Menjalani Kegiatan Kampus Sembari Meminimalisir Penularan, Bagaimana Strategi Mereka?

0
22
(Rido/Canva)

Pada masa pandemi, berbagai kegiatan kampus banyak dilakukan penyesuaian dalam persiapan ataupun pelaksanaannya sebagai usaha meminimalisir penyebaran Covid-19. Meski begitu, tak bisa dipungkiri sejumlah kepanitiaan dan organisasi memiliki kegiatan yang mengharuskan mereka untuk turun langsung ke lapangan. Hal ini berpotensi bergesekan dengan protokol kesehatan, apalagi jika kegiatan melibatkan orang dalam jumlah yang banyak.

Salah satu contohnya tentu unggahan yang sempat ramai beberapa waktu lalu yang menunjukkan aktivitas panitia Prabu Unpad yang menyebabkan kerumunan, bahkan hingga mengganggu warga sekitar.

Jauh sebelum kejadian panitia Prabu Unpad, tahun lalu kegiatan Expose 2020 juga tercatat sempat bermasalah terkait protokol kesehatan dalam pelaksanaannya, bahkan sampai mendapat teguran keras dari pihak rektorat. Hal ini dikonfirmasi Arvindo Eka, Project Officer Expose 2020 ketika dihubungi Warta Kema.

“Iya benar (terjadi kerumunan sehingga ditegur rektorat). itu terjadi ketika rangkaian tapping terakhir,” ujarnya.

Rangkaian tapping hari itu sejatinya dilakukan secara tertutup di Auditorium Balai Santika. Masalah datang ketika memasuki rangkaian tapping terakhir, pihak sanggar meminta kegiatan untuk dilakukan secara outdoor. Panitia pun mengizinkan. Namun, kerumunan tak terelakan karena saat itu banyak warga sekitar, terutama dari pihak keluarga yang ingin melihat langsung performance para penampil.

“Kami sudah mewanti-wanti jangan sampai ada kerumunan, tapi pada rangkaian itu sendiri benar-benar koreografinya sebebas itu dan akhirnya terjadi kerumunan di akhir acara,” jelas Arvindo.

Ia mengatakan sudah ada usaha untuk melonggarkan kerumunan tetapi panitia kewalahan karena jumlah mereka yang sedikit, ditambah para penampil sebelumnya juga memenuhi lokasi untuk melihat tapping terakhir.

Pada akhir kegiatan, panitia meminta pihak sanggar untuk melakukan isolasi mandiri dan segera melapor jika mengalami gejala. Menurutnya Arvindo, beruntungnya ketika dilakukan tracing kepada pihak sanggar dan juga penampil, tidak terjadi indikasi yang berhubungan dengan penularan Covid-19. Ia pun mengklaim kegiatannya tidak berdampak sama sekali baik untuk pihak sanggar maupun panitia terkait penularan Covid-19

Merespons rangkaian rekam jejak sejumlah kegiatan kampus yang bermasalah dengan pelaksanaan tatap muka, Warta Kema bertanya kepada sejumlah pengurus berbagai kepanitiaan di Unpad, diantaranya AYIC, Expose dan PACES tentang bagaimana penyesuaian yang mereka lakukan untuk keberlangsungan kegiatan dengan tetap meminimalisir kontak langsung.

Tantangan yang Dihadapi

Project Officer AYIC Anggito menjelaskan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi panitia AYIC adalah bagaimana menyatukan anggota panitia di tengah pembatasan mobilitas.

“Terutama di awal kepanitiaan, kami harus membangun kekeluargaan. Salah satu yang menjadi tantangan bagi kami adalah bagaimana menghindari efek zoom fatigue,” jelas Anggito.

Berbeda dengan AYIC, kepanitiaan PACES dan Expose mengalami beberapa kesulitan melaksanakan kegiatan di masa pandemi dikarenakan programnya yang berbentuk pengabdian kepada masyarakat.

“Sempat ada hambatan dalam pencarian sanggar dikarenakan belum adanya anggota dari divisi humas Expose yang berada di Jatinangor,” ujar Agung Pratama, Vice Project Officer Expose. 

Hal serupa disampaikan Reza, Project Officer PACES. Ia berpendapat bahwa terdapat kesulitan untuk menyelaraskan dengan tujuan PACES itu sendiri, yang mengharuskan turun langsung ke masyarakat. Reza juga menambahkan bahwa dengan kondisi pandemi, upaya untuk bertemu sesama panitia menjadi terhambat.

“Tantangannya adalah gimana caranya menumbuhkan sense of belonging sedangkan saat ini kan harus online, jadi cukup sulit gimana kamiharus menyatukan panitia sebanyak ini dengan mereka bisa nyaman di paces dan bisa all in. sebenernya untuk kendalanya itu sih,” tambah Silfa, Vice Project Officer PACES.

Upaya untuk Menyiasati 

Dengan online meeting yang berpotensi menyebabkan zoom fatigue, Anggito menyiasatinya dengan menyelipkan berbagai permainan interaktif di sela-sela rapat.

“Jadi kami harus memikirkan bagaimana caranya fasilitas yang serba online bisa bikin kami merasakan interaksi langsung, entah pake games atau lainnya. Kami menyesuaikan sistematikanya, supaya peserta juga bisa merasakan gimana serunya konferensi online. Jadi peserta nggak cuma mendapatkan pengalaman, nerbitin paper, tapi juga dapat teman baru dari acara kami meskipun online,” tambah Anggito.

Sementara itu mengingat program yang perlu dilakukan secara offline, Agung memprioritaskan protokol kesehatan dengan berusaha mengumpulkan orang seminimal mungkin ketika main event berlangsung. Kunjungan ke sanggar-sanggar pun disiasati dengan mengirimkan perwakilan panitia yang berdomisili di sekitar Jatinangor.

“Sejauh ini rencana kami kegiatannya akan dilakukan secara hybrid. Tapi ini masih rencana, karena tentatif juga menyesuaikan dengan keadaan kedepannya. Mungkin panitia akan kumpul secara offline tapi kegiatan secara online, jadi hybrid gitu dan itu nggak semua panitia yang kumpul, paling beberapa divisi yang berkepentingan saja,” jelas Agung.

Hal serupa disampaikan oleh Silfa. Ia menjelaskan bahwa hanya anggota panitia PACES yang tinggal di wilayah Jatinangor dan sekitarnya untuk acara opening ceremony yang berbentuk hybrid.

“Kami mengajak teman-teman yang ada di sekitar Jatinangor datang ke nangor untuk membantu mendekor. Kami sudah menerapkan banget terkait protokol kesehatan. kami juga punya divisi medik yang nanti melakukan screening ke panitia yang lain sebelum kumpul,” tegas Silfa

Meskipun kondisi pandemi ini menjadikan bentuk kepanitiaan kurang lebih berubah, namun Anggito menyatakan bahwa hal ini bisa menjadi momentum untuk menjadi lebih baik. 

“Jadi kami harus kreatif dan beradaptasi dan kami juga lewat kondisi ini kami harus jadikan pelajaran untuk bagaimana memanage waktu dan segala macamnya,” jelas Anggito.

Reza juga menjelaskan hal yang sama, bahwa kondisi pandemi dijadikan sebagai tantangan dan dihadapi dengan cara yang inovatif, menarik dan kreatif.

“Kami belajar bahwa pengabdian masyarakat itu bisa kok kami agendakan secara kreatif, inovatif, dan menarik nggak melulu turun ke jalan menyebar uang atau makanan, bisa lebih dari itu. Nah, disini dari kami ingin membuktikan hal itu juga bahwa apapun tantangannya dalam kondisi pandemi seperti ini, kami bisa menyebar kebermanfaatan dan kebaikan di lingkungan masyarakat,” jelas Reza.

Reporter: Aqshal Fazrullah & Rheida Fayza

Editor: Hatta Muarabagja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here