Sebuah Keindahan dalam Cahaya yang Tak Tampak

0
191

Judul                          : All The Light We Cannot See

Penulis                       : Anthony Doerr

Genre                         : Historical Fiction

Penerbit                     : Scribner

Tahun Terbit             : 2014

Jumlah Halaman       : 530 halaman

 

“Open your eyes, and see what you can with them before they close forever.”

 

All The Light We Cannot See merupakan sebuah novel fiksi karya Anthony Doerr, penulis yang juga menulis karya lain berupa About Grace, Memory Wall, dan The Shell Collector. Berbeda dengan karya Doerr yang lain, All The Light We Cannot See dengan genre fiksi sejarahnya mengangkat kisah dua yatim-piatu berbeda bangsa di tengah kekacauan dunia yang sedang dilanda Perang Dunia II.

 

Menceritakan kisah hidup Marie-Laure LeBlanc dan Werner Pfennig yang berbeda bangsa, All The Light We Cannot See kebanyakan mengambil latar tempat di Perancis dan Jerman. All The Light We Cannot See karya Anthony Doerr ini membuka kisah-kisah lain selain tembak-menembak, bom-mengebom, dan mati-mematikan di tengah Perang Dunia II.

 

“When I lost my sight, Werner, people said I was brave…. But it is not bravery; I have no choice. I wake up and live my life. Don’t you do the same?”

 

Marie-Laure LeBlanc, seorang gadis berkebangsaan Perancis yang kehilangan penglihatannya di usia yang sangat muda harus menjalani kehidupan di luar zona nyamannya saat perang pecah. Tidak ada lagi Paris. Tidak ada lagi pergi ke Museum of Natural History, bertanya pada para ilmuwan. Tidak ada lagi model-model lingkungan rumah dan teka-teki menarik dari Ayah, bahkan Ayahnya tercinta, Daniel LeBlanc, tidak pernah ada lagi.

 

Memulai hidup baru di Saint-Malo bersama pamannya yang mengalami Agoraphobia (ketakutan berada di tempat-tempat umum), Etienne dan bibinya Madame Manec, ia mencoba untuk selalu tegar dan mandiri berbekal model lingkungan Saint-Malo dan batu permata bernama Sea of Flames yang ditinggalkan oleh Ayahnya. Terus begitu hingga suatu hari datang kolektor batu permata yang mengincar Sea of Flames-nya.

 

“His soul glowed with some fundamental kindess….”

 

Di sisi lain Perancis, seorang yatim-piatu bernama Werner Pfennig tinggal dan besar di kota Zollverein, Jerman. Sebuah kota pertambangan. Werner yang diasuh oleh Frau Elena, seorang wanita Perancis, tumbuh sebagai anak yang ingin tahu segala hal. Bakat Werner pun semakin terlihat sejak berhasil memperbaiki radio yang ia temukan. Radio yang membawa program edukasi dari Perancis yang membuat Werner semakin mencintai ilmu pengetahuan.

 

Dengan bakat yang ia miliki itu, Werner berhasil memasuki sekolah kemiliteran (yang penulis asumsikan sebagai Hitler Youth). Namun Hitler Youth itu tentu saja memisahkan Werner dengan Frau Elena, teman-teman seatap, dan tentu saja adiknya, Jutta Pfennig. Tak lama, Werner diturunkan ke medan perang untuk melacak radar radio musuh. Werner bahkan pergi hingga ke Stalingrad, sampai takdir membawanya menuju Saint Malo, Perancis.

 

Di Saint Malo lah persimpangan kehidupan berada. Werner Pfennig bertemu dengan Marie-Laure dan Werner Pfennig tahu tempat radio dimana program edukasi yang sangat ia sukai dulu diputar. Werner juga menjadi orang yang menolong Marie-Laure dari kolektor batu permata.

 

Kelebihan:

“That something so small could be so beautiful. Worth so much. Only the strongest people can turn away from feeling like that.”

 

Bab dengan konten yang pendek (rata-rata dua atau tiga halaman) membuat All The Light We Cannot See tidak membosankan. Setiap bab juga memuat cerita yang penting sehingga tidak ada kesan bahwa suatu bab ditulis hanya untuk memperpanjang cerita. Pecahan-pecahan peristiwa di setiap bab juga menegangkan, mengharukan, dan menyedihkan. Lebih dari itu semua, All The Light We Cannot See memuat narasi-narasi dan deskripsi-deskripsi yang indah. Hal tersebut membuat setiap perasaan yang dihadirkan terasa nyata. All The Light We Cannot See juga membuat sains begitu puitis dan terasa berbeda.

 

Selain itu, program edukasi di radio juga memberi inspirasi mengenai pemaparan ilmu pengetahuan yang kreatif dan indah, seperti:

 

“What do we call visible light? We call it color. But the electromagnetic spectrum runs to zero and infinity in the other, so really children, mathematically, all of light is invisible.”

 

“The brain is locked in total darkness, of course, children. It floats in a clear liquid inside the skull, never in the light. And yet the world it constructs on mind is full of light. It brims with color and movement. So how, children, does the brain, which lives without a spark of light, build for us a world full of light?”

Kekurangan:

Akhir novel, terlebih lagi akhir cerita Werner Pfennig mungkin tidak disukai banyak pembaca karena tidak sesuai novel pada umumnya. Hal ini kemungkinan membuat pembaca merasa kecewa. Namun menurut penulis, akhir cerita All The Light We Cannot See sudah sangat logis—walaupun tragis.

 

Selain itu, dengan alur maju-mundurnya, pembaca kemungkinan tidak siap dan baru menyadari di saat alur berubah (ditandai dengan tulisan tahun). Alur maju-mundur ini juga membuat peralihan dari adegan ke adegan terasa aneh karena tiba-tiba pembaca diajak ke bagian yang benar-benar berbeda dari cerita sebelumnya sehingga cerita terkesan “tidak nyambung”. Pembaca mungkin harus lebih cermat dengan alur maju-mundur ini agar tetap bisa menikmati novel All The Light We Cannot See tanpa kebingungan.

 

Akhir kata, ada sebuah kutipan dari JR Moehringer yang diambil dari situs http://anthonydoerr.com

 

“Anthony Doerr sees the world as a scientist, but feels it as a poet. He knows about everything—radios, diamonds, mollusks, birds, flowers, locks, guns—but he also writes a line so beautiful, creates an image or scene so haunting, it makes you think forever differently about the big things—love, fear, cruelty, kindness, the countless facets of the human heart.”

 

Dan saya tidak pernah tidak setuju dengan kutipan di atas.

 

(Dina Juwita)

Editor: Dila Fauziah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here