Prabu 2018, Mau Digelar di Mana?

0
662

Penerimaan mahasiswa baru Universitas Padjadjaran biasa dikenal Prabu tidak lama lagi akan dilaksanakan. Adanya pengumuman mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SNMPTN membuat suasana tahun ajaran baru mulai terasa. Berbagai persiapan dilakukan khususnya kepanitiaan Prabu sudah dibentuk oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kema Unpad departemen Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (KPSDM).

Tahun sebelumnya, Prabu dilaksanakan di Gor Djati Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Akan tetapi tahun ini, seperti yang diketahui Gor Djati telah direnovasi dan akan digunakan untuk ajang latihan Asian Games 2018. Dilema mahasiswa mulai terdengar ketika informasi penggunaan Gor Djati dibatasi. Lalu, di manakah Prabu akan digelar?

Tim Warta Kema mencoba mewawancarai pihak KPSDM BEM Kema Unpad, Ibrahim Abigail. Setelah dikonfirmasi, mereka menginginkan pelaksanaan Prabu tetap dilaksanakan di Gor Djati. Hanya saja kecil kemungkinan keinginan itu dikabulkan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pihak sarana dan prasarana Universitas Padjadjaran, Irwan menyatakan, Unpad baru bisa menggunakan Gor Djati pada September 2018. Sedangakan Prabu akan dilaksanakan pada Agustus 2018.

“Kita itu membuat plan pelaksanaan Prabu tahun ini di lapangan merah sama parkiran PPBS. Plan kedua Kiara Payung, yang ketiga Granus (Grha Sanusi),” tutur Kepala Departemen KPSDM Ibrahim Abigail yang biasa disapa Abi.

Pihak KPSDM berharap apabila Gor Djati tidak dapat digunakan dan Prabu harus dilaksanakan di lapangan merah, tempat tersebut bisa direnovasi terlebih dahulu agar pelaksanaan Prabu berjalan dengan baik.

“Kita pengennya lapangan merahnya itu dibenerin dulu, kalau mereka emang pengen. Sebenernya Prabu itu bukan kebutuhan mahasiswa doang kan, tapi kebutuhan rektorat,” tutur Abi yang ditanya perihal kondisi lapangan merah.

Sementara itu menurut Ketua Pelaksana Prabu 2018 Ardi Arfikri Arbar dan Wakil Ketua Pelaksana Prabu 2018 Farhan Deo, pihak panitia Prabu tetap menetapkan Gor Djati sebagai pilihan pertama tempat pelaksanaan Prabu 2018, selanjutnya apabila Gor Djati tidak mampu diperjuangkan, maka alternatif utama adalah di lapangan merah dan alternatif berikutnya adalah di Dipati Ukur (DU).

“Tapi tentunya tiga venue ini punya plus minus-nya masing-masing. Misal kita ambil contoh tentunya yang banyak plus-nya adalah di Gor Djati. Kenapa? Karena dari tahun ke tahun di sana dan kita sudah punya ekspertis lapangan, sudah tahu medan segala macam. Kita bisa bilang sedikit belajar dari kesalahan tahun lalu dan memperbaiki kesalahan dari tahun lalu. Kalau kita pindah venue, yang berubah pasti konsepnya, tentu. Pemetaan, medan, semua bakalan berubah, dan kita belum punya assessment dari venue baru ini. Terutama kalau di lapangan merah. Kalau di DU mungkin pernah ada pelaksanaan Prabu yang dilaksanakan di sana,” jelas Ardi.

Kepada Tim Warta Kema, Kamila selaku koordinator divisi acara Prabu 2017 berpendapat,  massa Prabu itu sangat banyak dan pilihan lain untuk tempat pelaksanaan Prabu tidak ada yang sebaik Gor Djati. “Mungkin perlu mobilisasi. Effort-nya harus nambah, capeknya nambah, lebih ribet juga, dan biaya yang mungkin kena banyak biar acaranya efektif,” jelas Kamila.

Keputusan dalam menentukan tempat Prabu lagi-lagi merupakan kesepakatan antara panitia dari mahasiswa dan panitia pihak rektorat. Akan tetapi, keputusan terbesar berada di pihak rektorat. Maka pihak KPSDM berharap konsep yang dibawa panitia dapat diterima dengan baik oleh rektorat.

“Kita seluruh panitia beserta KPSDM berusaha memperjuangkan Gor Djati sampai mati. Sampai habis-habisan. Kita pokoknya tetap pengen di Gor Djati. Kalau perjuangan kita sudah sampai titik penghabisan dan emang gak ada hasilnya, ya kita udah punya backup plan di lapangan merah, yang itu sampai sekarang sudah kita persiapkan. Cuma, tetep kalo kita bilang harapan, venue utama kita tetap di Gor Djati meskipun persentase kemungkinannya kecil,” tutur Ketua Pelaksana Prabu 2018.

Terlepas dari tempat pelaksanaan Prabu 2018 yang masih berupa alternatif pilihan, ketua dan wakil Prabu 2018 berharap Prabu tahun ini bisa lebih megah dari tahun-tahun sebelumnya, lebih bisa menanamkan nilai-nilai keunpadan kepada mahasiswa baru, dan tentunya bisa menciptakan iklim universitas yang lebih. “Karena dari tahun ke tahun Prabu itu terkesan sedikit ceremonial, terlalu plain, tidak menggambarkan Prabu itu megah.”

“Harapannya, Prabu itu gak cuma milik panitia Prabu, bukan cuma milik panitia rektorat. Di sini kita pengennya dari kita sendiri, semua elemen itu terlibat, entah itu masyarakt jatinangor dan efeknya ini bisa berdampak sampai ke Indonesia. Pengennya sih ospek kita lebih dipandang dibandingkan yang lain. Setidaknya ospek kita bisa sejajar bahkan bisa lebih dari universitas lain,” tutur Deo.

 

(Kenraras Vadma/Sita Halimatus Sa’diyah)

Editor: Rini Ria Agustiani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here