8 Fakta Perfilman Indonesia Versi WK

0
93
Ilustrasi. (Foto: ed)

Membahas film memang tidak akan ada habisnya, karena setiap tahun pastilah ada film baru yang masuk ke dalam wacthlist kita di bioskop. Jadi, inilah delapan fakta unik tentang perfilman versi Warta Kema. Yuk disimak!

  1. Film Pertama Indonesia Tidak Asli Indonesia

Semenjak adanya bioskop pertama di kota Batavia (Jakarta) pada tahun 1900, banyak film barat yang mulai masuk ke Indonesia. Namun, tanggal 31 Desember 1926 menjadi saksi bisu lahirnya film pertama produksi Indonesia (saat itu masih Hindia Belanda), Film tersebut berjudul Loetoeng Kasaroeng. Film yang diangkat dari cerita masyarakat Sunda ini sangat terkenal, walaupun film ini disutradai oleh dua orang Belanda yaitu G. Kruger dan L Heuveldorp. Film ini masih film bisu.

  1. Darah & Do’a, Tonggak Perfilman Indonesia

Film dengan genre drama ini merupakan film pertama yang benar-benar mencirikan kehidupan lokal warga Indonesia. Film ini lahir dari tangan seorang sutradara yang murni keturunan ras lokal, yaitu Umar Ismail. Tidak melupakan film Loetoeng Kasaroeng yang juga diproduksi di Indonesia, konferensi kerja Dewan Perfilman Indonesia secara tak langsung menetapkan Darah & Do’a ini menjadi sepak terjang bangkitnya perfilman Indonesia lewat pengangkatan Umar Ismail sebagai bapak perfilman Indonesia, dan menetapkan tanggal 30 Maret, dimana saat itu merupakan tanggal pengambilan gambar Darah & Do’a, sebagai hari film nasional.

  1. Laskar Pelangi, Film yang Kembali Menyuburkan Kreatifitas

Walau banyak film-film jadul yang sempat berjaya pada masanya, tahun sebelum 2008 bisa dibilang merupakan tahun kelam perfilman Indonesia karena didominasi genre Horror yang mayoritas menyelipkan pornografi dan komedi murah. Namun, ketika karya novel Andrea Hirata diangkat menjadi film, rekor angka jumlah penonton berhasil dipecahkan pada nominal 4,7 juta penonton. Cerita dengan konflik dan penokohan unik ini semacam menyegarkan industri hiburan Indonesia yang monoton dengan genre horror sebelumnya. Akibat dari larisnya film Laskar Pelangi ini, perlahan-lahan jumlah produksi film horror pun menurun.

  1. Tanpa Aktor Ini Pada Era 80’-an, Film Rasanya Jadi Hambar!

Tiap generasi tentunya memiliki aktor favorit masing-masing untuk berlaga di layar lebar. Era 80’-an merupakan masa emas untuk trio Warkop DKI (Dono, Kasino, dan Indro) dan Rhoma Irama. Film yang mereka bintangi pun menjadi maskot tersendiri pada zamannya dan hampir tiap generasi mengetahuinya. Bahkan sampai saat ini film Warkop DKI di produksi ulang (remake).

  1. Ada Film Indonesia yang Ternyata ‘Berprestasi’ di Luar Negri

Selain rating yang diberi oleh kritikus film, bagus atau tidaknya suatu film kadang dilihat dari berapa banyak kursi yang terjual pada saat penayangan di bioskop. Walaupun tidak ramai diperbincangkan di tanah air, lima judul film produksi Indonesia ini ternyata mendapat pujian dan bahkan penghargaan atas kisah yang ditampilkan, diantaranya adalah Siti (2014); Turah (2016); Ziarah (2016); Istirahatlah Kata Kata (2016); dan Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017).

  1. The Raid, Film Populer di Negri Paman Sam

Film Indonesia yang disutradarai oleh sutradara dari Wales, Gareth Evans ini merupakan film yang memiliki rating tinggi di IMBD, sebuah situs terlengkap dan terdepan dalam mengkritik dan pemberian rating terhadap film-film yang pernah ada. Laga para aktor-aktor terbaik asli Indonesia ini dikemas dengan baik oleh Gareth Evans, sampai-sampai mendapat pujian bahwa film tersebut memiliki kualitas yang sebanding dengan Hollywood.

  1. Penonton Indonesia suka tertawa

Berdasarkan hasil perhitungan Managing Partner Ideosource Film Fund, dalam sepuluh tahun terakhir ini, genre yang paling disukai penonton Indonesia adalah komedi sebesar 55%. Hampir tiap film yang mengusung genre itu tak pernah terlupa untuk masuk list film populer Indonesia. Genre terfavorit berikutnya disusul oleh drama, horror, dan drama reliji.

  1. Raja Penata Suara Perfilman Indonesia, Khikmawan Santosa

Pria lulusan IKJ ini berkarier sebagai penata suara dalam perfilman, dan hampir tiap film yang melibatkannya masuk kedalam nominasi film terbaik. Diantaranya adalah Pengabdi Setan (2017), Kartini (2017), Cek Toko Sebelah (2016), dan Critical Eleven (2017). Film-film tersebut masuk nominasi dalam kategori “penataan suara terbaik”.

Penulis: Malik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here