Petani Kedelai Lokal Dijadikan Keledai oleh Pasar Internasional

0
177
Ilustrasi. Sumber: viva.co.id

Kedelai merupakan salah satu tanaman kacang polong-polongan yang menjadi bahan dasar makanan masyarakat sehari-sehari, seperti tempe, tahu, susu kedelai, kecap, tauco ataupun tepung kedelai. Dari sekian banyak makanan berbahan dasar kedelai hanya tempe dan tahu yang menjadi makanan favorit   masayarakat di desa ataupun masyarakat di kota.

Realita di masyarakat saat ini, masyarakat kecil harus berfikir berulang kali untuk membeli tempe & tahu disebabkan harga kedelai yang melambung tinggi. Harga semula dari kedelai di pasaran sekitar Rp5.000-Rp6.000/kg dan sekarang harga dari kedelai mencapai Rp8.000 kg. Para pengrajin tahu-tempe melakukan mogok produksi yang sekiranya menurut mereka memberikan tekanan kepada pemerintah padahal dampak secara langsung hanya menyusahkan masyarakat untuk mencari tahu-tempe.

Beranjak dari permasalahan tersebut, saya membagi ke dalam 3 subjek penyebab masalah harga dari kedelai ini, yaitu:

1) Pemerintah
Tidak sepenuhnya masalah ini disebabkan oleh pemerintah tetapi boleh dikatakan penyebab utama dari permasalahan ini memang pemerintah. Ini merupakan contoh kegagalan pemerintah jika dilihat dari konsep ketahanan pangan. Ketahanan Pangan tidak hanya mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri tetapi juga menjaga harga pangan agar tetap stabil dan terjangkau oleh masyarakat kecil.

Banyak sekali bukti-bukti akan kurangnya kepedulian penjabat pemerintah terhadap masalah yang terjadi pada masayarakat. Pada berita awal juli pada salah satu Koran, mengeposkan gambar dan artikel mengenai banyaknya kursi-kursi kosong pada saat rapat parlemen. Bukti lainya adalah  Komisi IV fraksi PKS DPR RI mengatakan telah mengusulkan badan-badan terkait melakukan pertemuan    untuk menyelesaikan masalah kedelai ini, tetapi usul ini tidak ditanggapi secara serius, hal itu ditandai oleh ketidakhadiran perwakilan badan-badan terkait tersebut. Penjabat malah merdebatkan tentang perbaikan fasilitas gedung yang tentunya hal ini tidak harus diutamakan.

Menurut suswono sebagai menteri pertanian mengatakan bahwa hal ini disebabkan oleh tidak adanya lembaga khusus yang mengatur tentang harga kedelai. Jika memang penyebab utamanya hal itu mengapa tidak dengan segera bentuk lembaganya sebelum masalah-masalah lain timbul.

2) Pengusaha importir
“Fraksi Golkar DPR RI khawatir sesungguhnya kenaikan harga kedelai saat ini sudah identik dengan praktek kartel (Kartel adalah kelompok produsen independen yang bertujuan menetapkan harga, untuk membatasi suplai dan kompetisi)” kata Novanto, fraksi Golkar. Pengusaha importir bisa saja mempunyai peluang untuk mengatur kebijakan-kebijakan perdagangan luar negeri dengan sejumlah uang syetan kepada pemerintah tentunya. Hal itu pemerintah perlu mewaspadai berbagai kemungkinan yang terjadi di dalam internalnya sendiri.

3) Petani Kedelai
Pada berita metro TV, memang pada tahun ini para petani kedelai memilih padi untuk ditanaman dilahannya. Hal ini para petani mempunyai pertimbangan khusus yaitu ketidakstabilan harga jual kedelai.

Masalah  petani  saat  ini  terletak  pada  budaya, System ijon masih tetap menjadi penghambat berkembangnya pertanian dalam negeri. Selain itu, “paradigma pemasaran hasil panen ke pasar tradisional lebih mudah dibandingkan ke pasar terstruktur (ekspor dan supermarket)” tetap terjadi disebagian besar desa di Indonesia, padahal jika dilihat dari keuntungannya pemasaran ke pasar terstruktur lebih jauh menguntungkan.

Ketiga subjek ini bisa menjadi aspek-aspek perbaikan untuk solusi jangka panjang, yaitu meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.. Berikan jaminan pasar untuk para petani kedelai sehingga memberikan dorongan untuk memilih tanaman kedelai sebagai mesin uang di lahannya. Selain itu, persiapkan lahan yang sesuai dengan karakteristik  dari  kedelai  itupun  sangat  penting  demi peningkatan kuantitas kedelai local, mengingat intensifikasi pertanian yang dilakukan oleh pemerintah hanya terjadi peningkatan sangat minim. Isu yang terdengar saat ini Kementrian Kehutanan telah menyiapkan 1 juta hektar lahan hutan untuk pertanian, hal ini bisa menjadi kesempatan untuk kementrian pertanian untuk menggunakannya dengan sebaiknya.

Pada berita antara news, “Konsumsi kedelai di Tanah Air  mencapai 2,6 juta ton per tahun, sedangkan produksi dari dalam negeri baru mencapai 850.000 ton per tahun”. Sulit dicegah lagi kedelai impor memang sudah mendominasi di pasaran. Para pedagang eceran ataupun grosiran terpaksa membeli kedelai impor untuk diperdagangkan ke konsumen. Dampaknya pasar internasional menjadi pak kusir sedangkan petani kedelai lokal menjadi keledai yang senantiasa diatur dengan mudahnya. Untuk saat ini memang Negara pemasok kedelai menaikan harga dari kedelai tersebut karena terjadi gangguan budidaya kedelai. Sesungguhnya yang kami takutkan adalah permainan politik Negara luar terhadap perekonomian kita.

Subsidi jutaan rupiah tiap semester dari jerih payah rakyat untuk ANDA yang mengenyam pendidikan perguruan tinggi negeri telah dilakukan setiap tahunya. Kita tidak ditugaskan oleh rakyat untuk tidak hanya duduk santai mendengarkan ocehan dari dosen. Bantulah rakyat untuk menyelesaikan masalah ini. Ingat kita mempunyai tanggungjawab atas dasar tugas TRI DHARMA perguruan tinggi yaitu Pendidikan dan pengajaran, Penelitian dan Pengembangan dan Pengabdian Pada Masyarakat. Introsepeksi diri masing-masing adalah langkah pertama yang seharusnya kita lakukan. Apakah ANDA sama dengan penjabat yang sering anda caci maki yang mana tidak bertanggungjawab terhadap rakyat?..

Pemerintah memang butuh tekanan-tekanan dari kita sebagai mahasiswa, tetapi orasi anarkis tanpa solusi di depan gedung DPR bukan penyelesaian masalah yang tepat. Mulailah dengan Indetifikasi masalah yaitu kemungkinan penyebab dan pelaku dari masalah tersebut, sehingga diharapkan mampu mengluarkan solusi tepat yang benar- benar dibutuhkan oleh pemerintah saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here