Dilema Akses Keluar Masuk Unpad

0
419
Kendaraan keluar masuk Unpad melalui gerbang lama, Selasa (6/3/2018). Tidak hanya digunakan oleh civitas akademika, masyarakat sekitar pun keluar masuk melalui gerbang tersebut. (Warta Kema/Lavira Andaridefia)

Akses Keluar Masuk Jadi Sumber Masalah Keamanan

   Universitas Padjadjaran (Unpad) memiliki sembilan pintu akses masuk dan keluar yang dapat dilewati oleh berbagai macam kalangan setiap harinya. Mahasiswa, tukang ojek, pedagang, hingga anak sekolah dapat masuk ke kampus dengan bebas. Tidak ada peraturan yang melarang kalangan tertentu untuk mengakses Unpad yang terbuka selama 24 jam. Setiap orang boleh masuk dan keluar melalui sembilan pintu itu.

   Terkait hal ini, Edward Henry selaku Sekretaris Direktorat Sarana dan Prasarana Unpad mengatakan, Gerbang Cileles dan sembilan gerbang lainnya merupakan penghubung Unpad dengan warga Desa Cileles. “Gerbang ini tidak bisa ditutup, karena gerbang ini merupakan akses ibu-ibu ke pasar, anak-anak sekolah, bapak-bapak main melalui Gerbang Cileles menuju ke kampus kita. Kenapa tidak bisa ditutup? Karena warga tidak mau ditutup. Di Unpad ada sembilan pintu masuk. Serta segala macam kalangan yang masuk, otomatis keamananya problem,” tuturnya saat ditemui reporter Warta Kema di Gedung Rektorat, Selasa, 6 Maret 2018.

   Edward menuturkan, sejak 2007, pihak rektorat telah berusaha untuk menutup pintu-pintu itu. Telah ada upaya dalam setiap tahun untuk menutup pintu gerbang yang menghubungkan Cisaladah dengan Unpad, tepatnya gerbang yang berada di seberang Fakultas Ilmu Budaya. Namun, upaya penutupan itu menuai protes dari kalangan mahasiswa yang indekos di sekitar Cisaladah. “Mahasiswanya yang marah sampai gemboknya digergaji, dan itu terjadi di setiap tahun,” kata Edward.

   Masalah lainnya yaitu ojek pangkalan. Menurut Edward, jika semua mahasiswa setuju untuk mengeluarkan ojek, dalam waktu seminggu kampus akan bersih dari orang luar. “Mahasiswa kalau semuanya sepakat gak naik ojek, aman kampus ini. Ojek itu mengundang segala jenis manusia bisa masuk. Pasar terbesarnya siapa? Mahasiswa,” tambahnya.

   Edward juga mengatakan, status keberadaan semua ojek yang mangkal di Unpad adalah ilegal. “Yang sekarang dipakai untuk lintasan ojek itu bukan lintasan ojek sebetulnya, itu lintasan odong-odong. Kalian harusnya naiknya di situ, supaya tidak banjir di jalanan. Kan sekarang udah di jalanan itu (naik odong-odongnya), trotoar gak cukup, tumpah ke bawah. Rebutan pagi-pagi. Nah harusnya di situ yang sekarang diambil alih ojek.”

Tukang ojek sedang berada di pangkalan ojek, Selasa (6/3/2018). Akses jalan yang mereka gunakan di sana tadinya digunakan untuk jalur odong-odong. (Warta Kema/Lavira Andaridefia)

   Upaya keamanan berupa pengawasan pun telah dilakukan. Edward mengatakan Unpad memiliki CCTV di lima ratus titik, tetapi tidak semua CCTV berfungsi karena siapa pun bisa masuk ke Unpad. “Wajahnya mah tau siapa yang mencuri, tapi siapa dia, kita gak tahu,” katanya.

   Edward melanjutkan, alasan lain Unpad tidak dapat menutup pintu akses sedangkan kampus tetangga, Institut Teknologi Bandung (ITB), dapat menutup akses adalah karena ITB tidak berbatasan dengan desa mana pun. ITB hanya berbatasan dengan kampus-kampus sehingga tidak memerlukan jalan penghubung antar desa.

 

Unpad Kekurangan Petugas Keamanan

Risnandar, seorang petugas keamanan kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor, diwawancarai pada Selasa (6/3/2018) oleh reporter Warta Kema, di kantornya. (Warta Kema/Lavira Andaridefia)

   Risnandar, salah satu petugas keamanan di Unpad menganggap keamanan di Unpad sudah cukup baik. Menurutnya, dari tahun ke tahun pengamanan di Unpad semakin terkoordinasi dan bisa dinilai tidak begitu rawan. Risnandar menjelaskan, petugas kemanan Unpad dikelola oleh dua badan yang berbeda, out sourcing (yayasan) dan organic (pihak kampus). Pembagian sistem keamanan dibagi menjadi tiga pleton yang masing-masingnya terdiri dari empat puluh orang. Dalam satu hari, petugas keamanan bekerja dalam dua shift, masing-masing shift bekerja selama dua belas jam.

   Namun, menurutnya juga, jumlah petugas keamanan dengan luas kampus tidak sebanding. Jika dulu masing-masing pleton terdiri dari enam puluh petugas kemanan, sekarang dikurangi menjadi empat puluh saja. Risnandar mengungkapkan, dukungan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan keamanan seperti senter belum terpenuhi dengan baik sehingga membuat hasil pengamanan belum maksimal.

 

Kata Mahasiswa Tentang Akses Unpad

   Salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad, Hudan Mahfudin M., menganggap terbukanya akses keluar masuk Unpad untuk semua kalangan bukanlah sebuah masalah. “Gak jadi masalah sih, kan Unpad kampus terbuka. Perihal terjadinya kehilangan, ya sudah saatnya aja hilang,” ujar mahasiswa yang juga pernah kehilangan helm di lingkungan kampus itu.

   Kampus tidak boleh tertutup karena tanah Unpad adalah tanah warga Jatinangor juga, menurut Hudan. Meski tanah itu sudah dibeli, tetap saja yang membeli adalah pendatang. Hudan berpendapat, warga Unpad harus melek sosial dan melihat realita masyarakat yang ada. Hal itu bisa didapat dari keterbukaan akses masyarakat terhadap Unpad dan Unpad terhadap masyarakat. “Kalau kampus tertutup juga sebenarnya gak menjamin tidak adanya kehilangan,” tutur Hudan.

   Berbeda dengan Hudan, Aqwam Himami, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad menganggap keamanan di Unpad kurang baik karena Unpad sangat terbuka. “Semua orang bisa masuk sampai warga lokal juga bebas masuk, keamanannya kurang. Sering saya lihat satpam gak ada dan kerjanya nyantai. Tapi gak sepenuhnya salah petugas, kadang kita (mahasiswa) juga kurang mencegah terjadinya kehilangan, seperti parkir di mana saja.”

   “Kita kan gak tahu siapa pelakunya, gak pasti juga orang luar Unpad. Mungkin solusinya adalah meningkatkan kesadaran warga Unpad perihal keamanan barang sendiri dan harus berhati-hati. Sistem keamanan kampus juga harus ditingkatkan,” pungkas Aqwam.

 

Reporter    : Fariha Luthfiani/Hario Danang/Kristin Monika Sinaga/Ulfah Oktarida Sihaloho

Editor         : Rini Ria Agustiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here