Bunuh Diri: Pilihan dan Keadaan

0
277
Foto: Dilansir dari imdb.com

Resensi Serial 13 Reasons Why

Isu kesehatan mental kini tengah menjadi perhatian banyak orang. Hal ini tidak terlepas dari berita-berita di berbagai media mengenai peristiwa-peristiwa bunuh diri public figure. Mulai dari aktor, aktris, penyanyi, hingga chef kelas dunia.

Jika mendengar kata “bunuh diri”, pasti yang berada di pikiran pembaca adalah hal-hal yang mengerikan, bukan? Di beberapa negara, bunuh diri sudah menjadi hal lumrah saking tingginya angka bunuh diri. Kecenderungan bunuh diri ini tidak jarang dikemas dalam produk kebudayaan seperti novel, film, dan serial televisi. Salah satunya adalah sebuah serial telivisi asal Amerika yang sempat menjadi obrolan hangat, 13 Reasons Why.

13 Reasons Why diangkat dari sebuah novel fiksi remaja best-selling New York Times yang ditulis oleh Jay Asher. Cerita tentang pembunuhan ini sukses memikat hati pembaca remaja di berbagai belahan dunia dan mampu menarik perhatian lembaga distributor film ternama, Netflix. Netflix mengadaptasi novel Jay Asher ini menjadi serial televisi dalam 13 episode.

Serial itu berkisah tentang Clay Jensen (17) yang dikirimi kotak berisi tape misterius yang dikirim temannya, Tony Padilla. Setelah Clay mendengarkan salah satu tape melalui walkman Tony, ia baru menyadari bahwa tape yang ia dengar adalah hasil rekaman salah satu kasus tewasnya seorang teman si kelasnya, Hannah Baker. Hannah ditemukan telah tewas tenggelam di bak kamar mandi dengan pisau yang berlumur darah. Banyak orang bersimpati mendengar kabar duka tersebut, namun sebenarnya hanya sedikit yang benar-benar besimpati, salah satunya ialah Clay. Pihak sekolah bahkan tidak tahu-menahu mengenai kasus Hannah Baker.

Hannah Baker (17) adalah gadis yang belum lama pindah ke sebuah kota dan menjadi siswi baru di salah satu SMA. Sosok Hannah menjadi sorotan di sekolah baru, maka dari itu banyak yang ingin mengenal Hannah lebih jauh. Namun, sifat lugu Hannah memicu niatan jahat dari berbagai temannya secara sengaja atau tidak sengaja.

Tiga belas rekaman yang diterima Clay adalah alasan mengapa Hannah memilih bunuh diri. Begitu Clay mendengar rekaman pertama, ia menyadari bahwa ia adalah salah satu penyebabnya. Clay yang menyimpan rasa khusus untuk Hannah merasa ia harus menyelesaikan kasus tersebut. Oleh karena itu, Clay segera melakukan napak tilas yang dipandu oleh rekaman suara Hannah.

Satu demi satu alasan Hannah memutuskan bunuh diri pun terungkap. Mulai dari teman-temannya sendiri. Berbagai konflik dalam pertemanan dan percintaannya timbul. Hal itu membuat Hannah Baker terbebani sepanjang waktu. Ia tak sanggup untuk menanggung semua masalahnya sendiri sehingga timbul pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Hannah menganggap bunuh diri akan melepaskan segala permasalahan yang terjadi di dalam hidupnya. Setelah kematian Hannah, beberapa teman Hannah sangat menyesal akan perbuatannya. Namun, hal tersebut sudah terlambat karena mereka tak menyadari bahwa yang mereka lakukan membuat Hannah menjadi depresi.

Walaupun banyak pihak menyatakan bahwa film ini tak layak dikonsumsi remaja karena terdapat adegan kekerasan dan adegan dewasa. Namun, kisah yang ada dalam 13 Reasons Why ini sebenarnya bisa menjadi pembelajaran dan media untuk membangun kesadaran terhadap penyakit mental dan kesehatan mental. Serial ini juga memerlihatkan bagaimana perlakuan tidak menyenangkan seperti perundungan memengaruhi keadaan psikologis. Depresi tidak bisa dianggap sepele sebab orang yang mengalaminya bisa melakukan hal-hal yang ekstrim. Serial ini juga menjadi teguran untuk orangtua agar selalu mengawasi perkembangan anak-anaknya sehari-hari.

Resensi Serial One Day

Berbeda dengan 13 Reasons Why, One Day (2017) memandang bunuh diri secara berbeda. Film arahan Lee Yoon Ki ini menyajikan tokoh-tokoh yang sudah dewasa. One Day menceritakan Lee Kwang Soo, seorang pekerja asuransi yang harus membereskan kasus Dan Mi So. Kwang Soo ditugaskan mencari tahu apakah kecelakaan Mi So merupakan kasus bunuh diri atau bukan.

Tanpa alasan yang jelas, Kwang Soo bisa melihat jiwa Mi So yang berkeliaran di sekitar rumah sakit. Walaupun awalnya takut, Kwang Soo memanfaatkan hal itu untuk langsung bertanya pada Mi So, namun Mi So tidak memberikan jawaban yang jelas. Mi So pun ikut memanfaatkan keadaan dengan meminta Kwang So mengantarnya ke lokasi pernikahan temannya karena ia tidak tahu tempat atau jalan yang harus ia lalui.  Hal itu tentu saja wajar karena Mi So baru bisa melihat setelah jiwanya berkeliaran di luar tubuh. Tubuhnya yang asli tidak bisa melihat.

Kwang Soo melanjutkan investigasinya terkait kecelakaan Mi So dan menemukan fakta bahwa Mi So pergi menemui ibu kandung yang dulu membuangnya. Ditolak oleh ibu kandungnya, Mi So pergi terburu-buru. Miso yang tidak bisa melihat, lupa mengambil tongkatnya dan tertabrak mobil.

Kwang Soo meminta ibu Mi So menjenguk Mi So yang sudah koma selama dua bulan. Kwang Soo juga menyarankan untuk mengurus asuransi Mi So. Ibunya awalnya menolak, namun berubah pikiran dan menjenguk Mi So. Mi So begitu terharu, namun hal itu juga tidak membuatnya senang. Ia merasa menjadi sumber penderitaan ibunya dan meminta Kwang Soo membantunya pergi.

Kwang Soo menolak karena mengingat bagaimana rasanya ditinggalkan. Istrinya juga melakukan bunuh diri karena sakit keras. Saat Kwang Soo dan Mi So pergi ke pantai, terjadi keajaiban. Istri Kwang Soo datang memberi alasan mengapa ia bunuh diri. Ia hanya ingin Kwang Soo mengingat saat-saat menyenangkan dengannya, bukan ketika ia sakit dan menjadi orang berbeda.

Setelah itu, Kwang Soo mengingat-ingat lagi memori menyenangkan bersama istrinya dan memahami apa yang diinginkan Mi So. Ia pergi ke rumah sakit untuk mengabulkan permintaan terakhir Miso, yaitu membantunya pergi. Tanpa sepatah kata, hanya melalui genggaman tangan, Kwang Soo dan Mi So berpamitan.

13 Reasons Why dan One Day sama-sama menyajikan cerita mengenai bunuh diri. Dalam 13 Reasons Why, bunuh diri dipandang sebagai akibat dari depresi karena keadaan sosial berupa perundungan, masalah pertemanan, dan percintaan khas remaja. Serial ini tentu diharapkan membangun kesadaran dan kepedulian terhadap penyakit mental dan kesehatan mental.

Berbeda dengan 13 Reasons Why, One Day memandang bunuh diri sebagai pilihan. One Day mengajak penonton melihat lebih dalam salah satu alasan mengapa orang melakukan bunuh diri. Sayangnya, pandangan ini seperti meromantisasikan bunuh diri dan membuat kesan bahwa bunuh diri adalah pilihan masing-masing, saat seharusnya orang-orang dengan kecenderungan bunuh diri ditolong keluar dari kecenderungannya itu. Namun, padangan itu juga diseimbangkan dengan memperlihatkan bagaimana keadaan seseorang saat ditinggalkan.

 

(Puisi M & Dina J)

Editor: Lia Elita

Catatan: Gambar dilansir dari imdb.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here