Kapella, Menikmati Keindahan Jagat Raya

0
149
Dokumentasi Kapella

Komunitas Pendongkak Langit atau yang lebih dikenal dengan Kapella adalah komunitas yang mewadahi mahasiswa yang mempunyai minat di bidang astronomi. Komunitas ini berdiri pada tanggal 15 Februari 2015. Awalnya berdirinya komunitas ini terdiri dari 7 orang yang mempunyai satu hobi yang sama yaitu menatap langit namun merasa tidak ada wadah untuk menyalurkan hobi tersebut. Setelah komunitas ini terbentuk, ternyata peminatnya sangat banyak. Saat ini ada 123 orang yang terdaftar sebagai anggota komunitas. Awalnya Kapella terbuka untuk umum namun saat ini lebih berfokus pada mahasiswa Unpad.

Nama Kapella sendiri sebenarnya bukan sekedar singkatan, namun nama tersebut diambil dari salah satu bintang di rasi Auriga, Capella. Karena namanya, banyak astronom amatir yang awalnya tidak menyangka bahwa Kapella merupakan komunitas astronomi.

Pertemuan rutin Kapella diadakan setiap dua minggu sekali di akhir pekan. Kegiatan yang biasa dilakukan adalah observasi, diskusi, hingga menonton film bertemakan astronomi. Selain itu ada juga astrofotografi, yaitu memotret objek-objek langit, yang dilakukan setiap bulan dimana Kapella pergi ke tempat yang masih minim polusi cahaya untuk memotret langit. Adapula  kegiatan fenomena astronomi namun waktu kegiatannya tidak pasti karena menyesuaikan fenomena-fenomena astronomi yang ada. Salah satu contohnya ada fenomena Hujan meteor Taurid Utara dan Taurid Selatan yang puncaknya pada tanggal 12 November 2015. Selain itu ada pula kegiatan kunjungan malam ke Observarium Boscha dan observasi hujan meteor Orionid Oktober lalu di Rancaupas. Tidak hanya meteor, tanggal 8 Desember 2015 akan ada comet Catalina yang muncul dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.

September 2015 kemarin, Kapella bekerja sama dengan NASA dan berbagai organisasi-organisasi di seluruh dunia, mengadakan observasi bulan internasional yang bernama International Observe the Moon Night atau InOMN. Ternyata banyak sekali yang antusias datang dalam kegiatan tersebut tidak hanya dari mahasiswa Unpad tapi juga dari masyarakat umum. Di Indonesia sendiri InOMN hanya ada di 6 tempat salah satunya di Jatinangor. InOMN sendiri terdiri dari tiga sesi, yang pertama observasi dengan teleskop, yang kedua astrofotografi, dan yang ketiga pojok film astronomi yang menyajikan film-film bertemakan astronomi.

Peralatan yang digunakan Kapella untuk kegiatan outdoor-nya adalah teleskop, peta bintang, ada laser pointer yang berfungsi untuk menunjuk suatu objek langit. Untuk peta bintang sendiri ada yang manual adapula yang bisa diakses dengan smartphone android.

Salah satu yang menjadi penghambat bagi Kapella adalah polusi cahaya. Dengan semakin pesatnya pembangunan, khususnya di wilayah Jatinangor, dengan cahaya yang berlebih tidak hanya merugikan ekosistem tapi membuat bintang yang terlihat semakin sedikit. Oleh sebab itu, ketika melakukan observasi Kapella harus pergi ke tempat yang minim cahaya seperti ke pantai-pantai di garus atau wilayah Bandung selatan seperti Ciwidey atau Pangalengan. (Pinna Swastika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here