukan sekadar memandang desa adat tersebut sebagai desa ‘biasa’ atau ‘tidak’, tapi lebih ke kita harus menghormati bahwa orang-orang yang ada di tempat yang baru (bagi kita) ini bukanlah ‘objek’. Dalam kata lain, untuk ditonton dan dinikmati sebagai sekadar destinasi wisata. Mereka adalah subjek, sama-sama bergerak, ingin didengar dan mendengar.” Jelasnya ketika diwawancarai via pesan singkat.

Perempuan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan 2018 ini memiliki pengalaman turun langsung terlibat dalam penelitian kehidupan masyarakat adat yang sering dilaksanakan Huria Mahasiswa Antropologi tiap tahunnya.

Kasus terburuknya, tidak jarang wisatawan yang datang justru memiliki pemikiran merendahkan dan membandingkan kehidupan yang dijalani masyarakat adat, yang mayoritas masih berpegang dengan alam, dengan gaya hidup pribadi yang lebih ‘modern’. Mirisnya, hal ini pun sudah termasuk aksi diskriminasi.

“Daripada memiliki mindset yang seperti itu, saya rasa tiap pengunjung perlu memiliki sepercik keinginan untuk memahami dan mengerti. Bukan justru memandang masyarakat adat sebagai ‘pihak yang berbeda’ dan dilihat dari jauh, karena mereka bukan sesuatu yang dimuseumkan.” Terangnya.

Ilmu antropologi sendiri mengajarkan para peneliti untuk selalu empirik. Hal ini berarti tidak memiliki asumsi spekulatif, haus ingin memahami dan mengerti hal yang dihadapinya. Sifa rasa tidak ada salahnya mindset seperti ini turut dicontoh oleh para pengunjung yang hendak datang ke suatu wilayah masyarakat adat.

Disisi lain, pemerintah pun harus turut terlibat dalam menjaga kelestarian desa masyarakat adat. Bantuan baik perlindungan lewat aturan-aturan maupun bantuan sosial sangatlah diantisipasi karena mendukung kehidupan masyarakat adat.

Sayangnya, tak jarang program-program yang diberikan pemerintah tidak tercapai karena kurangnya kesamaan paham antara pemerintah dan masyarakat ada dalam melihat masalah yang ada.“Masih terdapat missing link (antara pemerintah dan masyarakat adat).” Lanjut Sifa.

Beberapa program bantuan yang pemerintah coba beri pada masyarakat-masyarakat adat yang lokasinya masih terpencil rentan gagal karena pemerintah terlalu fokus memecahkan solusi dibandingkan memahami topografi dan budaya yang dimiliki masyarakat adat.

Sifa kembali menjelaskan terkait mindset adanya perasaan superior, dimana pemerintah kadang merasa solusi yang diberikan merupakan solusi terbaik, tanpa mengkaji dan memahami terlebih dahulu apakah solusi tersebut cocok dengan nilai-nilai yang dipegang suatu masyarakat adat.

“Pada dasarnya kita harus menanamkan rasa kritis dan ingin memahami, bukan justru kritis dan berujung menghakimi.” Pungkasnya.

Reporter : Malika Ade Arintya

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here