Kartini, Emansipasi dan Gender

0
147
Ilustrasi. Sumber: google.co.id

Kartini adalah seseorang yang sukses memberikan banyak inspirasi bagi banyak kaum perempuan, khususnya di Indonesia. Sebuah upaya emansipasi yang diperjuangkan oleh seorang kartini, yaitu persamaan hak untuk perempuan. Dalam upayanya, ternyata emansipasi menghadapi berbagai halangan, misalnya intrepretasi islam konvensionalis yang memandang bahwa laki-laki adalah pemimpin. Apalagi berdasarkan banyak fakta bahwa mayoritas masyarakat Indonesia merupakan penganut agama islam.

Adalah perbedaan gender, perbedaan mendasar yang seringkali dikelirukan dengan menganggap bahwa gender adalah seks. Gender tentu berbeda dengan seks. Makna utama seks adalah perbedaan jenis kelamin yang dilihat melalui perbedaan bentuk fisik. Misalnya, laki-laki memiliki bentuk tubuh yang lebih besar daripada perempuan. Tetapi gender berbeda lagi, ini menyangkut karakter, bukan seks semata yang hanya memperlihatkan perbedaan dari ciri-ciri fisik. Gender sebagai suatu dasar untuk menentukan pengaruh faktor budaya dan kehidupan kolektif dalam membedakan laki-laki dan perempuan (H. T. Wilson: Sex and Gender).

Pada masanya, perempuan lebih dianggap sebagai seseorang yang harus tunduk kepada kepala keluarga, yaitu pria. Hal ini justru menimbulkan banyak kesalahan wewenang yang dilakukan oleh banyak pria. Akibatnya, banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan rumah tangga. Yang saya lihat, inilah yang diperjuangkan Kartini, sekalipun memiliki bentuk fisik yang berbeda dengan laki-laki, perempuan tetaplah manusia yang berpikir, punya cita-cita, dan memiliki hati. Laki-laki yang memiliki karakter cenderung keras kepala daripada perempuan, bahkan seringkali perbedaan opini sesama laki-laki membentuk konflik. Namun, yang banyak terjadi adalah  ketika  laki-laki  menemui  perbedaan  dengan perempuan, seringkali terjadi kepada perempuan terdekatnya. Mereka justru menganggap dia adalah pemimpin dan merasa lebih benar. Ini yang justru salah, laki-laki tegas, tapi tidak cukup dengan itu, ia pemimpin karena ia harus mempertimbangkan segala ide-ide dan hak yang berasal perempuan juga. Dengan begitu pemahaman pemimpin yang harus dilihat bukanlah bagaimana yang memberikan keputusan semaunya. Tetapi bagaimana ia memberikan keputusan yang bijak.

Perhatian-perhatian terhadap hal ini perlu dilakukan bagi seluruh pihak, bukan hanya di hari Kartini. Karena dari apa yang saya lihat, di daerah-daerah tertentu masih banyak cara berpikir yang rasanya sudah tidak relevan dengan era sekarang ini. Biasanya yang memang daerah tersebut kualitas pendidikannya masih belum mampu membuka pikiran masyarakatnya yang cenderung memiliki idealisme kuat. Inilah yang perlu diperhatikan dan direkonstruksi, walau barangkali bukan hal yang mudah, tetapi membuka pikiran manusia terhadap sebuah zaman baru itu perlu.

Keadilan sendiri bukan berbicara tentang persamaan saja. Jika dalam konteks hak, adil merupakan pemberian hak yang sesuai dengan porsinya. Contohnya, porsi makan manusia dewasa tentu berbeda dengan porsi makan ana -anak. Maksudnya, bukan berarti wanita memiliki porsi lebih sedikit. Tanpa membeda-bedakan berdasarkan gender ataupun seks, setiap individu perlu menyadari kemampuannya. Dengan begitu, maka setiap individu bisa menjadi lebih menyadari akan haknya masing-masing. Dan dengan begitu, mimpi Kartini agar setiap perempuan dapat diperlakukan sama dapat terwujud. Agar tanpa melihat dari sisi gender, setiap manusia dapat memperoleh haknya masing-masing sesuai dengan kemampuannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here