Review Film Rentang Kisah: Rakus dan Tidak Terarah

0
31
(sumber: Falcon Pictures)

Cerita petualangan di negeri orang memang jadi daya tarik tersendiri untuk disimak. Sudah banyak film lokal dengan lanskap luar negeri mampu meraih atensi dari khalayak. Falcon Pictures nampaknya ingin turut serta menjadi suksesor dengan mengadaptasi buku laris berjudul ‘Rentang Kisah’ karya Gita Savitri menjadi sebuah film. Buku terbitan tahun 2017 tersebut berisi cerita kehidupan Gita ketika berkuliah di Jerman. Film ini bisa Sobat Warta saksikan secara eksklusif di layanan streaming Disney Plus Hotstar.

Semua berawal dari kegalauan Gita (Beby Tsabina) mengenai langkah yang akan ditempuhnya setelah lulus SMA. Sempat berhasil lolos di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung, ternyata sang ibu (Cut Mini) sudah memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan Gita ke salah satu universitas di Berlin, Jerman.

Berlandaskan petuah sang ayah (Donny Damara) sewaktu kecil (yang tentunya kontradiksi dengan kondisi pandemi saat ini), Gita pun mantap membuka lembar kehidupan barunya di dataran Eropa. Tidak mudah bagi Gita ketika awal-awal menginjakkan kaki disana. Kesulitan berbahasa, dunia perkuliahan yang berat, ditambah keretakan hubungan asmara sempat membuat Gita patah arang.

Departemen naskah jadi salah satu pihak yang patut disorot dari film ini. Bukan karena hasil yang cemerlang tapi justru sebaliknya. Rentetan plot dan alur dalam Rentang Kisah seperti tidak  punya arah yang jelas mau dibawa kemana. Konflik-konflik yang ada hanya berlalu-lalang sesuka hati sehingga mudah dilupakan.

Transisi dari satu adegan ke adegan lainnya terasa kasar dan sekonyong-konyong. Misal pada babak awal film ketika Gita masih kecil, tiba-tiba saja di adegan berikutnya Gita sudah tumbuh menjadi siswa SMA tanpa dijembatani dengan baik dan menarik.

Lalu ada lagi pada saat Gita akan bertolak ke Jerman, baru saja masuk ke mobil untuk menuju bandara, tiba-tiba saja Gita sudah berada di tengah-tegah kota berlin.

Lubang tersebut jadi semakin terasa dengan kurangnya transparansi timeline yang jelas. Contohnya ketika Gita baru akan menjalani studkoll, seiring berjalannya durasi tiba-tiba saja ia sudah masuk kuliah lalu pada adegan-adegan berikutnya tiba-tiba saja Gita sudah lulus. Tidak ada semacam aba-aba sesederhana keterangan tahun sepanjang film ini.

Yang bikin mengernyitkan dahi adalah bagaimana proses kedekatan Gita dengan Paul (Bio One). Tidak ada indikasi kedekatan mereka sejak awal bertemu ketika Gita hendak membuat video klip bersama kawan-kawan Paul. Tanpa pembangunan chemistry sebelumnya, tiba-tiba saja Gita dan Paul sudah naik sampan bersama di danau dekat kota.

(sumber: Falcon Pictures)

Unsur komedi yang ada pun tidak terlalu membantu. Tokoh Angling yang diperankan Rigen sang jawara Stand Up Comedy awalnya diharapkan bisa memberi nyawa pada film. Kenyataannya, banyolan-banyolan yang dilontarkan Rigen cenderung nanggung dan terlalu memaksa. Bahkan pada salah satu dialog lidah Rigen sempat terpeleset yang membuat lawakannya tidak tersampaikan dengan baik.

Entah fokus apa yang ingin film ini ditampilkan. Apakah hubungan Gita dengan sang ayah? kisah romansa Gita? ataukah persahabatan Gita dengan teman-teman se-kampung-halamannya?. Bias fokus tersebut membuat film yang disutradarai Danial Rifki ini terkesan rakus dan seolah tidak punya konklusi pasti.

Ada hal kecil yang cukup mengganggu di beberapa kesempatan, yakni eksistensi adik Gita. Selain celetukannya yang dirasa kurang tepat untuk umurnya, penggunaan aktor yang itu-itu saja bahkan setelah scene telah berganti tahun dirasa cukup mengganjal. Logikanya, bagaimana bisa tahun sudah bertambah namun ciri fisik si pemeran masih begitu saja.

Walau dengan kekurangan di sana-sini, bukan berarti Rentang Kisah tidak punya nilai tambah. Film ini bisa memanjakan mata penontonnya dengan suguhan montase kota Berlin dengan sangat ciamik. Lagu-lagu easy listening yang seringkali mengiringi terasa pas dalam pengadeganan serta nyaman didengar. Peforma akting sang lakon inti, Beby Tsabina dan Bio One pun tak bisa dibilang buruk.

Sorotan lain pantas diarahkan kepada Cut Mini dan Donny Damara yang berhasil memerankan sosok orang tua yang penyayang dan pengertian. Terlebih peforma Donny Damara pada babak akhir film yang begitu menyentuh.

Akhir kata, Rentang Kisah sebagai sebuah film sejatinya masih layak untuk disaksikan dengan catatan turunkan ekspektasi sebelum menonton. Jika Sobat Warta sudah pernah membaca buku Rentang Kisah serta seorang penikmat konten-konten Gita Savitri, pengalaman menonton film ini bisa jadi lebih menyenangkan.

Reporter : Mohammad Hatta

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here