Setahun Lebih Perkuliahan Daring di Unpad, Apa Kata Mereka?

0
146
sumber: freepik.com/yanalya

Sudah satu tahun lebih semenjak pelaksanaan kuliah di Unpad dilakukan secara daring. Pada beberapa bulan awal pelaksanaannya, sistem pembelajaran daring di Unpad bisa dibilang belum terencana dan terlaksana dengan baik. Hal ini diamini Dhea Annisa, Mahasiswi Fakultas Peternakan. Ia mengungkapkan kesulitannya ketika awal-awal dilaksanakannya perkuliahan daring.

“Yang aneh itu ada beberapa kelas yang dilaksanakan lewat Grup WhatsApp. Bagi saya, kelas lewat WA ini bikin materi menjadi agak sulit diserap. Tapi ini wajar karena siapapun pasti kaget dengan perubahan yang tiba-tiba ini. Mulai masuk semester 7, pelaksanaan kuliah daring di Unpad sudah membaik, mulai menggunakan platform yang juga sangat membantu,” ujar Dhea.

Meski begitu, Dhea tidak menampik kuliah daring ini memudahkannya dalam sejumlah hal, salah satunya ketika menjalani bimbingan. Ia mengungkapkan bahwa bimbingan menjadi lebih fleksibel karena bisa dilakukan dimana saja pun secara ongkos lebih irit.

Rafid Aziz, mahasiswa Fakultas Psikologi mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, dari waktu ke waktu, pelaksanaan kuliah daring di Unpad semakin membaik. Hal itu ditandai dengan pemanfaatan fitur dan fasilitas teknologi penunjang.

“Kuliah daring ini lebih efektif dan praktis karena bisa langsung mencatat materi. Selain itu, kuliah online ini juga sangat mendorong dosen untuk berinovasi dan merangsang perkembangan teknologi. Saya juga merasa bahwa kuliah daring ini membuat fasilitas seperti Live Unpad menjadi lebih diperhatikan,” papar Rafid.

Perbaikan pembelajaran daring di Unpad selama masa pandemi tidak terlepas dari pelatihan yang disosialisasikan kepada dosen. Hal itu diakui Denie Heriyadi, Dosen Fakultas Peternakan. 

“Sangat membantu, bahkan saya mendapat e-learning sejak 2009, jauh sebelum pandemi. Unpad memang sudah mengarah ke sana, pembelajaran asinkronus. Unpad juga sangat memfasilitasi sekali dengan pelatihan Live Unpad. Kita bangga terhadap adanya ini,” klaim Denie.

Salah satu hambatan lain yang dirasakan adalah teknis praktikum. Rafid mengatakan pelaksanaan praktikum pada kuliah daring menjadi tantangan tersendiri. Masalah yang sama juga dialami oleh Dhea. Meskipun pembelajaran teori sudah efektif, pelaksanaan praktikum dirasa belum efektif. Ia menyarankan sebaiknya ada perubahan dalam pelaksanaan praktikum selama daring.

“Saya agak kesulitan dari segi praktikum, sulit untuk memahami video-video dari YouTube, apalagi yang mengharuskan kita menggunakan fasilitas laboratorium. Bagi saya, lebih baik jika dosen yang memeragakan dan merekam langsung,” tambah Dhea.

Setali tiga uang dengan yang Dhea, Denie menjelaskan bahwa salah satu kompetensi pendidikan, yaitu skill, menjadi sulit terserap oleh mahasiswa. Selain itu, beliau juga mengatakan pembelajaran daring ini sedikit banyak mempengaruhi sisi psikis mahasiswa.

“Kompetensi pendidikan, bagi mahasiswa itu harus terjadi keseimbangan antara penguasaan knowledge, skill, dan attitude. Kalau dengan daring, paling akan pincang bagian skillnya, beberapa praktikum tidak bisa dilaksanakan. Misalkan belajar mengolah tanah dengan traktor, jika hanya berbekal teori akan sangat susah pada saat berhadapan dengan traktor,” ungkap Denie.

Dengan begitu, beliau juga menyebutkan beberapa solusi yang menurutnya dapat membuat sistem pembelajaran daring di Unpad menjadi lebih efektif. Salah satunya melakukan kombinasi antara daring dan luring (hybird).

“Kombinasi diperlukan. Perlu melakukan tatap muka. Ada hal-hal yang tidak digantikan secara daring. Interaksi langsung antar mahasiswa. Orang seperti dipenjara kalau dengan daring. Ngobrol dan ketawa bareng teman-teman itu makanan psikis yang diperlukan”

“Daring diperlukan untuk kondisi tertentu. Luring juga diperlukan. Kalau mahasiswa mau sidang, perlu ruangan banyak. Selain itu ketersediaan kelas juga berebutan, dengan daring akan lebih mudah. Saya lebih suka daringnya proporsinya diperbesar 30% dan 70%. Yang luring untuk praktikum dan daring untuk pembelajaran teori,” tutup Denie.

Reporter: Disma Alfinisa & Aqshal Fazrullah

Editor: Hatta Muarabagja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here