Tolongin dan Kancil, Startup ala Mahasiswa Unpad yang Peduli Isu Sosial

0
78
CEO KANCIL, Husni Akhmad Haikal. (Foto: Amel)

Istilah startup kini semakin populer di telinga masyarakat Indonesia. Apakah kalian tahu makna dari startup? Startup adalah istilah yang digunakan untuk perusahaan yang baru merintis usahanya dan masih mencari pasar konsumen. Perusahaan startup juga identik dengan teknologi, internet, web, dan media sosial.

Di Indonesia, kini sudah banyak startup yang populer di bidang aplikasi edukasi, e-commerce, dan jasa angkut online. Tak terkecuali di Jatinangor, kecamatan yang diduduki empat perguruan tinggi dan dihuni oleh sekitar tiga puluh ribu mahasiswa. Di kecamatan perbatasan Bandung – Sumedang ini, bermunculan startup lokal yang dikelola mahasiswa. Mereka biasanya memanfaatkan aplikasi chatting dan media sosial. Tidak sekedar untuk mencari pendapatan, startup ala mahasiswa juga dijadikan wadah untuk belajar berwirausaha, menyalurkan ide, serta membantu sesama.

Salah satu startup yang populer di kalangan mahasiswa Jatinangor adalah Kancil. Startup yang usaha utamanya adalah jasa pengantaran makanan yang dipesan secara online itu dibentuk pada 2013 lalu. Tidak sekedar mengambil nama hewan, Kancil merupakan akronim dari Kendaraan Antar Jatinangor – Cileunyi. Sempat berfokus pada layanan ojek, Kancil kemudian mengalihkan usaha utamanya menjadi pengantaran makanan dari berbagai tempat makan, sesuai yang pesanan konsumen.

“Kancil awalnya berdiri pada 2013, kemudian membuat jasa pengantaran makanan pada 2014. Sedangkan layanan ojek online dari korporasi saat itu baru booming pada 2015. Jadi, kami tidak mengikuti bisnis mana pun. Memang pada dasarnya berawal dari mengisi waktu luang dan melihat kesempatan, maka usaha Kancil ini berjalan di Jatinangor,” jelas Husni Akhmad Haikal, CEO Kancil yang juga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unpad angkatan 2011 di Plumeria Cafe, 11 April lalu.

Setelah berdiri selama lima tahun, awal 2019 lalu Kancil meluncurkan aplikasi Kancil.id. Berawal dari startup yang memanfaatkan aplikasi chatting, kini layanan Kancil dapat diakses lewat aplikasi. Tidak hanya untuk melakukan pemesanan, konsumen juga bisa melihat menu dan layanan Kancil lainnya dalam satu aplikasi. Kancil tidak hanya berbasis lokal di Jatinangor, tetapi juga membuka layanan di Dago, Bandung.

Kunci pengembangan Kancil hingga mencapai titik ini, menurut Husni, adalah strategi dalam penggunaan media sosial. Untuk para mahasiswa yang baru memulai usaha, Husni mengungkapkan bahwa keberanian adalah kunci dalam memulai bisnis dan mengembangkan usaha.

“Kita diberikan akal budi sebagai manusia, kewajiban kita adalah untuk mengolah akal kita agar menghasilkan strategi. Jangan takut untuk memulai, bahkan bisnis bisa dimulai dari usaha tanpa modal. Dengan jaman digital seperti sekarang, kita bisa memanfaatkan media sosial sebagai alat promosi. Manfaatkanlah fitur-fitur yang ada di media sosial, triknya adalah konsisten. Usahakan untuk selalu posting, selalu update, juga broadcast,” tuturnya.

Selain Kancil, startup lainnya yang juga terkenal di Jatinangor adalah Tolongin. Bisnis ojek online yang juga membuka jasa pengantaran makanan ini didirikan oleh salah satu mahasiswa FISIP, Muhammad Kamal Fauzi, pada 2017. Tolongin merupakan startup yang berupaya mengatasi masalah sosial di Jatinangor, khususnya penggangguran. Untuk mengatasi masalah itu, Tolongin berdiri dengan memanfaatkan teknologi digital yang melayani konsumen secara on demand order.

CEO Tolongin, Irfan Herdiana. (Foto: Amel)

Sejak awal didirikannya, Tolongin memiliki visi untuk tidak hanya berorientasi pada pendapatan dan keutungan semata, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup warga lokal Jatinangor. “Kami pada awalnya melihat jarak antara mahasiswa sebagai pendatang dengan warga lokal. Kami ingin jarak antara warga lokal dan mahasiswa juga berkurang, maka Tolongin ini hadir,” terang Irfan Herdiana, CEO Tolongin di tempat berbeda, kafe Eatboss 15 April lalu.

Sebagai sebuah inovasi bisnis yang memiliki misi pendekatan sosial, setiap tahunnya Tolongin melakukan aksi bakti sosial dan udunan untuk membantu warga yang membutuhkan. “Sesuai ketentuan perusahaan, kami sengaja memberi porsi lebih banyak untuk driver dari warga lokal Jatinangor. Hingga saat ini, sekitar 80 persen driver kami adalah warga lokal,” kata Irfan.

Selain berupaya untuk membantu masyarakat Jatinangor, Tolongin juga berupaya untuk membantu mahasiswa di Jatinangor dengan menyediakan layanan belanja, mencuci mobil dan sepatu, mengambil dan mengantar barang, membeli tiket, hingga menyewakan coolbox. Tidak sampai di situ, Tolongin juga kerap membagikan nasi bungkus gratis.

Sebagai CEO dari startup yang telah berkembang, Irfan juga memberi saran dalam pengelolaan bisnis. Menurutnya, manajemen dan membangun strategi yang berhati-hati adalah hal yang penting. “Hal yang tidak bisa dilupakan dalam pengembangan usaha adalah untuk melakukan konsolidasi tim. Membangun tim manajemen yang kuat bagi usaha baru sangat penting. Fokus pada tujuan tertentu dan membuat strategi yang baik untuk ke depannya,” ungkap Irfan.

Selain bermanfaat bagi mahasiswa, kehadiran Kancil dan Tolongin juga memberikan manfaat bagi warga lokal Jatinangor. Tidak hanya untuk membuka lapangan pekerjaan tambahan dan sarana promosi usaha, bisnis juga bisa dijadikan sarana untuk melakukan pendekatan dan membangun relasi dengan warga lokal. Memalui startup seperti Kancil dan Tolongin, mahasiswa dan warga dapat saling membantu.

 

Penulis: Elsye Yubilia Keysinaya

Editor: Hayfa Rosyadah/Lia Elita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here