Mahasiswa Salah Satu Penyumbang Sampah Pangan terbesar? 5 Tips Supaya Kita Tidak Buang-Buang Makanan Lagi

0
22
Ilustrasi makanan (sumber : Unsplash.com)

Beberapa waktu lalu tepatnya 16 Oktober 2020 diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia, hari ini diperingati di seluruh penjuru bumi tak terkecuali di Indonesia. Namun, sangat disayangkan Indonesia dinobatkan sebagai “Negara Penyumbang Sampah Pangan Terbesar Kedua di Dunia” menurut The Economist Intelligence Unit.

Hal ini tentu sangat amat memprihatinkan, apalagi jika melihat,bahwa Indonesia juga menjadi salah satu negara di Asia dengan nilai gizi buruk tertinggi. Hal ini tentunya dapat memberikan gambaran jelas, akan betapa tidak meratanya pembendaharaan yang terjadi di Indonesia, sekaligu menunjukkan ketidakseimbangan antara sistem pangan dan pertanian global di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan Kementan, dan juga sumber-sumber lainnya, masyarakat Indonesia bisa menghasilkan 1,3 juta ton sampah pangan per tahunnya. Sehingga jika dirata-ratakan, satu orang dapat menghasilkan 300 kilogram sampah pangan per tahunnya. Hal ini amat disayangkan, karena sampah pangan yang dihasilkan, jika dikumpulkan kembali , sebetulnya cukup untuk memberi makan seluruh rakyat miskin yang ada di Indonesia.

Berbagai survey dan penghitungan pun acap kali dilakukan untuk melihat akar permasalahan ini.Salah satunya adalah dengan melihat kelompok penyumbang sampah terbesat,dan dari berbagai kelompok umur, dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok umur dewasa muda dengan rentang umur 18-24 tahun merupakan salah satu penyumbang sampah pangan terbesar, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di negara-negara lainnya. Dimana, dalam kelompok umur dewasa muda ini, salah satu di antaranya  adalah mahasiswa.

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of Illinois juga mengemukakan bahwa mahasiswa (kelompok umur dewasa muda) memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk membuang makanan,jika dibandingkan dengan kelompok umur lainnya ,hal ini dikarenakan perilaku manajemen makanan belum dipelajari dan merasa belum diperlukan dalam tahap kehidupan mereka.

“Sangat penting untuk memahami perilaku limbah makanan orang dewasa muda serta sikap, kepercayaan, dan kendala lingkungan mereka karena data telah menunjukkan orang dewasa berusia 18-ke 24 yang biasanya adalah salah satu kelompok yang menghasilkan limbah makanan terbanyak,” jelas Cassandra Nikolaus, seorang kandidat doktoral di Departemen Ilmu Makanan dan Nutrisi Manusia di University of Illinois.

Selain itu, Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center for Urban Studies juga ikut memberikan pemikirian terkait gaya hidup milenial ini. “Masalahnya ada pada kesadaran dan kebiasaan. Ini adalah yang paling susah. Setelah tahu bahwa sampah ini jadi masalah, belum tentu juga bisa langsung berubah. Ada kebiasaan yang perlu pelan-pelan diubah,” ujarnya.

Lalu bagaiman cara kita sebagai mahasiswa untuk belajar merubah kebiasaan ini?

  1. Belanja dengan bijak
Belanja dengan bijak (sumber : Hackensack meridian health)

Sebagai mahasiswa terutama mahasiswa perantau dengan duit pas-pasan, promo maupun pemotongan harga lainnya merupakan hal yang acap kali membuat kalap. Sehingga, seringkali membeli begitu banyak hal, karena tergiur harganya yang murah, tanpa memikirkan kegunaannya kelak. Dalam hal ini, mulailah belajar untuk membeli hanya apa yang diperlukan, hal ini amat membantu dalam menghindari makanan terbuang percuma.

  1. Mulai makan dengan porsi kecil
Memulai makanan dengan porsi kecil (sumber : freepik)

Sebagai mahasiswa dengan kegiatan super padat,makan tidak pernah jadi suatu prioritas.Sehingga, saat tiba waktunya makan, kita sering kali kalap dan lapar mata. Memesan dan mengambil semua hal yang terlihat menggiurkan.

Padahal, kita masih punya begitu banyak waktu untuk menambah makanan jika di kurang.

Mengambil makanan dalam jumlah terlalu banyak di awal seringkali menyebabkan kita membuang makanan karena terlalu kenyang.

  1. Masak sesuai takaran
Masak sesuai takaran (sumber : freepik)

Bagi beberapa mahasiswa, memasak dapat dijadikan sebagai alternatif untuk menghemat pengeluaran. Namun terkadang, kita juga sering kalap dan memasak sesuka hati tanpa memikirkan porsinya. Terlebih, dengan mahasiswa yang memang jarang memasak sehingga belum mengerti porsi makanan yang pas.

Hal ini bisa diatasi, dengan mulai memasak dengan mengikuti tutorial atau panduan lainnya, yang menerangkan proses memasak makanan sekaligus porsi yang akan dihasilkan. Dengan cara ini, kita akan terlatih untuk mengetahui jumlah bahan yang dibutuhkan. 

  1. Olah kembali sisa makanan yang ada
Olah kembali sisa makanan yang ada (sumber : oatseveryday)

Kita terkadang masih memiliki makanan sisa, namun tidak tau harus diapakan dan berakhir membuangnya ke tempat sampah. Misalnya, sisa nasi ,padahal sisa nasi ini bisa dibuat menjadi nasi goreng, atau mungkin bubur.

  1. Memberikan pada orang lain
Berbagi makanan (sumber : Temple Daily Telegram )

Dan langkah terakhir adalah memberikannya kepada orang lain. Dimana,  saat kita ingin membuang makanan, kita bisa mulai mengingat orang-orang di sekitar kita yang mungkin membutuhkannya.

Jadi daripada membuang-buang makanan, berikan saja pada orang lain yang lebih membutuhkan. Mungkin, bisa dengan memberikan ke teman kos di kamar sebelah, atau mungkin ke penjaga kos.

Itulah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membantu meminimalisir kebiasaan buruk membuang-buang makanan.  Pencegahan bisa menjadi salah satu solusi paling substantif untuk membantu mengurangi sampah pangan.

Selain itu , dengan tidak membuang-buang pangan, kita turut berkonstribusi dalam banyak hal, seperti menunda pemanasan global, membantu pemerintah mencapai Sustainables Development Goals (SDGs) target 12.5, meminimalisir bencana alam yang disebabkan oleh ulah manusia, serta menjaga ketahanan pangan.

Juga perlu diingat, saat berperilaku mubazir kita telah menyia-nyiakan segala sumber daya dan jangan lupakan juga orang-orang yang sampai perlu mengemis hanya untuk menghilangkan rasa lapar.

Reporter : Echa Carissima

Penyunting : Karina Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here