Rompi Anti Kanker di Pilmapres Unpad 2018

0
522
Wawancara dengan Fachreza Aryo Damara, juara pertama Mahasiswa Berprestasi periode 2018, bertepatan di Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Jatinangor pada Rabu (28/3/2018). (Warta Kema/Alza Ahdira)

Universitas Padjadjaran (Unpad) sudah menetapkan pemenang dari ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat universitas periode 2018. Fachreza Aryo Damara, biasa disapa Aryo, mulai dikenal oleh banyak mahasiswa Unpad karena telah menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres).  Di tengah kesibukannya, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) jurusan Pendidikan Dokter angkatan 2015 itu menyempatkan wawancara dengan Warta Kema. Saat ditemui oleh Warta Kema pada Rabu, 28 Maret 2018, ia membagikan pengalamannya dalam mengikuti ajang Pilmapres hingga akhirnya menjadi juara pertama.

Bukan tanpa kendala Aryo mengikuti Pilmapres itu. Dirinya mendapati kendala terkait tenggat waktu pengumpulan berkas yang terlalu mendesak. “Mungkin ada banyak orang yang menginginkan menjadi Mawapres, tapi mungkin dalam membuat KTI membutuhkan waktu yang lama. Ketika waktunya mepet, akan mengundurkan diri. Tapi karena ini target akhir saya, jadi saya mengerahkan seluruh kemampuan,” ungkap Aryo kepada Warta Kema.

Proses seleksi Mawapres dimulai dari tingkat fakultas. Setiap jurusan mengirimkan delegasinya untuk mengikuti seleksi tingkat fakultas. Aryo menuturkan, dari FK ada lima orang kandidat, kemudian didapat tiga besar pemenang. Pemenang pertama dari tingkat fakultas akan mewakili seleksi di tingkat universitas. Seleksi tingkat universitas meliputi presentasi Karya Tulis Ilmiah (KTI), bahasa Inggris, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), prestasi, juga kepribadian melalui aspek psikologis.

Empat hari setelah dikeluarkan pengumuman tiga besar lolos tahap dua, peserta Pilmapres dikarantina di Unpad Training Centre (UTC), di Bandung. “Kami dikarantina, dipantau tentang kepribadian, dikasih materi, upgrading-upgrading, dan lain-lain. Dilakukan penilaian juga sampai akhirnya pengumuman,” jelas Aryo perihal proses seleksi Pilmapres.

Sebelum mengikuti Pilmapres, Aryo sudah sering mengikuti lomba, termasuk penulisan KTI. “Sebenarnya dari dua tahun yang lalu, pertama kali saya ikut lomba itu alasan pertamanya untuk cari uang. Saya tidak tahu cara mencari uang dan hanya punya kemampuan untuk berorganisasi, kepanitiaan. Lalu, saya coba ikut lomba KTI. Awalnya kalah, tetapi setelah menang saya diberi tahu oleh kakak tingkat bahwa saya bisa daftar jadi Mawapres tahun depan. Sejak itu, saya mulai rajin ikut lomba karena ternyata prospek menjadi Mawapres itu sangat bagus.”

Aryo merasa dirinya diuntungkan dengan berbagai lomba yang ia ikuti, prestasi itu bisa menjadi nilai lebih dirinya dibandingkan peserta lainnya. “Menurut saya, sebenarnya banyak sekali kekurangan saya dari finalis-finalis lain. Kelebihan yang saya miliki adalah mungkin prestasi saya lebih banyak dan penulisan KTI yang lebih rapih berkat lomba-lomba yang pernah saya ikuti,” tambahnya.

 

Pengalaman Pribadi Jadi Inovasi dalam KTI

Penulisan KTI menjadi salah satu syarat dalam mengikuti Pilmapres. Tahun ini, temanya adalah Sustainable Development Goals. Bidang yang dipilih dalam penulisan KTI dibebaskan kepada para peserta. Namun, penilaiannya akan lebih bagus bila memilih latar belakang sesuai dengan jurusannya. “Saya mengangkat materi tentang kanker yang paling urgent yaitu kanker paru. Kanker paru merupakan kanker paling sering terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Saya membuat rompi anti kanker,” kata Aryo.

Aryo menyebutkan, peserta Pilmapres diharapkan sebisa mungkin membuat karya tulis yang aplikatif, bisa dibuat prototipenya. “Saya membayangkan kira-kira orang-orang yang tidak dari kedokteran mengerti alat apa yang bisa menyembuhkan kanker paru, yaitu dalam bentuk rompi. Jadi, saya tuangkan idenya menjadi rompi anti kanker untuk pasien kanker paru.”

Aryo juga bercerita, kanker merupakan latar belakang dirinya menempuh pendidikan dokter. Orang tua Aryo, tepatnya Ibunya, sudah mengidap kanker yang sampai sekarang belum bisa disembuhkan. Karena itu, Aryo mengeksplor apa yang sekiranya bisa ditawarkan dan ide itu Aryo sertakan dalam perlombaan. Ia manganggap, mampu memenangi lomba dengan idenya, artinya orang luar menghargai dan mengapresiasi inovasi dirinya.

Saat membuat KTI, Aryo mengaku dirinya melibatkan beberapa fakultas untuk membantunya. “Pada KTI ini juga saya sangat berterima kasih kepada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang telah membantu dalam aspek susunan bahasa. Saya juga pergi ke Departemen Fisika dan Kimia untuk mengecek apakah teori yang saya gunakan sudah benar atau belum. Penelitian ini multidisiplin.”

 

Persiapan Seleksi Pilmapres Tingkat Nasional

Unpad menetapkan dua nama yang akan mewakili Unpad di Pilmapres tingkat nasional, yakni Aryo juara pertama dan Harlino dari Fakultas Pertanian juara kedua Pilmapres Unpad. “Sebenarnya kalau dari seleksi berdasarkan ketentuan pedoman yang mewakili di tingkat nasional hanya satu orang. Saya kurang tahu kenapa juga, saya belum bertanya ke rektorat. Sekarang ini rektorat menetapkan ada dua orang yang akan mewaili Unpad di tingkat nasional, yaitu saya dan Harlino. Mereka bilangnya bahwa mungkin nanti, ketika saya tidak bisa, bisa digantikan. Saya tidak tahu maksud tidak bisanya itu seperti apa,” ujar Aryo.

Seleksi Pilmapres tingkat nasional dilaksanakan April 2018. Peserta diharuskan membuat video tentang KTI yang dibuatnya beserta video keseharian peserta. Saat ini, Aryo tengah menggarap konsep dari videonya akan seperti apa. “Saya nanti akan mencoba ke Fakultas Ilmu Komunikasi. Kalau mereka tidak menyanggupi, saya akan ke Unit Kreativitas Mahasiswa yang ada di Fakultas Kedokteran.”  Video dan berkas lainnya akan dikumpulkan ke website Ristekdikti pada 5-19 April.

Aryo menganggap, ia lebih baik memilih mahasiswa untuk bekerja sama dalam pembuatan videonya karena mahasiswa lebih kreatif. Bila dia menggunakan jasa profesional, video yang dihasilkan akan terpatok pada harga.

 

Aktif Berorganisasi di Tengah Kesibukan Kuliah

Aryo menjelaskan tentang bagaimana dirinya mengatur waktu sedemikian rupa di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa FK. “Memang ketika kita ingin meraih suatu bidang, maka harus ada yang kita konsekuensikan yaitu kehadiran kuliah. Di FK tidak bisa dispensasi, walaupun alasannya lomba sama saja tidak hadir. Jatah tidak hadir satu semester itu enam kali. Saya memanfaatkan itu sebaik mungkin dan selalu menyisakan satu yang kosong apabila saya sakit. Untuk materi yang tertinggal, teknik saya adalah dengan belajar bersama teman.”

Selain aktif mengukti lomba, Aryo juga aktif di berbagai organisasi. Pada tahun pertama perkuliahan, Aryo mengikuti organisasi pengabdian masyarakat. Selain itu, ia juga mengikuti organisasi yang fokus pada bidang penelitian. Ia juga bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kedokteran seluruh Indonesia.

“IPK itu jangan jadi hambatan. IPK itu hanya sebagai syarat seleksi universitas saja. Di tingkat nasional, IPK tidak dilihat, tapi jaga saja di atas tiga. Perbanyak mengikuti lomba, kalau bisa individu karena penilainnya lebih besar. Buat karya, perbanyak prestasi, ikut organisasi,” tutup Aryo dengan pesan bagi mahasiswa yang tertarik mengikuti Pilmapres tahun berikutnya.

(Dea Rahman Khairunnisa/ Sita Halimatus Sa’diyah)

Editor: Rini Ria Agustiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here