Bukan Halu, Ini Alasan Mengapa Kita Susah Move On dari Film dan Series

0
15
(K-Drama Vincenzo, serial yang akhir-akhir ini mencuri banyak hati dan pikiran netizen. Sumber: detik.com)

Setiap orang pasti memiliki hobinya masing-masing. Bermain alat musik, berkuda, memasak sampai mengoleksi barang favorit. Diantara itu semua, hobi yang satu ini hampir dilakukan semua orang; Yup, menonton baik film maupun series. Sobat Warta hobi menonton juga enggak?

Pandemi yang masih belum berakhir ini mengubah kita semua setahun terakhir. Anjuran untuk stay home membuat kita semakin akrab dengan gadget. Berbagai aplikasi penyedia layanan film streaming berlomba-lomba untuk menawarkan paket terbaik mereka agar kita dapat menonton tayangan dalam maupun luar negeri meski dari rumah.

Berbagai genre film dan series, mulai dari komedi hingga horor, memiliki peminatnya masing-masing. Film dan series dipilih orang-orang sebagai pelarian untuk menurunkan tingkat stres  mereka akibat tetap di rumah. 

Sedikit flashback ke 2020, dunia dihebohkan dengan sebuah drama Korea Selatan berjudul “The World Of Married” dengan cerita utama perselingkuhan. Sang tokoh antagonis, Yeo Da Kyung berhasil membuat para netizen geram, sampai-sampai sang aktris pemeran tokoh Da Kyung, Han So Hee mendapat perlakuan tidak mengenakan dari para netizen di Instagram pribadinya.

Belum lama juga, K-drama berjudul “Vincenzo” berhasil mencuri trending Twitter Indonesia. Episode terakhirnya yang tayang pada 2 Mei 2021 berhasil membuat penontonnya gagal move on. K-drama tersebut bercerita tentang seorang consigliere mafia Italia berdarah Korea Selatan yang mesti pulang kampung demi mengambil beberapa ton emas tersembunyi di sebuah gedung tua. Song Joong Ki begitu apik memainkan tokoh Vincenzo yang fasih berbahasa Italia dengan penampilan setelan jas mahal dan sering memainkan korek api miliknya. 

Akting Song Joong Ki sebagai Vincenzo Cassano berhasil mencuri hati penonton. Bukan cuma Vincenzo, penonton juga terikat dengan karakter-karakter pendukung seperti sosok Inzhagi, burung merpati yang biasa bertengger di kaca kamar Vincenzo hingga istilah “Corn Salad” yang diucapkan warga Geumga ketika salah menangkap kata “Consiliegre”. Action scene yang didukung dengan instrumen musik yang sesuai, membuat tokoh Vincenzo semakin hidup di mata penonton. Penonton tetap jatuh hati meskipun sebenarnya Vincenzo adalah seorang antihero.

Sadarkah Sobat Warta, film dan series yang kita tonton secara tidak langsung berpengaruh terhadap sikap kita? 

Perlu diapresiasi, kepiawaian aktor dan aktris dalam memerankan seorang tokoh membuat kita ikut terlarut dalam cerita. Karakter yang dimiliki tokoh dan pemeran mungkin ada yang kebetulan sama, tapi jangan sampai kehidupan pribadi mereka kita anggap sepenuhnya seperti tokoh yang mereka perankan lho.

Film dan series menampilkan second hand reality; tidak sepenuhnya nyata. Fungsi utama dari sebuah film dan series adalah sarana rekreasi yang menghibur bagi penontonnya. Selain terhibur, kita juga sering bertanya-tanya, terutama tentang para cast dan kehidupan aslinya. Apakah seorang Nicholas Saputra benar-benar mahir merangkai puisi bak Rangga? Atau, mungkinkah tokoh Boss Man yang diperankan oleh Reza Rahadian memiliki kesamaan dengan sifat aslinya?

Dikutip dari Romli (dalam Azwar, dkk, 2019) menjelaskan teori kultivasi Gerbner, bahwa film dapat mempengaruhi kehidupan penonton. Contohnya dengan memberi keyakinan berlebih akan alur cerita yang diangkat kepada penonton. Pola pikir penonton juga dapat berubah tergantung dengan tayangan yang ia tonton. Salah satu contohnya, dari banyaknya meme di media sosial, kita sering menjumpai tokoh Nanno dari series Thailand “Girl From Nowhere” diedit sedang di ruangan kelas seolah-olah akan mengungkap kejahatan yang terjadi di sekolah kita. Meskipun Kitty Chicha, pemeran Nanno sudah menjelaskan bahwa Nanno adalah seorang anak setan dan representasi dari karma berupa hukuman sadis, beberapa penonton mendukung apa yang dilakukan Nanno itu sebagai tindakan yang wajar.

Selain psikis, film dan series juga mampu mempengaruhi kondisi psikis seperti hormon dalam tubuh. Film dengan bergenre action, misteri, dan horor dapat memacu hormon adrenalin kita, tapi tetap saja ketiga genre film tersebut diminati oleh penonton. Degup jantung kita diuji ketika menyaksikan tokoh Sundel Bolong yang diperankan Alm. Suzzana dalam film “Beranak dalam Kubur”. 

Hormon endorfin, pemicu stres juga dapat dipicu akibat tontonan yang membuat penonton geram. Netizen sering mengeluh-eluhkan K-drama “The Penthouse” sebagai drakor pemicu darah tinggi. Bagaimana tidak, setiap tokoh berhasil memicu amarah penonton terutama tokoh Joo Dan Tae (diperankan oleh Uhm Ki Joon), seorang pemilik penthouse yang bersikap kejam pada siapapun.

Film dan series yang kita tonton boleh mencuri hati, karena tayangan dengan penonton memang erat kaitannya. Penonton bak tersihir oleh adegan demi adegan yang membekas, bahkan tak jarang memorable scene sering dijadikan wallpaper, dan dialog yang berkesan dijadikan quotes. Sikap bijak diperlukan agar tayangan yang ditonton tidak memberi pengaruh buruk bagi fisik maupun psikis. Tidak menikmati film dan series secara berlebihan dapat membantu agar kesehatan fisik dan mental penonton terjaga. Istilah populernya, “halu”. Jangan sampai kita berhalusinasi dengan menganggap cerita fiksi di film dan series itu sebagai bagian dari hidup kita.

Bagaimana Sobat Warta, sudah paham kan mengapa kita bisa terikat dengan cerita di film dan series? Penjiwaan peran yang baik dari para aktor dan aktris memang perlu diapresiasi sebagai modal utama hidupnya jalan cerita. Salurkan apresiasi kalian dengan terus menonton karyanya di situs legal, dan tidak melakukan hate speech kepada pemeran tokoh antagonis. Sadarkan kembali diri sendiri, apa yang kita tonton dengan realita jauh berbeda. Film dan movie hanya gambaran kecil dari kehidupan yang luas ini. Tetap jaga kesehatan dan selamat menonton Sobat Warta!

Penulis: Roro Wulan Latifah

Editor: Malika Ade Arintya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here