Shine Unpad, Cahaya Pendidikan dari Mahasiswa Untuk Jatinangor

0
99
Suasana Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) komunitas Shine Unpad di lantai 3 gedung Rektorat Unpad. (sumber : Dokumen Pribadi)

Pendidikan merupakan pondasi utama untuk kemajuan bangsa. Namun, masih banyak pelajar di Indonesia tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena berbagai alasan, salah satunya adalah faktor ekonomi.

Dengan alasan itu, berdirilah komunitas Shine Unpad. Komunitas yang bergerak di bidang pendidikan ini memberikan layanan bimbingan belajar gratis terkait tes persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk siswa/i SMA sekitar Jatinangor yang kurang mampu, setelah melewati beberapa tahap penyeleksian murid yang diadakannya. Komunitas ini telah hadir sejak tahun 2016 dengan nama TSP Unpad (Taman Siswa Project Chapter Unpad), sebelum akhirnya mengalami perubahan. 

Shine dibentuk oleh alumnus FEB Unpad angkatan 2015, dilandasi dengan kesadaran sosial mengenai banyaknya siswa/i di Sumedang yang mengalami keterbatasan akses untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Saat ini, komunitas Shine sudah melebarkan sayapnya di beberapa universitas selain Unpad, seperti UI dan ITB.

Shyafira, wakil presiden Shine Unpad yang juga pernah merangkap sebagai pengajar, bercerita bahwa banyak anak-anak SMA yang setelah lulus lebih memilih untuk menikah atau membantu pekerjaan orang tua mereka. Tidak ada pemikiran untuk melanjutkan pendidikan hingga bangku kuliah karena anggapan bahwa biaya kuliah cukup mahal. Maka dari itu, Shine hadir untuk memberikan ilmu serta mengubah pola pikir siswa/i SMA agar memiliki semangat untuk berkuliah.

Untuk menjalankan kegiatannya, Shine menyebarkan informasi ke sekolah-sekolah melalui guru BK atau event Shine Goes To School (SGTS). Setelah itu, siswa yang tertarik mengikuti kegiatan Shine diwajibkan memenuhi persyaratan administrasi seperti fotokopi rapor dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). 

Pendaftar yang lolos tahap administrasi harus mengikuti tahap wawancara untuk memastikan kesungguhan mereka untuk belajar bersama Shine. Usai tahap wawancara, tim Shine kemudian memberikan tes akademik untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan para calon siswa. Setelah hasil tes keluar dan calon siswa telah diseleksi, proses belajar-mengajar pun dilaksanakan. Saat ini Shine memiliki sekitar 7-9 siswa ranah Saintek dan 7 siswa ranah Soshum.

Shine mengadakan kegiatan belajar-mengajarnya tiap hari Sabtu dengan tempat yang berpindah-pindah antara Masjid Raya Unpad (MRU) atau saung di Fakultas Kedokteran. Namun, semenjak tahun 2019 Shine memperoleh izin untuk menggunakan lantai 3 Rektorat Unpad sebagai kelas untuk mengajar.

Di tengah pandemi COVID-19, kegiatan belajar-mengajar Shine Unpad tetap berjalan. Medium pembelajarannya beragam, tidak hanya melalui aplikasi zoom, tetapi juga media lain seperti WhatsApp, Line, dan lainnya. Pandemi ini pun membawa kemudahan bagi para pengajar untuk bertemu dan saling berkonsultasi dengan pengajar-pengajar dari universitas lain.

Tidak hanya bimbingan belajar, Shine juga turut menyelenggarakan Try Out (TO) untuk siswa-siswanya. Soal TO yang diberi Shine merupakan hasil rancangan dari para pengajar Shine atau kolaborasi dengan lembaga lain. Selain itu, Shine juga mendukung para muridnya untuk turut mengikuti TO dari berbagai pihak dengan memberikan bantuan biaya untuk mendaftar. Shine juga memiliki kegiatan learning camp dimana murid-muridnya di karantina selama seminggu, penuh dengan belajar hingga menjelang hari tes.

Untuk menjadi bagian dari pengurus dan pengajar, Shine membuka pendaftaran setiap tahunnya. Rekrutmen pengurus dan pengajar merupakan dua kategori yang berbeda, keduanya tidak memiliki kriteria ataupun batasan khusus bagi mahasiswa yang ingin mendaftar. Tahun ini pendaftaran pengurus dan pengajar sudah ditutup.

Shyafira menuturkan suka dukanya selama tiga tahun bergabung di Shine. Menurutnya, melihat para murid antusias belajar dengan mencatat materi dan bertanya pada para pengajar sangat menyenangkan. Hubungan antara pengajar dan siswa sudah seperti keluarga. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya murid-murid yang senang saling bertukar pesan dan memberi kabar dengan para pengajar di luar jam belajar.

“Dukanya adalah sulit kendaraan bagi pengajar yang tidak memiliki kendaraan. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran yang dilakukan pada hari Sabtu atau Minggu di dalam area Unpad, sehingga odong-odong tidak beroperasi. Jadi, alternatifnya adalah para pengajar harus menggunakan ojek,” tutur Shyafira.

Terdapat pula rasa lelah karena harus terus menjelaskan materi dari nol. Namun, dengan melihat semangat para siswa/i untuk menuntut ilmu, membuat pengajar turut menjadi semangat.

Perlu diketahui, saat ini Shine sudah terdaftar di BSO (Badan Semi Otonom) Unpad sehingga keberadaannya sudah diakui secara resmi. Harapannya dengan terdaftarnya Shine di BSO dapat menarik lebih banyak mahasiswa lagi untuk mengikuti kegiatan Shine dan membantu menyebar manfaat untuk masyarakat Jatinangor.

Penulis : Alya Fathinah

Editor : Malika Ade Arintya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here