Mahasiswa Unpad Turut Ramaikan Aksi Kamisan September Hitam

0
23
(Ilyansyah Nashrul/Warta Kema)

Bandung, Warta Kema – Pada Kamis (2/9) kemarin, Aksi Kamisan Bandung mengadakan aksi kamisan ke-360 di kawasan Monumen Perjuangan. Aksi mulanya akan dilakukan di depan Gedung Sate, namun akhirnya terpaksa pindah karena halaman Gedung Sate saat itu ditutup dan dipagari. 

Sedikit berbeda dengan aksi kamisan sebelumnya, tajuk “September Hitam: Bulan Kelam Dengan Rentetan Pelanggaran HAM” diusung dalam peringatan kali ini. Aksi kamisan kemarin juga jadi momentum untuk mengenang 17 tahun pembunuhan Munir yang kasusnya akan kedaluwarsa pada tahun depan. Kegiatan aksi diwarnai dengan pembukaan payung hitam dan sejumlah orasi. 

“Masih banyak kasus hak asasi manusia yang belum bisa ditegakkan di Indonesia. Dalam September Hitam ini, ada sepuluh peristiwa pelanggaran HAM yang belum terselesaikan. Alih-alih terselesaikan, peristiwa pelanggaran HAM malah makin bertambah,” teriak salah seorang orator.

Di tengah-tengah massa aksi, reporter Warta Kema berjumpa dengan Sajid, Kepala Departemen Propaganda dan Aksi BEM Kema Unpad. Sajid menyatakan kehadirannya pada aksi kamisan ini merupakan inisiatif pribadi bersama dengan dua orang stafnya. Sajid mengatakan kehadirannya itu bukan representasi BEM Kema Unpad.

“Sebenarnya cuma sendiri aja di sini mengingat kan isu HAM jadi salah satu yang dikawal oleh BEM Kema Unpad, ingin ikut aja merasakan, merefleksikan perjuangan. Ini inisiatif sendiri dan bukan bagian program kerja BEM Kema Unpad,” papar Sajid.

Selain Sajid, Kepala Departemen Propaganda dan Aksi BEM FISIP Gregorius Benny juga terlihat berada di lokasi dengan menggunakan atribut BEM Kema FISIP. Berbeda dengan Sajid, Benny mengungkapkan kehadirannya di sana adalah sebagai bentuk solidaritas dari BEM FISIP Unpad.

“Hadirnya delegasi FISIP pada aksi kamisan adalah untuk menunjukan BEM FISIP turut mengawal September Hitam. BEM FISIP mempunyai program kerja namanya festival HAM, di mana salah satu kegiatannya adalah bersolidaritas bersama dengan teman-teman seperti aksi kamisan ataupun elemen lain. Jadi hadirnya BEM FISIP ini sebagai salah satu bentuk solidaritas dan merayakan September Hitam,” pungkas Benny.

“Dari BEM FISIP sendiri ada empat orang yang hadir. Tapi, kami bersama teman-teman dari Himpunan Ilmu Pemerintahan, total ada enam orang dari Kema FISIP,” tambahnya. 

Selaras dengan BEM Kema Unpad, BEM FISIP tidak membuat seruan aksi untuk Kema FISIP lainnya. Hal ini dikatakannya sebagai upaya membatasi kerumunan.

(Ilyansyah Nashrul/Warta Kema)

Menurut Benny, Aksi Kamisan Bandung melakukan kegiatan aksi yang kreatif dalam mengawali September Hitam ini. 

“Aksi kamisan hari ini utamanya, dikemas dengan cara yang kreatif. Ada banyak teatrikal, puisi, mimbar bebas juga, dan hari ini hitungannya cukup ramai dibandingkan dengan aksi-aksi kamisan sebelumnya, secara pengemasan lebih seru dan atraktif.” ujarnya.

Gelaran aksi juga diramaikan oleh sejumlah penampilan dari massa aksi  mulai dari pertunjukan musik, pembacaan puisi, monolog, lakon teatrikal dari Teater Akar Rumput, hingga refleksi dari Aliansi Mahasiswa Papua. Poster dan spanduk berisi kalimat-kalimat mengenai hilangnya aktivis HAM serta pendar nyala lilin juga menambah hikmatnya kegiatan yang baru selesai saat malam menjelang itu. 

(Ilyansyah Nashrul/Warta Kema)

Aksi Kamisan Bandung dalam kesempatan kemarin membacakan siaran pers yang mencantumkan tiga poin desakan, yaitu:

  1. Jaksa Agung melakukan penyidikan terhadap seluruh kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang telah selesai diselidiki oleh Komnas HAM agar keseluruhan kasus tersebut dapat segera ditindaklanjuti sesuai dengan mandat UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM melalui proses yudisial;
  1. Komnas HAM dan LPSK aktif untuk memberikan upaya pemulihan yang menyeluruh kepada seluruh korban pelanggaran HAM sebagai bentuk reparasi yang dilakukan secara beriringan dengan proses yudisial terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM berat;
  1. Pemerintah dan DPR RI segera melakukan revisi terhadap UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM agar dapat secara lebih efektif menjadi landasan hukum baik bagi penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat secara yudisial maupun pemenuhan hak reparasi bagi korban.

Pada puncak kegiatan aksi, massa melingkar sembari menyanyikan lagu “Darah Juang”. Kepalan tangan kiri massa aksi sebagai tanda perlawanan dan pekikan sebuah kalimat secara berulang menandakan bara semangat juang mereka.

“Hidup korban! Jangan diam, lawan!” seru massa aksi.

Reporter: Disma Alfinisa

Editor: Hatta Muarabagja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here