Dibalik Peringatan Hari Film Nasional

0
82
Bioskop terdahulu. (Foto: ed)

Setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional.

Tahukah kalian, mengapa 30 Maret jadi Hari Film Nasional?

Peringatan ini sebenarnya mencerminkan perkembangan film di Indonesia. Sejak zaman penjajahan Belanda masyarakat Indonesia sudah mengenal film. Masyarakat menamai film dengan sebutan “gambar idoep” pada saat itu. Era perfilman Indonesia dimulai sejak berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada tanggal 5 Desember 1900 di daerah Tanah Abang, Batavia (sekarang Jakarta), dan dikenal dengan nama Bioskop Talbot.

Masyarakat semakin menaruh minat yang besar di bidang perfilman, Dilansir dari Rappler.com, pada tahun 1926 film lokal pertama dirilis di Indonesia dengan judul “Loetoeng Kasaroeng”. Film tersebut merupakan film bisu yang disutradarai oleh orang Belanda, yaitu G. Kruger dan L. Heuveldorp. Tahun-tahun berikutnya, berbagai film lainnya pun banyak dibuat oleh perusahaan film Belanda dengan mengajak beberapa warga lokal sebagai aktor. Hal ini kemudian diikuti pula oleh pengusaha-pengusaha peranakan Cina yang melihat peluang bisnis menjanjikan dari industri perfilman.

Era perfilman Indonesia sempat surut pada masa penjajahan Jepang. Film Indonesia tidak memiliki izin produksi. Hanya film Jepang yang boleh diproduksi, dimana pihak Jepang memanfaatkannya sebagai alat propaganda.

Perfilman Indonesia menemui titik terang pada tahun 1950. Kebangkitan tersebut dipelopori oleh Usmar Ismail yang merupakan sosok pendongkrak perfilman nasional. Beliau pun dijuluki sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Usmar Ismail berhasil memproduksi sebuah film berjudul Darah dan Doa atau dalam bahasa lain The Long March of Siliwangi melalui perusahan film miliknya sendiri, Perfini.

Pembuatan film “Darah dan Doa” dimulai pada tanggal 30 Maret 1950. Tanggal tersebut akhirnya ditetapkan menjadi Hari Film Nasional oleh Dewan Film Nasional dan masih terus diperingati hingga saat ini. Pemilihan tanggal tersebut bukan sembarang tanpa alasan. Darah dan Doa merupakan film yang dianggap sebagai penanda kebangkitan perfilman nasional. Film ini mengisahkan tentang perjalanan panjang (long march) prajurit Indonesia dan keluarga mereka dari Yogyakarta ke pangkalan utama mereka di Jawa Barat. Keberhasilan film ini menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya membuat film ini dianggap pantas menjadi titik tolak perkembangan film nasional.

Hingga sampai saat ini dunia perfilman nasional masih tumbuh dengan pesat. Hal itu ditandai dengan hadirnya banyak rumah produksi film. Serta tidak sedikit film Indonesia yang sukses dan bersaing dengan film-film internasional, contohnya The Raid. Maka dari itu kita perlu dan harus menanamkan rasa bangga terhadap karya anak bangsa, khususnya dunia perfilman.

Penulis: Naura Salsabila

Editor:  Hayfa Rosyadah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here