Merayakan Prabu di Lapangan Merah

0
1359
Rencana lokasi dilaksanakannya Penerimaan Mahasiswa Baru (Prabu) 2018 di lapangan merah Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang. (Warta Kema/Lavira A.)

Penerimaan mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad) tahun ajaran 2018/2019 akan segera digelar. Lebih dari tujuh ribu mahasiswa baru akan mengikuti prosesi resmi Penerimaan Mahasiswa Baru (Prabu) Unpad di penghujung Agustus tahun ini. Mereka akan menjalani seremonial dan serangkaian kegiatan untuk mengawali perkenalan dengan budaya Unpad.

Nilai-nilai yang diangkat dalam Prabu tahun ini adalah kesundaan, ke-Unpad-an, dan nasionalisme. Ketiganya merupakan kombinasi tepat untuk Unpad yang berada di tanah Padjadjaran. Tidak seperti biasanya, Prabu 2018 bisa jadi memiliki perbedaan mencolok. Bukan dari nilai yang diangkat, melainkan dari tempat pelaksanaannya yang kemungkinan dipindah dari Gor Djati.

Prabu memang pernah dilaksanakan di Grha Sanusi kampus Dipatiukur, Bandung, tetapi sentralisasi penerimaan mahasiswa baru Unpad sepertinya tetap akan dilakukan di kampus Jatinangor. Keputusan tempat pelaksanaan Prabu 2018 kemungkinan besar akan berlangsung di lapangan merah Unpad dan melibatkan tempat parkir gedung PPBS (Pusat Pelayanan Basic Science). Hal itu karena lapangan Gor Djati yang telah direnovasi tidak bisa digunakan sampai ajang Asian Games 2018 selesai.

Perhelatan besar Prabu tahun ini perlu disiapkan cukup ekstra oleh panitia penyelenggara. Jika perubahan tempat terjadi, tentu akan berpengaruh pada jalannya kegiatan yang selama enam tahun berturut-turut dieksekusi di Gor Djati. Bagaimana pun, pihak pemangku kebijakan kampus tampak tidak bisa ditawar lagi terkait kebijakannya mengkhususkan Gor Djati bagi Asian Games. Padahal, lapangan yang diperuntukkan latihan tim sepak bola Korea dan Jepang itu sangat multifungsi. Gor Djati merupakan tempat yang terbilang ideal untuk menampung perhelatan akbar seperti Prabu.

Ketika Gor Djati dikomparasikan dengan lapangan merah, akan terlihat lapangan merah memiliki banyak kekurangan. Lapangan itu tidak memiliki fasilitas layak seperti Gor Djati. Keterbatasan seperti tidak adanya toilet, tribun, dan tembok pembatas mungkin akan berdampak pada masalah teknis kelak. Tembok pembatas lapangan dapat berpengaruh pada keamanan serta akses keluar-masuk lokasi Prabu. Kondisi tanah merah juga berpotensi menimbulkan debu saat kegiatan berlangsung. Namun, lapangan merah direncanakan menjadi pilihan panitia Prabu dibanding Grha Sanusi atau area depan Gedung Rektorat yang sejak awal ditawarkan oleh pihak rektorat.

Panitia pelaksana mesti pandai mengakali keterbatasan di tempat yang baru. Mereka diharapkan melaksanakan Prabu secara lebih baik dari sebelumnya. Mereka perlu berkaca pada Prabu periode lalu, kekurangan justru terjadi pada materi acara yang dibawakan. Prabu 2017 juga dinilai kurang berhasil, salah satunya seperti konten yang dirancang dan dipraktikkan oleh panitia kurang sukses lantaran kurang membuat peserta aktif. Oleh karena itu, panitia Prabu 2018 perlu memperbaikinya dan terus berinovasi dalam berbagai hal. Jangan sampai perubahan tempat menjadi alasan untuk membuat bahkan mengulang kesalahan.

 

Catatan redaksi: 

Artikel ini telah kami koreksi pada 5 Agustus 2018 karena beberapa pernyataan tidak akurat dalam menafsirkan data. Disebutkan dalam artikel sebelumnya: ‘Keputusan tempat pelaksanaan Prabu 2018 sudah dipastikan akan berlangsung di lapangan merah Unpad dan melibatkan tempat parkir gedung PPBS (Pusat Pelayanan Basic Science).’

Berdasarkan koreksi dari pihak terkait, yakni Panitia Prabu, kegiatan Prabu 2018 belum dapat dipastikan akan berlangsung di lapangan merah Unpad. Kami mohon maaf atas kekeliruan dan ketidaknyamanan tersebut. Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here