Aktivitas Dinilai Mengganggu Sekitar dan Tidak Taat Prokes, Panitia Prabu Akui Lalai dan Minta Maaf

0
106
Sejumlah panitia prabu berkerumun dengan prokes yang longgar (twitter/draftanakunpad)

Warta Kema – Pada 7 Agustus lalu, salah satu unggahan menfess dari akun twitter @draftanakunpad jadi perbincangan di antara Kema Unpad. Unggahan itu berisi foto yang memperlihatkan sejumlah orang dengan jumlah yang banyak tengah berkerumun dengan tidak menaati protokol kesehatan. Kejadian itu diketahui berlokasi di indekos Wangsarajasa, Jatinangor.

Sejumlah pihak menyebutkan bahwa kerumunan tersebut merupakan panitia Prabu Unpad 2021 yang tengah mempersiapkan keperluan acara. Unggahan itu sendiri per tanggal 21 Agustus ini sudah tidak bisa ditemukan lagi di akun @draftanakunpad ketika coba ditelusuri kembali oleh Warta Kema.

Hal itu sontak mendapat banyak kritik dari sejumlah pihak di jagat maya, terutama Kema Unpad mengingat saat itu kebijakan PPKM masih diberlakukan dan lonjakan kasus positif Covid-19 belum benar-benar mereda. 

Keluhan pun datang dari salah seorang penghuni indekos Wangsarajasa sendiri yang juga merupakan mahasiswa Fikom 2018. Mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya ini mengatakan bahwa kegiatan semacam itu cukup sering dilakukan di Wangsa, mulai dari rapat, latihan drama, dan pengangkutan barang.

“Awalnya aku cuma ngira itu cuma kumpul biasa salah satu divisi. Sejak saat itu di hari-hari berikutnya setiap hari makin ramai dan makin banyak yang datang, awalnya cuma kumpul keperluan divisi lama lama jadi sering nyanyi-nyanyi, dan itu berturut turut selama dua hari lebih. Karena kebetulan itu mengganggu di kaveling aku dan sebelah dan ada beberapa teman aku juga pada nggak bisa tidur sama sekali,” jelasnya kepada Warta Kema.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut cukup mengganggu penghuni kost, terutama karena menyebabkan kegaduhan dan juga longgarnya protokol kesehatan. 

“Bagi aku sendiri emang ngerasain keganggunya apalagi kegiatannya berlangsung lebih dari sehari kan. Terkait nggak taat prokes, kalo dari sudut pandang aku memang kelihatan nggak taat. Di tengah situasi kaya gini nggak cuma mengganggu ketenangan warga yang ngekos tapi takutnya jadi ada klaster baru gitu, karena kita nggak tau apakah mereka memang orang warlok (warga lokal) atau perantauan dari luar daerah dan nggak swab dulu,” jelasnya.

Ia mengaku sempat menegur panitia yang ada di sana. Aktivitas sempat dihentikan setelah mendapat teguran tersebut, namun setelahnya mereka justru pindah ke kaveling lain di Wangsarajasa dan kembali menjalankan aktivitasnya.

“Awalnya nggak pada berani negur, akhirnya aku negur mereka, pada saat itu mereka udah berhenti. Aku kira sekali ditegur udah ngerasa nggak enak gitu merekanya. Tapi ternyata pindah ke kaveling lain. Buat di kaveling lain aku nggak tau mereka secara langsung ngapain, tapi puncaknya emang kemarin mereka yang kumpulnya banyak banget dan akhirnya masuk unpadfess itu dan menurut aku itu udah kelewatan batas sih,” tambahnya.

Tanggapan Panitia Prabu Unpad

Menanggapai hal ini, Project Officer Prabu Unpad 2021 Neizar Ali membenarkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepanitiaan Prabu Unpad. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dalam rangka pengerjaan konten yang melibatkan cukup banyak orang.

“Wangsa dijadikan tempat rapat agar mempermudah koordinasinya juga, dan atas persetujuan sama-sama juga dengan teman-teman panitia. Untuk kegiatan waktu itu kita memang baru saja mengerjakan satu konten untuk Prabu nanti yang cukup melibatkan banyak orang, mulai dari pengambil gambar, talent, dan penanggung jawab konten,” ujar Neizar.

Merespons berbagai kritik yang terhadap kejadian tersebut, Neizar sendiri mengaku lalai dan meminta maaf atas pelaksanaan kegiatan pada saat itu

“Kami meminta maaf jika muncul satu stigma yang mungkin dianggap menyesalkan ataupun juga dirasa sebagai sebuah kegaduhan yang mengganggu, kami mohon maaf atas kesalahan yang kami buat, kami mengakui keteledoran kami dalam kegiatan yang kami laksanakan,” tutur Neizar

Vice Project Officer Prabu 2021 Eka Mochamad juga mengaku pihaknya telah menjadikan kejadian kemarin sebagai bahan evaluasi. 

“Simpelnya Prabu 2021 sekarang mendekati hari pelaksanaanya, dan mungkin kedepannya dengan evaluasi yang sudah ada, yang juga telah disampaikan oleh Kema Unpad sendiri. Kami membuka telinga kami selebar mungkin, kami menerima evaluasi yang disampaikan kepada kami.” jelas Eka.

Neizar juga menambahkan bahwa kejadian kemarin menjadi bahan evaluasi, terutama terkait protokol kesehatan dengan memperketat dan mempertegas kontrol panitia yang melakukan kegiatan secara offline.

Ia mengatakan pihak panitia Prabu juga telah mendapatkan teguran dari BEM Kema Unpad melalui project supervisor. Sementara itu, dari pihak rektorat belum memberi kabar ataupun respon terhadap kegiatan tersebut.

“Dari pihak BEM sendiri, khususnya project supervisor sudah memperingatkan kami juga terkait kegiatan tersebut. Pun manajemen Wangsarajasa juga sudah sempat mendatangi juga, satpamnya juga, udah ngobrol bareng dan audiensi juga. Untuk pihak rektorat sejauh ini belum ada kabar, walaupun ada kita juga akan melakukan audiensi dengan baik juga,” jelas Neizar.

Mengingat pelaksanaan Prabu 2021 yang mulai masuk ke dalam tahap akhir, Neizar meminta dukungan agar acara penerimaan mahasiswa baru Unpad bisa berjalan lancar.

“Panitia prabu meminta maaf atas kegaduhan atau permasalahan yang sempat viral beberapa waktu lalu, kami minta maaf atas hal yang dirasa mengecewakan dan kami sangat terbuka untuk segala pendapat, saran serta masukan bagi kami juga. Untuk prabu 2021 sendiri kami akan tetap memastikan akan tetap berjalan juga dan kami meminta doa dan dukungannya untuk acara kita bersama agar bisa berjalan lancar kedepannya dalam menyambut mahasiswa baru. Kami mohon maaf, mohon pengertiannya dan meminta dukungannya juga,” tambahnya. 

Reporter: Aqshal Fazrullah & Rheida Fayza

Editor: Hatta Muarabagja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here