Menjadi Mahasiswa Penggerak Pembangunan Masa Kini, Kamu Bisa Lakukan 6 Hal Ini

0
31
(Ilustrasi aksi. Sumber foto: mediaindonesia.com)

Tanggal 21 Mei menjadi titik penanda awal mula kemenangan serta harapan baru rakyat Indonesia atas transisi sistem politik otoritarian menuju demokrasi. Pembaharuan ini salah satunya dipelopori oleh pergerakan yang dilakukan mahasiswa, bermula dari pandangan bahwa ada yang salah di dalam negara ini, baik dari segi hukum, hak asasi manusia, dan ketidakadilan, sehingga mereka pun berupaya memperjuangkan hak rakyat. 

Sudah 23 tahun pasca reformasi, mahasiswa masih menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan, karena kita memainkan peranan penting dalam kemajuan bangsa dan negara. Pastinya Sobat Warta sudah tahu dong, 5 peranan mahasiswa bagi lingkungan dan masyarakat, yaitu; sebagai iron stock, agent of change, social control, guardian of value, dan moral force. Maka, untuk menjalankan peran-peran tersebut, mahasiswa didorong untuk terus mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut, agar dapat memberikan dampak yang nyata.

Seruan globalisasi seperti saat ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan mahasiswa dalam mengawal jalannya reformasi. Akan tetapi, masifnya perkembangan teknologi dan media yang kita miliki dapat kita manfaatkan sebagai akses untuk tetap mengawal jalannya pembangunan dan pemerintahan. 

Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai wujud semangat pergerakan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam pembangunan negara, yuk simak dengan baik, Sobat Warta!

1. Sadar Politik

Sebagai implementasi dari peran mahasiswa sebagai Agent of change, Sosial control, dan Iron stock maka mahasiswa sudah seharusnya menyadari peranannya dalam mengawal perpolitikan di Indonesia. Hal ini karena mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis dinamika yang terjadi dan mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya. 

Ditambah dengan kemudahan akses yang kita miliki saat ini, maka sudah sebaiknya kita memanfaatkan berbagai media untuk meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan kita akan dunia politik Indonesia. Jangan sampai kita menjadi mahasiswa yang apolitik atau tak acuh dengan kondisi sekitar. Kenapa? Karena, semakin langka generasi muda yang melek dan peduli, maka hal tersebut dapat merugikan kita juga pada akhirnya. Kok bisa? 

Singkatnya, politik adalah perkara kekuasaan, keadilan, dan kesejahteraan yang merata. Jika kita memilih untuk tidak acuh dan tidak memperjuangkan hak kita sebagai rakyat, maka para penguasa dapat dengan mudahnya membuat berbagai kebijakan dengan tahap-tahap kebijakan publik sewenang-wenangnya, hanya memikirkan keuntungan diri mereka, meraup kekayaan dari hal tersebut, sedangkan rakyat menderita sebagai ampasnya. 

Terlepas dari apapun jurusan Sobat Warta. Yuk, mulai membiasakan diri untuk lebih peduli dengan berbagai isu yang sedang terjadi melalui membaca berita, mendengarkan podcast, atau menonton channel youtube yang membahas seputar politik terkini.

2. Melaksanakan Kegiatan Ilmiah

Mahasiswa merupakan tokoh intelektual dalam lapisan masyarakat dan pro pada rakyat. Maka sebagai tokoh intelektual, mahasiswa dalam pergerakannya akan selalu terikat dengan karakter kritis dan ilmiah. Gerakan mahasiswa diawali dengan diskusi terbuka dan audiensi yang mendalam mengenai kondisi nyata yang terjadi dalam masyarakat. Secara tidak langsung, melalui forum-forum diskusi ini, mahasiswa turut mengamalkan perannya untuk melakukan riset ilmiah dan studi kasus. Dengan demikian, ketika gerakan aksi dilakukan, aksi tersebut dapat ‘tepat sasaran’ dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Di kala pandemi seperti ini, sudah banyak lho kegiatan-kegiatan diskusi terbuka yang dilakukan secara daring oleh teman-teman Himpunan Mahasiswa (HIMA) atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di berbagai universitas. Mungkin Sobat Warta bisa coba mengikutinya, nih, jika sedang luang.

3. Membuat Kajian Ilmiah

Sebagai kaum intelek, mahasiswa dalam ranah ilmiahnya bisa melaksanakan riset dan studi untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat dalam berbagai bidang. Sebagaimana implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka kampus dapat menjadi arena mahasiswa untuk meneliti, dan melakukan dialektika intelektual untuk memecahkan permasalahan dalam masyarakat. 

Melalui kajian akademik, mahasiswa dapat menyampaikan gagasan ilmiahnya untuk memberikan kritik serta rekomendasi kepada pemerintah. Selain itu, Sobat Warta juga harus tahu bahwa dengan mengkaji suatu kasus, tidak hanya masyarakat yang diuntungkan, namun diri kita sendiri pun juga turut mendapatkan manfaat. Hal ini karena menulis kajian dapat melatih pola pikir seseorang  untuk berpikir secara runut, teratur, dan terarah. Semakin sering orang mengkaji, maka semakin matang dan dewasa hasil-hasil pemikirannya. Dengan membuat kajian akademik, mahasiswa dapat berlatih untuk bersimpati dan berempati terhadap permasalahan di sekitarnya.

4. Mengikuti Kegiatan Pelayanan/Pengabdian 

Terbentuknya peradaban yang maju dengan pengabdian melalui pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu dari poin Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan sudah menjadi kewajiban bagi civitas akademika untuk memenuhinya. 

Karena itu, dengan segala potensi dan fasilitas yang ada, mahasiswa harus menjadi tonggak pengabdian masyarakat. Dengan wawasan luas, kreativitas, hingga sifat kepemimpinan yang didukung fasilitas dan wadah yang mumpuni dari kampus, mahasiswa memiliki peran penting dalam pengabdian masyarakat. Apapun bentuk peranannya, mahasiswa dalam usahanya merancang gerakan pengabdian masyarakat wajib memperhatikan asas kemanusiaan yang menekankan pada usaha pengembangan masyarakat sebagai subjek pembangunan serta mempertimbangkan seluruh aspek terkait gerakan tersebut dan efeknya.

Yuk, ciptakan sebuah pengabdian yang mampu menumbuhkan sejuta manfaat bagi masyarakat!

5. Mengikuti Organisasi Kampus

Sobat Warta tentunya sudah tahu banyaknya manfaat ketika mengikuti organisasi kampus bukan

Nah, diantara manfaat itu ialah untuk melatih jiwa kepemimpinan. Jiwa kepemimpinan tentunya bukan hanya harus dimiliki oleh seorang pemimpin, melainkan tiap individu. Organisasi kampus merupakan salah satu tempat untuk melatih jiwa kepemimpinan Sobat Warta.

Dengan melibatkan diri dalam organisasi, sebagai seorang pemimpin nantinya, Sobat Warta secara langsung dapat melatih diri untuk beropini dan lebih berani mengeluarkan pendapat mengenai sesuatu, berdiskusi, mengambil keputusan, menyelesaikan suatu permasalahan hingga belajar tentang birokrasi. 

Cara-cara belajar di atas pastinya menyenangkan dan merangsang pengalaman, Sobat Warta. Karena dalam prosesnya, terjadi komunikasi, pelepasan ide-ide, hingga pendalaman wawasan mengenai sesuatu. Hal-hal itu bisa menjadi ajang simulasi yang bagus sebelum Sobat Warta terjun untuk kontribusi langsung ke dunia sebenarnya.

6. Mengikuti Kompetisi

Dalam kompetisi apapun itu, ketika Sobat Warta berani memutuskan untuk ikut di dalamnya, itu menandakan bahwa Sobat Warta sudah memutuskan menjadi seorang yang pemberani. Ya, karena tidak semua orang berani untuk berpartisipasi dalam suatu kompetisi. Secara tidak langsung, hal ini dapat menandakan bahwa Sobat Warta telah melakukan sebuah akselerasi yang juga berimplikasi pada peningkatan kompetensi diri. 

Salah satu kompetisi yang tepat untuk menjadi wahana pengembangan diri dalam pengambilan keputusan berdasarkan analisis logis dan faktual mahasiswa ialah Kompetisi Debat. Debat dilakukan untuk mencari pemecahan suatu permasalahan berdasarkan argumen atau pendapat. Melalui banyak perbedaan pendapat dan argumen, hal ini akan membantu mengasah skill Sobat Warta untuk berpikir kritis dan kreatif, menambah wawasan, mendorong melakukan penelitian, hingga melatih kepekaan & responsivitas terhadap suatu permasalahan yang ada di masyarakat. Hal ini tentunya menjadi aktualisasi dan peran mahasiswa sebagai solusi terhadap kondisi bangsa atas pengetahuan dan teknologi yang didapatkan dari dunia perkuliahan.

Nah, itu lah beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai cerminan semangat pergerakan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Walaupun tuntutan zaman dan medan perjuangan sudah berbeda, namun eksperimen gerakan dan semangat pembaharuan harus terus berkembang dan tidak menghilangkan esensi pengabdian. 

Dibutuhkan keberanian, pengorbanan, konsistensi, dan kreativitas. Keempat esensi ini menjadi pembelajaran penting yang bisa kita ambil dan terapkan selalu dari para pelaku sejarah gerakan mahasiswa pra-reformasi dahulu. 

Mahasiswa pada dasarnya memiliki banyak potensi dan kesempatan, maka dengan itu, mahasiswa memiliki peran penting untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat demi menjadikan negara Indonesia yang benar-benar merdeka dan lebih maju. 

Penulis: Dinda Elton Putri

Editor: Malika Ade Arintya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here