Keminggris, Dilestarikan atau Dimusnahkan?

0
446
(gangkecil.com)

Akhir-akhir ini Indonesia kembali dihebohkan oleh fenomena bahasa campur-campur atau lebih dikenal dengan keminggris. Beberapa informasi yang didapat salah satunya dari media sosial generasi muda saat ini mengatakan bahwa keminggris dipopularkan oleh anak-anak Jakarta Selatan.

Fenomena bahasa keminggris ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Menurut salah satu dosen Sastra Inggris di Univeristas Padjadjaran, Tisna Prabasmoro, fenomena bahasa seperti itu disebut dengan alih kode dan campur kode dalam linguistik dan sering menjadi gejala bahasa yang diikuti oleh kelompok-kelompok tertentu. Alih kode dan campur kode merupakan gejala bahasa yang sering ditemukan dan membuat hal tersebut sebagai gejala bahasa yang wajar.

“Campur kode tersebut sudah ada sejak tahun 80-90 atau bahkan lebih lama dari itu. Biasanya tiap generasi memiliki bahasa pergaulannya sendiri, generasi sekarang juga sama saja contohnya keminggrisan itu,”  tuturnya penuh ekspresi yakin.

(gangkecil.com)

Dosen Sastra Inggris lainya, Elvi Citraresmana berpendapat tak jauh beda. Dalam Teori Linguistik, fenomena tersebut masuk dalam Teori Sosiolingustik dan sudah ada sejak 1970-an yang disebut dengan code mixing dan code switching. Lexical gap atau tidak adanya padanan dalam bahasa Indonesia membuat masyarakat menggunakan bahasa keminggris tersebut. Selain itu, faktor lainnya adalah adanya sosio-level, yaitu masyarakat ingin menunjukkan bahwa dengan mencampuradukkan bahasa berarti mereka mampu menguasai lebih dari dua bahasa. Hal ini dapat terjadi berkaitan dengan kondisi pendidikan atau ekonomi menengah ke atas yang memiliki kecenderungan terekspos oleh penggunaan bahasa Inggris, baik melalui media sosial, film, buku, musik, dan lain-lain.

Selain itu, faktor keluarga juga berpengaruh. Keluarga yang pernah tinggal atau sering berpergian ke luar negeri cenderung berbicara menggunakan bahasa Inggris. Hal ini tentunya memengaruhi penggunaan bahasa sehari-hari. Seperti Maulana Mahendra, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran (Fikom-Unpad) mengaku sering terbawa arus bahasa gado-gado karena lingkungannya, padahal ia bukan berasal dari Jakarta Selatan namun karena teman-temannya biasa berbahasa gado-gado, ia tanpa sadar melakukannya.

Penggunaan ‘bahasa campur-campur’ dalam iklan juga dapat menjadi penyebab kenapa fenomena keminggris maupun penggunaan bahasa formal lainnya semakin marak. Hal ini diperbolehkan, sebagaimana dalam UU No.24 Tahun 2009 pasal 37, yakni Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi tentang produk barang atau jasa produksi yang beredar di Indonesia dan dapat dilengkapi dengan bahasa daerah atau bahasa asing sesuai dengan keperluan. Namun menurut Wahya, dosen linguistik Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, menyayangkan hal tersebut. Beliau berpendapat bahwa Bahasa Indonesia sebagai wibawa bangsa, mestinya dapat digunakan dengan baik dalam iklan-iklan yang disiarkan nasional.

Fenomena yang belakangan dibesar-besarkan tersebut bahkan sering menjadi bahan olok-olok bagi sebagian orang. Sebagai mahasiswi asal Jakarta Selatan, Nurul Amanah menganggap bahwa fenomena ‘bahasa anak Jaksel’ bukanlah sesuatu yang pantas untuk diolok-olok dan tidak perlu dimasalahkan. Penggunaan bahasa keminggris menjadi wadah bagi masyarakat untuk belajar menggunakan bahasa asing meskipun tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pendapatnya selaras dengan Tisna Prabasmoro bahwa mengolok-olok pengguna bahasa keminggris tidak akan menghasilkan apa-apa, namun jika keminggris sudah begitu melekat pada penggunanya, mereka sangat mungkin mengalami kesulitan dalam memilih diksi atau tidak mampu menyusun kalimat Bahasa Indonesia dengan baik.

Dalam hal akademik, menurut pandangan Elvi, penggunaan bahasa keminggris tergantung kebutuhan dan siapa audiens yang menjadi penerima pesan. Namun, dalam tulisan akademik hal tersebut sangat tidak disarankan karena tidak menunjukkan konsistensi dalam penggunaan bahasa. Lain halnya dengan presentasi, selama frekuensi tidak terlalu sering, tidak dipermasalahkan. Sementara Wahya melarang keras penggunaan bahasa keminggris dalam situasi formal dalam ranah akademik, seperti presentasi, seminar, maupun dalam kegiatan akademik lainnya. Penggunaan bahasa keminggris dalam ruang akademik dapat dianggap tidak santun. “dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa keminggris dalam konteks akademik sejatinya tergantung dosen pengampu, namun untuk meminimalisir ketidaksopanan dan lebih menjunjung etika mahasiswa yang kuliah di Indonesia dianjurkan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar,” tutur Wahya dengan tegas.

Meskipun dianjurkan untuk tidak menggunakan bahasa keminggris, tidak menutup keharusan juga mempelajari bahasa Inggris secara total. Terlebih lagi, bahasa Inggris merupakan bahasa internasional. Seperti kalimat yang sering didengar, “Utamakan Bahasa Indonesia, Pelihara Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.”

 

Reporter: Rode A. Sidauruk/Kenraras Vadma/Azka Fadhilah

 

Editor: Rini Ria Agustiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here