Resilience: Remi’s Rebellion: Perjuangan Menemukan Jati Diri

0
106
Cover buku Resilience: Remi’s Rebellion. Sumber: ed

Judul                           : Resilience: Remi’s Rebellion

Penulis                        : Nellaneva

Penerbit                       : Bhuana sastra

Tahun Terbit               : 2018

Jumlah Halaman         : 379 Halaman

 

“Tolong bantu aku jadi menyenangkan,” jawabku.

“Untuk apa?”

“Untuk punya beberapa atau, kalau beruntung, banyak teman.”

“Kenapa? Ingin populer?” tuding Kino.

“Biar enggak mati sendiri.” (Hal. 28)

__

Remi, 16 tahun, seorang gadis remaja yang dinilai aneh dan memiliki dunianya sendiri. Remi menghabiskan hari-hari dengan berkhayal, membaca buku, atau menonton film tanpa seorang pun teman. Sejak mengalami kejadian kurang menyenangkan ketika kecil, ditambah keluarga yang kurang memberikan kasih sayang untuknya, Remi memandang dunia secara skeptis. Selama ini, ia merasa bahwa kehidupan yang ia jalani adalah suatu hal yang wajar. Namun setelah bermimpi menjadi nenek tua yang menghabiskan sisa hidupnya sendirian, Remi terpaksa berubah. Ia ingin berinteraksi dengan orang lain. Perjuangan Remi dimulai dari perkenalan yang tanpa sengaja terjadi dengan si ketua kelas supel, Kino. Lelaki itu mengajarkan Remi bagaimana cara membuka diri, memulai percakapan, dan mencari teman. Perlahan, Remi menemukan arti penting persahabatan melalui Kino. Ia pun menganggap Kino sebagai seorang teman berharga, penyelamat hidupnya.

Pada bagian kedua yaitu Resilience, Remi dikisahkan sebagai wanita dewasa berusia 25 tahun yang sudah lulus kuliah, memiliki sahabat dan kehidupan yang cukup baik. Sayangnya, hal itu tidak semerta-merta mengubah diri Remi yang lama. Seringkali, ia masih melarikan diri dari masalah dan takut menghadapi orang lain. Selain itu, ketergantungan pada Kino yang nyatanya tidak ada di samping Remi membuat ia cukup terpuruk. Saat akhirnya ia tanpa sengaja sering bertemu dengan lelaki yang aneh, dingin, namun sangat cerdas bernama Emir, kehidupan Remi mulai berputar. Elang, yang ternyata adalah adik laki-laki Emir, juga memberikan warna baru pada kehidupan gadis itu. Saat itulah Remi dihadapkan dengan pilihan untuk terus tenggelam dalam masa lalu, atau mantap melangkahkan kaki ke depan dengan segala tantangan yang menanti.

Novel ini ditulis dengan sangat baik. Sudut pandang yang dipakai adalah orang pertama yaitu Remi, membuat para pembaca seakan merasakan kehidupan Remi sesungguhnya. Gaya bahasa seperti buku harian ini menjadi ringan dibaca tanpa meninggalkan esensi cerita. Tanpa sadar, sebagian besar orang mungkin akan merasa relatable dengan kehidupan Remi. Tentu kita pernah memiliki teman introvert yang cenderung tertutup, menarik diri, atau bahkan ini merupakan kepribadian kita sendiri.

Permasalahan yang disajikan juga terasa begitu nyata dan kompleks. Bukan hanya soal percintaan, namun mengenai cara memperbaiki diri dari kegelisahan yang selama ini membelenggu Remi. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam kehidupan Remi juga digambarkan dengan sangat baik. Sesuai porsi masing-masing. Seperti Kino yang mengajarkan kemurahan hati untuk menolong, Emir yang dingin karena sebab masa lalu namun ternyata perhatian, atau Elang yang dengan segala kekurangannya malah mampu berbuat lebih.

Akhir kata, novel ini sangat sesuai untuk dinikmati oleh berbagai kalangan. Kisah realistis yang mengangkat tema mengenai mental health ini sangat dekat dengan kehidupan pembaca, terutama generasi muda. Kasus-kasus serupa yang memicu timbulnya tindakan lebih jauh. Tanpa disadari, ada begitu banyak kisah yang terjadi di sekitar kita. Pengalaman pahit karena ditinggalkan teman, keluarga yang tidak harmonis, mengalami kekerasan verbal maupun fisik, dan masih banyak lagi. Bagaimanapun bentuknya, tidak ada kata ‘terlambat’ bagi orang-orang yang ingin berdamai dengan masalah.

Sedikit-banyak, kita juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana cara menyikapi orang-orang seperti Remi. Perjuangan mereka dalam mengatasi kecemasan, bagaimana melawan diri sendiri dan menghadapi pandangan orang lain. Semua itu dikemas secara apik oleh sang penulis. Pada intinya, tentu seseorang harus mampu mengatasi ketakutan terbesar dalam diri dan mendapatkan kebahagiaan atas itu.

Penulis : Faqihah Muharroroh Itsnaini

Editor: Hayfa Rosyadah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here