Masker Scuba dan Problematikanya

0
6
(Sumber foto: beritasatu.com)

Di era pandemi yang belum menemui titik redup ini, pemerintah pun memperkenalkan lifestyle atau gaya hidup baru agar masyarakatnya dapat tetap beraktivitas dengan memperhatikan protokol kesehatan. Gaya hidup baru ini dikenal dengan istilah ‘new normal’.

Dalam new normal, pemerintah menekankan masyarakat untuk mematuhi tiga hal penting selama beraktivitas. Di antaranya adalah mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker. Gaya hidup baru ini memerlukan waktu yang cukup lama sebelum bisa diadaptasi dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Namun, di sisi lain, new normal turut mendorong kemajuan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan membuka peluang bisnis baru.

Bukan hal yang mengejutkan lagi bahwa kondisi pandemi ini menguntungkan bisnis hand sanitizer dan masker. Terutama ketika pemerintah mengumumkan bahwa masyarakat cukup mengenakan masker berbahan kain, dunia bisnis kreatif pun memanfaatkan situasi tersebut dengan menjual beraneka ragam masker yang memiliki motif manis juga maskulin.

Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa informasi yang pemerintah berikan kurang spesifik, sehingga hal ini pun berujung menciptakan permasalahan sosial yang baru, yaitu polemik penggunaan masker scuba.

Apa sih Masker Scuba?

Untuk para penggemar idola Korea, masker berbahan scuba bukanlah hal yang begitu asing untuk didengar. Scuba merupakan bahan gabungan dari polyster dan spandeks, sehingga membuat masker dengan bahan ini bersifat lentur dan cenderung ‘membentuk’ lekukan badan, dalam kasus ini adalah bentuk wajah. Masker ini sering digunakan para idol Korea yang hendak menyamar, walau cenderung gagal, ketika sedang berpergian.

Masker scuba berbahan tipis, fashionable, tidak membuat daerah sekitar wajah pegal atau pun sakit, dan relatif murah karena harga bahan scuba yang termasuk terjangkau. Hal itulah yang membuat masker scuba turut menjadi salah satu pilihan masyarakat ketika dihimbau mengenakan masker kain oleh pemerintah.

Mengapa Pemerintah Melarang Pemakaian Masker Scuba?

Jika kalian cukup peka dengan daya menular virus corona, dari deskripsi di atas yang menyatakan bahwa ‘masker scuba berbahan tipis’, mungkin sudah cukup menegaskan mengapa masker berbahan scuba sangatlah tidak cocok digunakan untuk menangkal virus.

Masker scuba yang sering diperjual-belikan kebanyakan hanya berupa satu lapis kain, jauh dari anjuran keselamatan pemerintah dan World Health Organization (WHO) untuk mengenakan masker yang notabene berlapis tiga. Masker scuba sejak awal memang tidak diciptakan untuk menangkal droplet, baik dari luar maupun dari diri sendiri, melainkan untuk keperluan fashion dan gaya.

Walaupun Faktanya Begitu, Mengapa Masker Scuba tetap Populer?

Mengambil fenomena demo RUU Cipta Kerja pada awal bulan Oktober lalu, banyak sekali dokumentasi-dokumentasi yang tersebar menunjukan bagaimana kondisi para pendemo ketika turun ke jalan di tengah situasi pandemi ini. Para pendemo menaati dengan baik aturan protokol kesehatan yang diberi pemerintah dengan turut berpartisipasi mengenakan masker.

Akan tetapi, tidak jarang terdapat beberapa orang yang terlihat mengenakan masker berbahan scuba. Bisa jadi masker tersebut merupakan alternatif ternyaman untuk digunakan ketika hendak beraktivitas di bawah teriknya sinar matahari, terutama untuk mengeluarkan suara yang lantang ketika meluncurkan protes.

Warta Kema baru-baru ini mengadakan studi kasus kepopuleran jenis masker yang dipakai lewat survei kepada mahasiswa Universitas Padjadjaran pada tanggal 26 – 28 Oktober 2020. Survei ini diikuti oleh 182 mahasiswa dari 11 fakultas.

Hasil survei menyatakan bahwa masker kain menempati posisi pertama sebagai masker yang sering dipakai mahasiswa, diikuti masker medis, kemudian masker scuba, dan duckbill.

Masker-masker tersebut dipilih karena dirasa nyaman dipakai (71.4% suara), mudah didapat (58.8% suara), dan praktis karena dapat digunakan kembali (57.7% suara).

Dari ratusan responden, 97% merasa bahwa masker merupakan alat yang penting digunakan di era pandemi ini. Selain untuk perlindungan diri, memakai masker merupakan kesadaran diri sendiri untuk turut menjaga orang lain agar tidak tertular virus.

Empati dan solidaritas yang terbangun pada masa pandemi ini merupakan langkah yang baik untuk perlahan-lahan menuju Indonesia yang terbebas dari penularan Covid-19. Sayangnya, rasa solidaritas ini tidak dibarengi dengan peran serta pemerintah memberikan informasi akurat dan konsisten terkait protokol kesehatan yang baik dan benar.

Akan memerlukan waktu yang cukup panjang sampai informasi terkait bahaya masker scuba dapat tersebar kepada masyarakat. Hal ini pun dapat menimbulkan polemik baru berupa ruginya para pelaku UMKM masker scuba. Walaupun begitu, protokol kesehatan harus dengan tegas dan disiplin diterapkan demi menurunkan angka penyebaran Covid-19 dan mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.

Penulis : Malika Ade Arintya

Penyunting : Allisa Salsabilla Waskita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here