Aksi #TolakOmnibusLaw di Bandung Berakhir Ricuh

0
15
Seorang demonstran membawa spanduk aksi dalam aksi demonstrasi di depan Gedung Sate, Bandung pada Kamis (8/10). (sumber : Dokumentasi Pribasi/Disma Alfinisa)

BANDUNG, WARTA KEMAUndang-Undang Cipta Kerja atau yang dikenal dengan Omnibus Law telah disahkan pada Senin (5/10) lalu di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta. Pengesahan Undang-Undang ini sontak menimbulkan kontroversi di berbagai kalangan masyarakat. Banyak lapisan masyarakat terutama kaum buruh menolak disahkannya Undang-Undang tersebut karena menganggap merugikan berbagai pihak dan hanya menguntungkan investor maupun pengusaha.

Beberapa poin dalam UU Cipta Kerja dinilai amat merugikan kaum buruh. Selain substansinya, proses penyusunan UU Cipta Kerja dan Omnibus Law dianggap cacat prosedur. DPR dirasa terburu-buru dan kurang transparan dalam pembuatannya. Bahkan, disaat pandemi mereka masih sempat-sempatnya melakukan sidang untuk membahas dan mengesahkan UU Cipta Kerja dibandingkan membuat kebijakan untuk menekan angka penyebaran Covid-19 yang kian meninggi.

Hal tersebut lantas membuat berbagai kalangan kontra dengan UU Cipta Kerja yang sebelumnya juga pernah ditolak saat masih berupa RUU. Amarah dari para buruh dan mahasiswa dilampiaskan melalui aksi unjuk rasa di berbagai wilayah, salah satunya terjadi di Bandung. Pada hari Kamis (8/10), massa buruh dan mahasiswa menyampaikan aspirasinya di depan Gedung Sate, Bandung. Kaum buruh melakukan longmarch dari daerahnya masing-masing sejak pagi.

Mayoritas massa aksi berasal dari kalangan buruh dan mahasiswa dari berbagai kampus di sekitaran Bandung. (sumber : Dokumentasi Pribadi/Disma Alfinisa)

Awalnya, aksi berjalan lancar tanpa adanya tindakan anarkis. Massa mulai berkumpul pada pukul 10.00 sampai 12.00 WIB yang kemudian dilanjut dengan berorasi dan melontarkan tuntutan. Sekitar pukul 14.30 Ridwan Kamil, selaku Gubernur Jawa Barat sempat mendengarkan keresahan massa dan berjanji untuk menyampaikan aspirasi mereka ke pemerintah pusat.

“Meminta kepada bapak presiden untuk minimal menertibkan perpu pengganti undang-undang. karena proses undang-undang ini masih ada 30 hari untuk direvisi oleh tanda tangan presiden dua-dua (surat aspirasi dari buruh) itu sudah saya tanda tangani. Besok pagi akan dikirimkan oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat kepada Ketua DPR serta Presiden Jokowi” sebut Ridwan Kamil dalam pidatonya.

Ridwan Kamil juga mengimbau masyarakat aksi untuk menjaga ketertiban dalam demonstrasi yang berlangsung. “Saya titip silakan suarakan apapun tapi jaga ketertiban dan jangan merusak fasilitas umum. Perjuangan buruh sudah sangat jelas, mereka berkomitmen menyampaikan semua aspirasi tanpa anarkis,” seru Ridwan Kamil.

Massa aksi, khususnya buruh mulai meninggalkan tempat pada pukul 16.00 mengingat aspirasi mereka telah diterima. Namun, massa aksi yang tidak memakai identitas serta atribut yang menandakan mereka berasal dari kalangan buruh atau mahasiswa mulai melakukan tindakan anarkis dan brutal.

Sekitar pukul 16.20, mereka mulai melempari Gedung Sate menggunakan batu. Fasilitas umum seperti lampu jalan pecah karena ulah mereka. Atraksi bakar-membakar pun terjadi di depan Gedung Sate. Berdasarkan penuturan pedagang asongan, kejadian anarkis ini tidak terjadi pada hari sebelumnya.

“Tadi mah pas siang nggak gini, ini baru rusuhnya sore ini. Malah hari kemarin tidak ada seperti gini.” Tutur seorang pedagang asongan yang ditemui di depan Gedung Sate. Ia telah menyaksikan unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa dan buruh selama dua hari berturut-turut.

Mayoritas massa aksi berasal dari kalangan buruh dan mahasiswa dari berbagai kampus di sekitaran Bandung. (sumber : Dokumentasi Pribadi/Disma Alfinisa)

Kejadian itu memicu aparat kepolisian melakukan tindakan represif. Jalan Diponegoro seakan menjadi arena tawuran bagi aparat dan massa. Keadaan semakin memburuk saat polisi keluar dari Gedung Sate dan menembakkan gas air mata. Terdapat lebih dari lima gas air mata yang ditembakan oleh aparat. Massa mulai berlarian ke arah Telkom Indonesia dan Jalan Layang Pasupati untuk menghindari tembakan tersebut.

Ketegangan semakin terasa saat kobaran api mulai dinyalakan di tengah pertigaan Jalan Surapati dan Jalan Sentot Alibasyah. Aksi tersebut cukup mengganggu lalu lintas yang sedang macet dan memaksa polisi untuk melakukan penutupan jalan. Jam menunjukan pukul 17.25 saat area Gasibu dan Gedung Sate bebas dari massa.

Polisi mulai melakukan pengamanan di gerombolan massa. Tidak sedikit perusuh yang ditangkap oleh polisi dengan menggunkan kekerasan. Sampai malam menjelang, aksi kejar-kejaran antara massa dan aparat masih terjadi bahkan hingga menjauhi titik aksi.

Reporter : Disma Alfinisa

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here