Stres Di Tengah Kuliah Online? Ikuti Covid-19 Well-Being Guide Agar Lebih Rileks

0
24
Ilustrasi Bersantai (sumber : Unsplash.com)

Sobat Warta, kuliah online kini sudah menjadi teman kita sehari-hari. Berbagai jenis aplikasi penunjang belajar digunakan para dosen agar mahasiswa tetap dapat menerima haknya, mendapat ilmu. Sayangnya, kuliah online dinilai tidak efektif bagi mahasiswa.

Mengutip dari laman web tirto.id kuliah online dinilai kurang efektif oleh dosen sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Tyo Pamungkas. Ia menyarankan agar dosen sebaiknya memberikan tugas secara offline dan mengajar melalui platform Youtube dan Soundcloud.

Bahkan penilaian kehadiran mahasiswa secara online justru tidak disarankan, karena bukan saja menguras kuota internet juga menurutnya pandemi adalah saatnya beristirahat untuk menjaga kesehatan.

Mahasiswa mengeluhkan sulitnya memahami materi kuliah secara efisien, tugas yang semakin menumpuk, tidak kondusifnya belajar di lingkungan rumah, belum lagi acara organisasi dan kepanitiaan kampus yang serba dibuat online karena harus tetap dijalankan. Hal tersebut dapat memicu terjadinya stress. Padahal, isu kesehatan mental seringkali dielu-elukan di lingkungan kampus sebagai dukungan agar mahasiswa selain sehat secara fisik, juga secara mental.

Daripada memendam stres sendiri, sobat warta dapat mencoba untuk mengikuti panduan Covid-19 Weiss. Lho, memangnya bisa bantu menghilangkan stres? Tentu bisa!

Panduan yang telah diluncurkan Brandon Weiss di situs Psychology.uga.edu/covid-19-well-being-guide pada pertengahan Maret 2020 ini dapat membantu sobat warta untuk memahami gejala-gejala stres yang dialami selama pandemi. Mahasiswa doktoral asal University of Georgia ini membagi panduannya menjadi 4 bagian yakni :

Section 1 : The Mendal Landscape

Ilustrasi mengerjakan checklist (sumber : Unsplash.com)

Sobat warta dapat langsung memberikan checklist ke dalam kolom yang telah disediakan dengan rentang jawaban dari tidak sama sekali sampai sering. Gejala stres yang ditanyakan yaitu rasa marah, takut, sedih, dan terkejut. Jika gejala tersebut sering, terjadi, maka sobat warta harus memikirkan penyebab terjadinya dan menuliskan solusi yang dapat mengurangi frekuensi gejala tersebut terjadi.

Section 2  : COVID-19 Action Plan

Membuat perencanaan (sumber : Unsplash.com)

Di bagian ini, sobat warta diajak untuk lebih mengenal siapa dirimu sebenarnya. Langkah awal, sobat warta bisa menuliskan tujuan atau motivasi untuk diri sendiri. Selain mental yang sehat, fisik juga penting untuk diperhatikan. List makanan sehat favorit dapat dibuat sebagai referensi makanan sehari-hari. Secara tidak langsung, list tersebut mengajak diri sendiri untuk hidup lebih sehat.

Manajemen waktu pun harus diperhatikan, apalagi selama karantina dari rumah kebiasaan baru mempengaruhi pengaturan waktu. Sobat warta dapat mengingat kembali berapa lama waktu yang dihasbikan untuk belajar, bekerja, makan, menonton film, dan tidur.

Terakhir, sobat warta diajak untuk mengingat kembali hal-hal yang meresahkan pikiran selama pandemic seperti masalah ekonomi, penyakit, dan kematian. Tuliskan solusi nyata yang akan dilakukan untuk menghapus pikiran negatif tersebut misalnya dengan berdiam diri dari rumah dan menjaga kesehatan akan menjadikan sistem imun dalam tubuh kuat.

Section 3 : Talking with Children

Mengobrol bersama anak kecil (sumber : Fun Academy)

Berbicara dengan anak kecil seringkali disamakan dengan berbicara antar sesama orang dewasa. Bagi Sobat Warta yang memiliki adik atau keponakan yang masih kecil juga perlu untuk melakukan tips ini.

Weiss menyarkankan agar kita berbicara dengan anak kecil sesuai dengan umurnya. Berbicaralah dengan tenang dan jelas kepada anak berusia 0-5 tahun, agar mereka dapat mencerna maksud dari yang kita utarakan. Beda halnya dengan anak 6-19 tahun yang mulai diberi pekerjaan sekolah dan rumah.

Sobat Warta juga harus memperhatikan kondisi mental dan fisik dari adik dan keponakan dengan menanyakannya secara langsung atau melihat dari aktivitas sehari-hari. Jika mereka sedang tertekan, berempatilah dengan cara membebaskannya dari tugas rumah atau membantunya mengerjakan tugas sekolah.  

Section 4  : Resources

Mencari sumber referensi (sumber : Optimistic Mommy)

Di penutup panduannya, Weiss menyertakan sumber-sumber yang dapat menjadi referensi untuk menghadapi gejala stres dan website yang dapat membantu dari penyakit mental. Tentunya kamu dapat mengunjungi situs-situs tersebut apabila dirasa sangat membutuhkan, ya!

Kuliah online memang sulit untuk dilakukan, tapi menjaga kewarasan lebih penting untuk dilakukan. Sobat warta boleh merasa lelah, putus asa, atau tak berguna tapi biarkanah perasaan itu hanya singgah selewat. Jangan lupa mencintai diri sendiri, keluarga, dan teman terdekat.

It’s OK to cry. It’s OK to feel sad or frustrated. We are just humans. We have emotions.” 

-Sophia Vegas

Reporter : Roro Wulan Latifah

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here